Jurnalisme, Luka yang Tak Sembuh di Negeri Sendiri
(Catatan terhadap Pengeroyokan Wartawan di Belitung Timur)
Kadang-kadang, menjadi wartawan itu seperti menjadi petani yang menanam padi di tanah orang, disiram air mata sendiri, tapi yang panen justru serdadu berseragam.
Kadang juga seperti burung kecil yang terbang membawa kebenaran, tapi dianggap hama oleh orang-orang yang merasa nyaman dengan kebohongan.
Tiga orang wartawan dipukul, dikeroyok, dilukai fisiknya di Belitung Timur, di sebuah tambak udang — tempat di mana alam bekerja diam-diam, tapi manusia memutuskan siapa yang boleh melihat dan siapa yang harus diusir.
Saya ingin mengajak Anda semua berhenti sebentar dari rutinitas. Tarik napas dalam-dalam. Lalu tanyakan ini kepada hati nurani Anda:
Kenapa di negeri yang katanya demokrasi, menyampaikan fakta bisa membuat seseorang berdarah-darah?
Tanggal 17 Juli 2025. Tiga wartawan ikut dalam pengecekan tambak udang yang diduga bermasalah. Mereka datang bersama pihak desa dan Dinas Kehutanan. Artinya, bukan sembunyi-sembunyi. Bukan mengendap-ngendap. Mereka datang sebagai bagian dari tata kelola sosial — mewakili kepentingan publik.
Tapi setelah pengecekan, datanglah gelombang kemarahan. Warga, atau mungkin bukan sekadar warga, melampiaskan sesuatu yang entah datang dari mana. Mereka meninju, memukul, menginjak. Wartawan dipukul bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka membawa cahaya — dan banyak orang lebih nyaman tinggal di kegelapan.
Seperti biasa, negara akan datang dengan seragam dan prosedur. Polisi menyelidiki. Beberapa orang ditangkap. Lima jadi tersangka. Kita menyaksikan semua ini sambil mengunyah berita pagi, menyedu kopi, membuka media sosial. Lalu besok kita lupa.
Saya bukan orang suci. Tapi saya pernah menjadi wartawan sejak zaman reformasi belum jadi apa-apa. Pernah tidur di emperan kantor media, makan nasi bungkus sisa liputan, bahkan pernah diancam dan disumpahi hanya karena saya menulis kenyataan. Maka ketika saya mendengar kabar pengeroyokan itu, dada saya sesak. Bukan karena terkejut, tapi karena luka ini sudah lama, dan belum pernah benar-benar sembuh.
Kita hidup di negeri yang sibuk membanggakan undang-undangnya. Ada UU Pers. Ada UUD 1945. Ada pasal-pasal indah yang menjamin kebebasan. Tapi semua itu seperti kitab suci yang dibaca di bibir tapi dilupakan di hati.
Apa arti kemerdekaan pers jika jurnalis tidak bisa bekerja tanpa ketakutan?
Apa makna demokrasi jika orang yang menyuarakan suara rakyat dianggap musuh?
Saya percaya bahwa wartawan bukan malaikat. Kami bisa salah, bisa khilaf, bisa tergoda oleh gemerlap atau gengsi. Tapi jangan salah: wartawan sejati adalah mereka yang meletakkan kebenaran di atas kenyamanan. Yang bersedia dibenci demi mengabarkan sesuatu yang orang lain perlu tahu.
Maka memukul wartawan bukan cuma soal pidana. Itu penghinaan terhadap hak publik untuk tahu. Itu adalah cara paling kejam untuk bilang: “Kami tak mau diawasi. Kami ingin bebas berbuat apa saja. Dan siapa pun yang menghalangi akan kami habisi.”
Di titik ini, kekerasan terhadap wartawan bukan cuma urusan individu. Ia adalah : cermin retak dari masyarakat kita sendiri. Kita sudah lama terbiasa hidup dengan kebohongan — dari laporan proyek, dari pidato pejabat, dari janji kampanye, bahkan dari harga sayur di pasar.
Maka ketika ada orang yang datang membawa kenyataan, refleks pertama kita adalah menolak. Lalu menghina. Lalu… memukul.
Saya menulis ini bukan sekadar untuk mengutuk. Bukan untuk menuduh. Tapi untuk mengingatkan kita semua: Negeri ini tidak akan pernah benar-benar merdeka jika jurnalisme terus dibungkam dengan kekerasan.
Karena dalam dunia yang penuh tipu daya, wartawan adalah lilin kecil di ruang gelap.
Mereka tidak sempurna, tapi mereka mencoba. Mereka berlelah-lelah menulis, merekam, bertanya — agar Anda dan saya bisa mengerti apa yang sedang terjadi.
Kalau lilin itu padam, kita akan berjalan dalam gelap.
Dan dalam gelap, siapa pun bisa mencuri. Bisa menipu. Bisa membunuh.
Dan tak akan ada yang tahu.
Waktu saya masih kecil, ibu saya pernah bilang:
“Nak, jangan pernah takut mengatakan kebenaran. Tapi juga jangan sombong karena merasa paling benar.”
Kalimat itu saya bawa ke ruang redaksi, ke ruang kelas, ke ruang doa.
Maka sebagai wartawan, saya tidak takut. Tapi saya tahu: kebenaran itu suci, dan memperjuangkannya adalah ibadah yang berat.
Mereka yang memukul wartawan itu mungkin merasa menang. Tapi kelak, sejarah akan mengutuk mereka dalam diam.
Karena mereka bukan cuma melukai manusia. Mereka melukai bangsa.
Kepada para pemegang kekuasaan, izinkan saya berkata:
Berhentilah melihat wartawan sebagai pengganggu.
Kami bukan musuh negara. Kami bukan teroris. Kami bukan penghasut.
Kami hanya ingin negara ini berjalan di atas rel kejujuran.
Dan kepada para jurnalis muda, saya ingin berpesan:
Jangan takut. Jangan mundur. Tapi juga jangan gegabah.
Teruslah menulis. Teruslah belajar. Karena kalian adalah mata dan telinga rakyat.
Dan tugas kalian bukan sekadar menyampaikan berita — tapi membangun peradaban di atas fondasi kebenaran.
Jika engkau wartawan, dan engkau merasa sendiri, terluka, lelah…
ingatlah bahwa sejarah selalu berpihak kepada mereka yang setia pada cahaya.
Dan jika engkau pembaca, dan engkau diam saat kebenaran dipukul, maka besok, saat engkau dipukul, tak akan ada yang menulis tentangmu. Dan hingga pesan saya : wartawan : tetaplah jadi warga biasa yang tetap percaya bahwa kebenaran itu suci.
Muaraenim, 20 Juli 20205–di tengah malam yang sunyi. Saya Menatap layar. Menuliskan luka yang tak selesai.




