Silatnas FKUB 2025, Menenun Kerukunan, Menjaga Masa Depan
4 mins read

Silatnas FKUB 2025, Menenun Kerukunan, Menjaga Masa Depan

Silatnas FKUB 2025 jadi ruang belajar lintas iman tentang toleransi, kolaborasi, dan harapan Indonesia Emas

Dewantara.id || Serpong – Di sebuah ruang konferensi di Serpong, Tangerang Selatan, pada awal Agustus yang teduh, tak kurang dari 350 tokoh agama, akademisi, dan pemimpin masyarakat dari seluruh Indonesia duduk dalam satu lingkar diskusi. Mereka datang dari Sabang sampai Merauke, membawa beragam identitas keagamaan dan kebudayaan, tetapi dengan satu niat yang sama: merawat kerukunan.

Forum ini bernama Silaturahmi Nasional (Silatnas) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Lembaga Keagamaan, diselenggarakan oleh Kementerian Agama pada 5–7 Agustus 2025. Namun lebih dari sekadar pertemuan resmi, acara ini menyerupai sebuah ruang kelas besar tempat para murid bangsa belajar dari sejarah, mengulas masa kini, dan merancang masa depan bersama.

Belajar dari Keragaman
Di balik nama besar dan gelar panjang para peserta, ada kisah-kisah sederhana yang justru menjadi bahan ajar terbaik tentang makna kerukunan. Seorang pendeta dari Ambon duduk berdampingan dengan seorang kiai dari Jawa Timur, berbincang tentang pengalaman mereka membangun rumah ibadat bersama, bukan dengan modal besar, tapi dengan kepercayaan dan silaturahmi.

Dari Bima, seorang tokoh Hindu menceritakan bagaimana komunitasnya merangkul pemuda lintas agama untuk bersama-sama merawat pura dan masjid. Cerita-cerita ini, yang mungkin tak pernah sampai ke media arus utama, justru menjadi “buku pelajaran hidup” dalam forum ini.

Tema yang diusung pun tak main-main: “Merawat Kerukunan Umat Menuju Indonesia Emas 2045”. Sebuah kalimat yang menuntut bukan hanya kerja teknokratis, tapi juga kecerdasan emosional dan spiritual dalam menyikapi realitas Indonesia yang kompleks.

Kelas Kolaborasi dan Refleksi
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, membuka forum dengan pesan yang tegas namun lembut: bahwa Silatnas bukan ajang seremoni, melainkan forum refleksi dan kolaborasi.

“Kita ingin para tokoh agama, pemerintah daerah, dan FKUB dari seluruh Indonesia bergerak bersama menjaga harmoni sosial,” ujarnya. “Sebab tanpa kerukunan, sulit membayangkan masa depan Indonesia yang maju dan damai.”

Pernyataan ini menggema kuat di tengah ruang, seperti wejangan seorang guru besar di awal semester. Ia mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 tak cukup dibangun dengan jalan tol dan gedung pencakar langit. Kita juga harus membangun peradaban—yakni budaya hidup berdampingan, saling percaya, dan saling jaga.

Deklarasi Damai sebagai Kontrak Sosial
Forum ini juga melibatkan diskusi mendalam yang menyerupai sidang akademik. Ada sesi brainstorming bersama para pemimpin tertinggi lembaga keagamaan nasional—MUI, PGI, KWI, PHDI, PERMABUDHI, MATAKIN—yang membedah tema “Agama, Kedamaian, dan Harmoni Indonesia.”

Puncaknya adalah pembacaan Deklarasi Damai Nasional, semacam kontrak moral bersama, yang akan menjadi panduan etis bagi para tokoh agama dalam menjaga keberagaman di tanah air. Seperti konstitusi kecil yang tak tertulis dalam undang-undang, tapi hidup di hati masyarakat.

Muhammad Adib Abdushomad, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag yang akrab disapa Gus Adib, menambahkan bahwa forum ini bukan hanya panggung tokoh besar, tapi juga tempat belajar bersama. Empat sidang komisi mengulas isu-isu fundamental, mulai dari:

Inklusivitas Keberagaman,

Peran Pemerintah Daerah dalam Penguatan FKUB,

Kapasitas dan Peran Strategis Lembaga Kerukunan, hingga

Isu Pendirian Rumah Ibadat dan Praktik Keagamaan.

Semua isu itu dikupas dengan pendekatan yang bukan semata administratif, tapi pedagogis—yakni mengajarkan publik bagaimana beragama secara bijak dalam masyarakat yang majemuk.

Pelajaran Besar dari Forum Miniatur Indonesia
Bagi peserta muda dari berbagai daerah, Silatnas ini adalah tempat bertumbuh. Banyak dari mereka belajar untuk pertama kalinya bahwa perbedaan bukan ancaman, tapi ruang perjumpaan. Mereka mencatat, berdiskusi, bahkan membuat sketsa program lintas iman untuk dibawa pulang ke daerah masing-masing.

Para narasumber nasional—seperti Menteri Koordinator PMK, Menko Polhukam, hingga Alissa Wahid—memberikan arah yang memperkaya perspektif. Dari panggung forum, terpantul pesan bahwa pendidikan karakter dan pendidikan kerukunan tak bisa dipisah dari pendidikan agama. Semua harus menyatu dalam kehidupan.

Menjadi Guru untuk Sesama
Dalam suasana forum yang kerap serius tapi akrab itu, terselip pesan tersirat: bahwa setiap peserta adalah guru bagi yang lain. Mereka berbagi pengalaman, menyusun rekomendasi, dan menghidupkan kembali kesadaran bahwa Indonesia bukan hanya kumpulan wilayah, tapi peradaban besar yang dibentuk dari perjumpaan iman dan budaya.

Silatnas FKUB bukan hanya forum tahunan. Ia adalah kelas besar tentang bangsa, tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan di tengah keragaman. Jika pendidikan sejati adalah yang membentuk watak dan perilaku, maka forum ini adalah salah satu laboratorium sosial terbaik yang dimiliki negeri ini.

Karena di sinilah kita belajar: bahwa kerukunan bukan hanya slogan, tapi proses yang harus dirawat, diajarkan, dan diwariskan—hingga Indonesia benar-benar layak disebut sebagai bangsa yang emas.

TEKS : YULI AFRIANI | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *