Gerak Jalan Kerukunan: Belajar Harmoni dari Panggung HUT RI ke-80
3 mins read

Gerak Jalan Kerukunan: Belajar Harmoni dari Panggung HUT RI ke-80

DEWANTARA.id || JAKARTA – Pagi itu, Sabtu (16/8/2025), Lapangan Banteng, Jakarta, berubah menjadi kelas terbuka yang penuh warna. Ribuan orang dari berbagai latar belakang agama dan usia berjalan beriringan dalam Jalan Sehat Kerukunan. Suasana ini seolah menjadi buku pelajaran hidup: tentang persaudaraan, tentang menghargai perbedaan, dan tentang bagaimana sebuah bangsa bisa tumbuh kuat jika warganya mampu berjalan bersama.

Kegiatan yang digagas Kementerian Agama ini digelar untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan tema “Kerukunan Umat Beragama untuk Indonesia Emas 2045.”

Nilai Luhur dari Lapangan Banteng

Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka kegiatan dengan pesan sederhana namun sarat makna. “Indonesia adalah lukisan Tuhan yang indah dan harus dijaga melalui kerukunan. Kita bersyukur atas kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu. Hari ini, kita melanjutkan perjuangan itu dengan merawat kerukunan,” katanya.

Dalam konteks pendidikan, pesan ini mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya diingat melalui buku teks. Ia hidup di tengah masyarakat—dalam kebersamaan, dalam sikap saling menghormati, dalam langkah-langkah sederhana seperti jalan sehat yang penuh persaudaraan.

Hadir pula Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Diktisaintek Stella Christie, serta jajaran Eselon I dan II Kemenag. Kehadiran mereka menjadi teladan, bahwa nilai kerukunan adalah kurikulum bersama yang perlu dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan.

Perbedaan yang Mendidik

Lapangan Banteng pagi itu menjadi ruang belajar multikultural. Barisan peserta datang dari berbagai lembaga keagamaan: Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Budha Indonesia (Permabudhi), hingga Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).

Di antara mereka juga hadir mahasiswa dari organisasi lintas iman: PMII, GMKI, PMKRI, KMHDI, HIKMAHBUDHI, hingga PAKIN. Kehadiran pemuda lintas agama ini ibarat lembar baru dari buku sejarah Indonesia—mereka belajar sejak dini bahwa kerukunan adalah investasi masa depan.

Simbol Edukasi Perdamaian

Acara dibuka dengan pelepasan burung merpati putih. Bagi banyak peserta, simbol ini bukan sekadar seremonial. Ia adalah pengingat bahwa perdamaian harus terus terbang tinggi, dijaga, dan dirawat. Sama seperti ilmu, perdamaian tidak bisa diwariskan begitu saja. Ia perlu ditanamkan, diajarkan, dan dipraktikkan setiap hari.

Langkah kaki ribuan peserta yang menyusuri rute jalan sehat di sekitar Lapangan Banteng menjadi pelajaran berharga. Bahwa harmoni tidak lahir dari teori, melainkan dari keberanian untuk berjalan bersama dalam keberagaman.

Refleksi untuk Dunia Pendidikan

Gerak Jalan Kerukunan ini memberi pesan penting bagi dunia pendidikan: sekolah, kampus, dan ruang belajar lainnya tidak cukup hanya mendidik kecerdasan intelektual. Mereka juga harus menjadi ruang untuk menanamkan kecerdasan sosial dan spiritual.

Di tengah tantangan intoleransi dan perbedaan yang kerap disalahpahami, kegiatan seperti ini adalah bahan ajar nyata. Ia mengingatkan generasi muda bahwa menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar teknologi dan pengetahuan. Ia butuh hati yang rukun, pikiran yang terbuka, dan semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa.

TEKS : BAGUS SANTOSA (KONTRIBUTOR JAKARTA) | EDITOR : AHMAD MAULANA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *