Ketika 80 Wartawan Menanam Mangrove di Sungsang
Bus pariwisata berwarna biru itu berhenti di halaman Gedung Bank Sumsel Babel, Palembang, tepat pukul enam pagi. Di lantai lima gedung itu, belasan wartawan sudah berkumpul. Sebagian masih menyeruput kopi, sebagian lagi sibuk mengetik pesan di telepon genggam.
Mereka datang dari berbagai media: dari surat kabar lokal di Lubuklinggau, radio di Prabumulih, hingga televisi nasional di Jakarta. Hari itu, sebanyak 80 wartawan akan berangkat ke Desa Sungsang IV, Banyuasin, mengikuti Field Trip Forum Jurnalis Migas (FJM) 2025.
Tujuannya: menanam mangrove bersama SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Jalan ke Muara
Perjalanan ke Sungsang selalu menyisakan rasa getir. Jalan aspal yang rusak di beberapa titik, perahu-perahu kayu yang berderet di tepi sungai, rumah-rumah panggung nelayan yang berdiri rapuh di atas air keruh. Dari jendela bus, wartawan bisa melihat wajah-wajah nelayan yang menggantungkan hidup dari sungai dan laut.
Di ujung perjalanan itu, para jurnalis yang sehari-hari menulis berita politik, kriminal, atau ekonomi, kini harus menancapkan batang mangrove di lumpur. Sesuatu yang asing, bahkan mungkin ironis. Mereka yang biasanya menanam kata-kata, hari itu menanam pohon.
Silaturahmi dan PR
Ketua FJM, Ocktap Riady, menyebut field trip ini sebagai ajang silaturahmi. Ia bicara soal pentingnya menjembatani komunikasi antara industri migas dan pers, soal kerja sama program, soal hubungan baik. Di sisi lain, inilah wajah hubungan yang ganjil: wartawan yang seharusnya kritis justru diajak dalam acara yang disusun industri yang mereka liput.
Seorang jurnalis muda, duduk di bangku bus, berbisik lirih kepada rekannya, “Kalau sudah ikut acara mereka, besok kita masih bisa nulis kritis nggak?” Pertanyaan sederhana itu menggema, seakan tak ada yang bisa menjawab.
Lumpur dan Tawa
Di Desa Sungsang IV, lumpur menyambut mereka lebih dulu. Sepatu kulit wartawan yang biasa dipakai di konferensi pers kini terbenam. Tawa pecah ketika seorang kameramen hampir jatuh karena kakinya tak bisa ditarik dari tanah. Bibit mangrove, setinggi satu meter, ditancapkan satu per satu.
Tak ada yang bisa menolak keindahan momen itu. Tapi juga tak ada yang bisa menutup mata dari paradoksnya. Migas adalah industri dengan jejak karbon besar. Menanam ratusan mangrove tak akan menutup lubang-lubang yang mereka bor di bumi.
Namun, setidaknya, ada yang tumbuh di Sungsang. Setiap batang mangrove yang ditanam menjadi harapan nelayan. Bagi kepiting yang mencari akar, bagi ikan yang berlindung di sela batang, bagi garis pantai yang makin tergerus abrasi.
Nama-nama
Daftar wartawan peserta panjangnya dua halaman. Nama-nama itu seperti mosaik pers Sumatera Selatan. Di sana ada media tua, media baru, media daring yang hidup dari klik, media televisi yang hidup dari rating.
Mereka semua datang, ikut menanam, ikut berfoto. Nama mereka tercatat dalam daftar resmi, seolah ikut memberi legitimasi pada acara itu.

Menulis Setelah Menanam
Sore hari, bus kembali meninggalkan Sungsang. Sepatu kotor, baju bernoda lumpur. Tapi yang lebih penting: kepala penuh tanda tanya. Wartawan membawa pulang bukan hanya foto-foto dan rilis resmi, tapi juga refleksi. Tentang hubungan media dan industri. Tentang ekologi pesisir yang rapuh. Tentang nelayan yang jarang masuk headline.
Mungkin sebagian akan menulis berita normatif, seperti yang diharapkan penyelenggara: “80 wartawan tanam mangrove di Sungsang.” Tetapi mungkin ada satu atau dua yang akan menulis lebih jauh. Tentang abrasi yang menggerus rumah nelayan. Tentang anak-anak yang bermain di air asin. Tentang ironi: bahwa acara menanam mangrove diadakan oleh industri yang jadi bagian dari krisis iklim.
Di situlah sebenarnya nilai jurnalisme diuji: apakah sekadar hadir sebagai tamu, atau berani menulis kebenaran yang lebih dalam.
TEKS : YULIA AFRIANI | EDITOR : IMRON SUPRIYADI


