Kulit Singkong Jadi Guru Baru: Dari Limbah Menjadi Alat Belajar Mitigasi Kebakaran
Di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumsel–singkong bukan hanya bahan pangan. Ia juga menjadi media belajar, sumber inovasi, bahkan guru baru bagi masyarakat.
Musi Banyuasin || DEWANTARA.id – Selama ini, kulit singkong selalu dipandang sebelah mata. Hanya limbah yang menumpuk di sudut-sudut kebun. Namun berkat sinergi Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang bersama Fakultas Pertanian Universitas Jambi, kulit singkong menemukan wajah barunya: alat pemadam kebakaran (APAR), (16/08/2025)
Bukan sekadar inovasi, tetapi sebuah proses pendidikan sosial yang mengajarkan masyarakat bagaimana ilmu pengetahuan bisa lahir dari hal-hal sederhana.
Kelas Baru di Dusun Selaro
Pelatihan yang digelar di Rumah Produksi KWT Embun Pagi (16/08) lalu bukanlah pelatihan biasa. Bukan teori di ruang kelas, melainkan praktik langsung yang membuat warga—mulai dari petani, penyuluh pertanian, hingga ibu-ibu KWT—belajar bersama.
Mereka diajak memahami bagaimana kulit singkong yang kaya potasium sitrat bisa berubah fungsi menjadi bola pemadam api. Tahap demi tahap dijelaskan: dari pengolahan kulit singkong menjadi tepung, pemadatan menjadi bola, hingga cara penggunaannya ketika kebakaran terjadi.
“Rasanya seperti kembali sekolah lagi, tapi di kebun sendiri. Bedanya, guru kami adalah pengalaman pahit saat kebakaran dulu,” tutur Elisa, anggota KWT Embun Pagi.
Dari Trauma Jadi Kurikulum Kehidupan
Tahun 2023, kebakaran seluas satu hektar kebun sawit membakar Dusun Selaro. Api yang tak terkendali menjadi pengalaman pahit, namun juga membuka pintu kesadaran: bahwa masyarakat perlu ilmu baru untuk bertahan.
Dr. Mursalin, dosen Fakultas Pertanian Universitas Jambi, melihatnya sebagai momentum pendidikan. “Kami ingin masyarakat belajar bahwa pengetahuan tidak melulu ada di kampus. Lingkungan adalah laboratorium terbaik,” ujarnya.
Inilah pendidikan yang hidup: pengalaman, refleksi, riset, lalu inovasi.
Pendidikan Agrobisnis Berkelanjutan
Bagi PHE Jambi Merang, inovasi kulit singkong adalah cara membumikan pendidikan keberlanjutan. Manager Community Involvement & Development, Iwan Ridwan Faizal, menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya soal teknologi pemadam api, tetapi juga tentang membangun budaya keselamatan dan mitigasi sejak dini.
“Ilmu ini mungkin sederhana, tapi dampaknya besar. Masyarakat belajar untuk tidak lagi pasrah menghadapi bencana, melainkan punya bekal nyata untuk menghadapinya,” katanya.
Belajar dari Singkong
Singkong memberi dua pelajaran sekaligus. Dari umbinya, masyarakat bisa mengolah makanan dan menghasilkan nilai ekonomi. Dari kulitnya, masyarakat belajar mitigasi bencana, menjaga lingkungan, sekaligus menemukan bahwa limbah pun punya nilai edukatif.
“Dulu kulit singkong hanya sampah. Sekarang jadi bahan belajar yang menyelamatkan,” ujar Elisa.
Pendidikan yang Membumi
Inovasi kulit singkong ini membuktikan bahwa pendidikan tak selalu harus di kelas, dengan papan tulis dan kapur. Ia bisa hadir di kebun singkong, di rumah produksi sederhana, atau di tengah warga yang sedang belajar membuat bola APAR.
Ia adalah pendidikan transformatif: mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah, mengasah keterampilan baru, dan menanamkan kesadaran menjaga lingkungan.
Dari Dusun untuk Dunia Pendidikan
Dusun Selaro kini tak hanya dikenal sebagai penghasil singkong, tapi juga sebagai ruang belajar inovasi berbasis masyarakat. Dengan pendampingan berkelanjutan dari Universitas Jambi dan PHE Jambi Merang, inovasi ini diharapkan berkembang lebih luas, bahkan menjadi model pembelajaran bagi desa-desa lain.
Singkong yang sederhana kini mengajarkan banyak hal: bahwa setiap masalah bisa menjadi bahan ajar, setiap pengalaman pahit bisa menjadi kurikulum kehidupan, dan setiap limbah bisa menjadi guru yang memberi inspirasi.
TEKS : REELASE/YULIE AFRIANI | EDITOR : IMRON SUPRIYADI


