Seminar Inspirasi Haji: Belajar dari Pertanyaan Abadi dan Jawaban Nabi Ibrahim
5 mins read

Seminar Inspirasi Haji: Belajar dari Pertanyaan Abadi dan Jawaban Nabi Ibrahim

Muara Enim, 6 September 2025 – Gedung PDKT Muara Enim pagi itu menjadi ruang pembelajaran, bukan hanya tentang tata cara berhaji, tetapi tentang makna terdalam perjalanan spiritual seorang muslim. Lebih dari 50 undangan hadir dalam Seminar Inspirasi Haji yang diselenggarakan AMITRA (FIFGROUP) bersama Bank Muamalat Cabang Muara Enim.

Hadir di tengah peserta sejumlah tokoh: Kepala Cabang FIFGROUP Aron P. Hutalung, perwakilan Bank Muamalat Ayu Lidia, Kasi Haji Kemenag Muara Enim Ustadz H. M. Amin, Lc, serta KH. Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom, pendiri Pesantren Laa Roiba Muara Enim yang menjadi penceramah utama. Juga hadir Radian Kurniawan dari AMITRA yang memberikan penjelasan teknis tentang solusi pembiayaan haji syariah.

FOTO : KH Taufik Hidayat, S. Ag, M.I, Kom, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba, dalam Seminar Inspirasi Haji, PDKT Muaraenim, Sabtu, 6 September 2025 (Sumber : AMITRA)

Namun, acara ini bukan sekadar forum informasi. Ia menjadi kelas besar tentang pendidikan hati, di mana jamaah diajak merenung, bertanya, dan menjawab pertanyaan mendasar: ke manakah sebenarnya arah hidup kita?

Pertanyaan yang Mengguncang: Fa Aina Tadzhabûn?

KH. Taufik tidak membuka ceramahnya dengan uraian syarat dan rukun haji. “Itu bisa diperoleh nanti dalam manasik,” katanya. Sebaliknya, ia memulai dengan satu ayat Al-Qur’an yang menuntut renungan:

“Fa Aina Tadzhabûn?” – Maka ke manakah kalian akan pergi? (QS. At-Takwir: 26).

Pertanyaan itu, menurutnya, adalah bagian dari pendidikan spiritual: ujian kesadaran tentang arah hidup manusia. Apakah kita berjalan menuju Allah atau justru sibuk dengan urusan dunia yang fana?

KH. Taufik mengutip firman Allah dalam QS. Al-A’raaf ayat 34 tentang kepastian ajal:

“Setiap umat mempunyai batas waktu; apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun, dan tidak dapat pula memajukannya.”

Pendidikan dari Teladan Nabi Ibrahim

Dalam perspektif KH. Taufik, jawaban terbaik terhadap pertanyaan Fa Aina Tadzhabûn diberikan oleh Nabi Ibrahim. Dalam QS. Ash-Shaffat ayat 99 disebutkan:

“Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

“Ini adalah pendidikan tauhid yang paling murni,” ujar KH. Taufik. Nabi Ibrahim menanamkan pelajaran bahwa tujuan hidup seorang mukmin hanyalah Allah. Tidak ada alasan menunda, tidak ada tawar-menawar.

Foto Bersama Usai menggelar Seminar Inspirasi Haji, Sabtu 6 September 2025 di Gedung PDKT Muaraenim (Sumber : AMITRA)

Bagi KH. Taufik, ibadah haji adalah implementasi pendidikan spiritual itu. Ia melatih seorang muslim untuk meninggalkan dunia sejenak, menanggalkan atribut sosial, dan berangkat menuju Allah, sebagaimana Ibrahim menanggalkan dunia demi Rabbnya.

Empat Golongan dalam Pendidikan Haji

Untuk memudahkan jamaah memahami realitas umat, KH. Taufik membagi masyarakat ke dalam empat golongan dalam urusan haji:

  1. Galak dan Pacak – Mau dan mampu. Golongan ideal.
  2. Pacak tapi Dak Galak – Mampu tapi tidak mau, selalu menunda.
  3. Galak tapi Ndak Pacak – Mau tapi belum bisa, terhambat biaya.
  4. Ndak Galak dan Ndak Pacak – Tidak mau dan tidak bisa.

“Mayoritas umat berada pada golongan ketiga: punya niat tapi belum punya kemampuan,” jelasnya. “Inilah tantangan pendidikan umat Islam hari ini: bagaimana mengubah niat menjadi langkah nyata.”

AMITRA: Fasilitas sebagai Media Pendidikan

Di sinilah KH. Taufik menyinggung peran fasilitas keuangan syariah seperti AMITRA. “Kalau dulu ada alasan ‘ndak pacak’, sekarang sudah ada jalan. Allah membuka pintu melalui fasilitas yang diawasi OJK dan berlandaskan fatwa MUI. Maka tidak ada alasan lagi untuk menunda,” tegasnya.

Radian Kurniawan, Marketing AMITRA Muara Enim, menjelaskan lebih lanjut bahwa AMITRA telah mendapat legitimasi syariah dan legalitas negara. Jamaah cukup menyiapkan sebagian dana, sementara kekurangannya ditopang AMITRA. Setelah porsi haji keluar, sisanya dapat dicicil sesuai akad syariah.

Penjelasan ini bukan sekadar informasi finansial, melainkan pendidikan praktis tentang bagaimana umat bisa mengelola niat, finansial, dan keimanan menjadi satu langkah menuju Baitullah.

Kepastian Porsi: Pendidikan tentang Tawakal

Ustadz M. Amin, Lc dari Kemenag Muara Enim, memberikan penjelasan yang menenteramkan: “Siapa pun yang sudah mendapat porsi haji, pasti berangkat. Jangan khawatir jika jadwalnya lama. Ada yang wafat, ada yang mundur, sehingga antrean bisa maju. Yang penting, niat jangan ditunda. Karena niat sudah dicatat Allah.”

FOTO : H M Amin. Lc, Kasi Haji Kemenag Muaraenim, dalam Seminar Inspirasi Haji, PDKT Muaraenim, Sabtu, 6 September 2025 (Sumber : AMITRA)

Bagi jamaah, penjelasan ini adalah pendidikan tentang tawakal. Bahwa kepastian bukan milik manusia, melainkan hak prerogatif Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar dan menjaga niat.

Haji sebagai Pendidikan Seumur Hidup

KH. Taufik menutup ceramahnya dengan refleksi mendidik: “Hidup ini perjalanan singkat, dan titik akhirnya adalah kematian. Jangan sampai ketika maut menjemput, kita menjawab Allah dengan janji-janji yang tertunda. Jawablah dengan berhaji. Itulah pendidikan sejati seorang hamba.”

Seminar Inspirasi Haji di Muara Enim hari itu bukan hanya forum sosialisasi, melainkan ruang pendidikan Islam. Ia mengajarkan jamaah bahwa haji bukan semata perjalanan fisik, tetapi kurikulum spiritual untuk mendidik hati, menumbuhkan tawakal, dan mengasah kesadaran tentang arah hidup.

Dengan kolaborasi ulama, lembaga keuangan syariah, dan pemerintah, seminar ini meninggalkan pesan mendalam: bahwa pendidikan Islam sejati bukan hanya di kelas dan kitab, tetapi juga di panggilan haji — perjalanan agung menuju Allah.

TEKS : IMRON SUPRIYADI | EDITOR : WARMAN P | FOTO : AMITRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *