Yosep Suterisno: Dari Langgar ke Panggung Sriwijaya
Menyalakan Api Teater dari Sekolah hingga Panggung Kebudayaan Sumatera Selatan

Di tengah denyut Kota Palembang yang kian modern, seorang lelaki masih setia menulis naskah teater di ruang tamu rumah sederhananya di Talang Aman. Ia adalah Yosep Suterisno, sosok yang dikenal luas di kalangan pegiat seni pendidikan Sumatera Selatan. Di usianya yang melampaui setengah abad, semangatnya justru menyala seperti remaja yang baru jatuh cinta pada panggung.
“Teater bukan sekadar akting,” ujarnya tenang, “tapi tentang memahami hidup dan manusia.”
Langgar Kecil, Api yang Menyala
Perjalanan Yosep dimulai dari sebuah langgar kecil bernama Al-Amin di Pelita Sari, Muara Enim. Di tempat itulah ia belajar membaca Al-Qur’an, sekaligus mengenal ekspresi, suara, dan gerak—benih awal seni peran. Dari langgar sederhana itu, lahirlah kesadaran bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi media dakwah dan pendidikan jiwa.
Saat duduk di kelas IV SD, Yosep bertemu dengan Zulfarshah, seniman serbabisa alumnus Jakarta, menjadi titik balik hidupnya.

Melalui tangan dingin sang mentor, Yosep tampil dalam drama perdananya Kisah Cinta Awal dan Mirah. Ia gugup, tapi di situlah ia menemukan bahwa teater adalah ruang belajar paling jujur tentang diri manusia.
Belajar Disiplin di Sanggar Serasan
Di masa SLTA, siswa SMEAN I Muara Enim itu aktif di Sanggar Serasan asuhan Ida Nang Ali Sholihin dan Rasyid, murid maestro tari Bagong Kusudiarjo. Dari mereka, Yosep belajar tentang disiplin, ketepatan gerak, dan kedalaman rasa. “Teater itu detail,” katanya, “setiap gestur adalah bahasa.”
Semangat itu pula yang membentuk karakternya hingga kini: rendah hati, pekerja keras, dan memandang seni sebagai sarana pembentukan karakter.
Menemukan Diri di Palembang
Memasuki masa kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang, dunia teater kembali memanggilnya. Ia bergabung dengan Teater Leksi Palembang asuhan Yan Romain Hamid, di mana Yosep bukan hanya berakting, tetapi juga mulai menulis dan menyutradarai.
Karyanya Puyang Begale Sakti menjadi tonggak penting. Pertunjukan ini bukan hanya sukses di panggung, tapi juga diadaptasi menjadi sinetron daerah, membuka jalan Yosep ke layar TVRI Sumatera Selatan.
Ia tampil dalam berbagai produksi, dari Operasi Ular Sanca, Menguak Takdir, Serasan, hingga Suratan Tak Sampai, beradu akting dengan aktor nasional seperti Sandi Nayoan dan Wieke Widiati.
Teater Sekolah: Laboratorium Kehidupan
Namun, puncak dedikasinya bukan di layar kaca, melainkan di sekolah-sekolah. Sejak awal 2020-an, Yosep menekuni dunia pembinaan teater pelajar—melatih kelompok teater di SMAN 1 Indralaya, MAN 3 Palembang, SMK Penerbangan Palembang, SMA Aisyiyah 1, hingga Pondok Pesantren Masdarul Iman OKI.

Bersama Imron Supriyadi, ia membina Teater Tubun SMAN 15 Palembang, Teater Kartini SMK Kartini Palembang, dan Teater OSMA Pondok Pesantren Al-Fath Banyuasin. Dari tangan dinginnya, lahir pelakon-pelakon muda yang memandang teater sebagai ruang pembelajaran kehidupan.
“Anak-anak belajar berani, jujur, dan bekerja sama di panggung,” katanya, “itulah nilai sejati pendidikan teater.”
Fortass dan Gelombang Baru Seni Sekolah
Tahun 2022 menjadi babak baru. Yosep bersama rekan-rekan seniman seperti Erwin Janim, Yussudarson Sonov, dan Imron Supriyadi menggagas Forum Teater Sekolah Sumatera Selatan (FORTASS). Forum ini menjadi wadah kolaborasi, pelatihan, serta jembatan antara sekolah dan lembaga kebudayaan.
FORTASS melahirkan berbagai kegiatan: Festival Teater Sekolah Sumsel, Pelatihan Guru Seni, hingga Anugerah Seni Teater Sekolah se-Sumsel. Bersinergi dengan TVRI Sumsel, forum ini berhasil membawa semangat teater ke ruang publik yang lebih luas.
Panggung Sriwijaya dan Produksi Besar
Dalam beberapa tahun terakhir, Yosep juga dipercaya menata Opening Festival Sriwijaya—pertunjukan kolosal yang melibatkan ratusan seniman muda. Di tangan Yosep, teater tradisi berpadu dengan bentuk modern, menjadikan panggung Sriwijaya bukan sekadar tontonan, tapi perayaan identitas budaya.
Ia mendirikan Pandawa Production dan Teater Mahameru, wadah eksplorasi baru bagi pelajar dan mahasiswa. “Anak-anak punya energi besar,” ujarnya, “tinggal diarahkan agar punya nilai dan karakter.”
Seni sebagai Pendidikan Jiwa
Kini, Yosep dikenal bukan hanya sebagai sutradara dan aktor, tapi juga pendidik seni yang menanamkan nilai karakter melalui teater. Ia kerap diundang sebagai juri, pembicara seminar, dan mentor pelatihan kebudayaan di tingkat provinsi.
Lewat blog fortassumsel.wordpress.com, Yosep mendokumentasikan perjalanan teater sekolah di Sumatera Selatan—membangun arsip hidup tentang gerakan seni pendidikan di Bumi Sriwijaya.
Dari langgar Al-Amin hingga panggung megah Museum SMB II, perjalanan Yosep Suterisno adalah bukti bahwa seni dan pendidikan dapat menyatu dalam napas yang sama: membangun manusia yang utuh—cerdas, berkarakter, dan berbudaya.
“Kalau seni berhenti di tepuk tangan,” tutupnya, “teater akan mati. Tapi kalau seni menjadi cara kita memahami manusia, maka panggung ini akan hidup selamanya.”
TEKS : AHMAD MAULANA | EDITOR : T PAMUNGKAS | FOTO : DOK. FORTASS


