Syarofal Anam dan Hadroh: Laboratorium Karakter Santri, Ini Pesan Gus Amu
3 mins read

Syarofal Anam dan Hadroh: Laboratorium Karakter Santri, Ini Pesan Gus Amu

Hari Santri Nasional 2025 di Muara Enim sebagai Media Pendidikan Pesantren

MUARAENIM | DEWANTARA.id – Minggu pagi, 19 Oktober 2025, Lapangan belakang Masjid Agung Muara Enim dipenuhi ribuan santri dan generasi muda. Suasana penuh semangat itu tidak hanya menandai perayaan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11, tetapi juga menjadi laboratorium pendidikan karakter melalui seni tradisional Islam.

Di panggung utama, Ketua PCNU Kabupaten Muara Enim, H. Ahmad Mujtaba, S.E., S.Th.I, atau akrab disapa Gus Amu, membuka lomba Syarofal Anam dan Hadroh dengan kata sambutan yang sarat pesan pendidikan. Menurutnya, lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan media pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai disiplin, kerja sama, kesabaran, dan tanggung jawab.

“Melalui lomba ini, santri belajar lebih dari sekadar menampilkan kemampuan seni. Mereka belajar hidup, bekerja sama, dan menghargai warisan budaya Islam,” ujar Gus Amu, putra KH Dainawi Gerentam Bumi, Pimpinan Pondok Pesantren Al Haromain Semendo.

Ketua PCNU Muaraenim, H. Ahmad Mujtaba, S.E., S.Th.I, memberi sambutan dalam Pembukaan Lomba

Dalam konteks pendidikan, Syarofal Anam dan Hadroh menjadi praktik nyata dari pendidikan karakter yang selama ini menjadi tantangan dunia formal. Di bangku sekolah, teori tentang disiplin dan tanggung jawab mungkin diajarkan secara abstrak. Di lapangan lomba inilah nilai-nilai itu diwujudkan dalam latihan, latihan berulang, dan kolaborasi tim.

Seni Tradisional sebagai Media Pembelajaran

Gus Amu menekankan, kedua seni ini memiliki nilai lokalitas yang kuat. Mereka menghubungkan santri dengan akar keagamaan dan kearifan lokal, sekaligus menjadi identitas budaya pesantren. “Dengan lomba ini, tradisi pesantren dilestarikan, dan generasi muda belajar menghargai warisan budaya Islam,” tambahnya.

Di tengah arus budaya populer, Hadroh dan Syarofal Anam tetap relevan sebagai media pembelajaran moral dan spiritual. Generasi muda diberi ruang untuk memahami bahwa seni Islam bukan sekadar hiburan, tetapi sarana edukasi dan dakwah yang menguatkan karakter.

Peran Pemerintah dan Pemberdayaan Seniman

Kehadiran Staf Ahli Bupati Muara Enim, Juli Jumantun Nuri, menegaskan dukungan pemerintah terhadap pelestarian seni dan pendidikan karakter. “Kegiatan ini menunjukkan kepedulian masyarakat dan pesantren terhadap budaya lokal, sekaligus menumbuhkan karakter santri yang religius dan berakhlak mulia,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan lomba juga menjadi wadah pemberdayaan seniman lokal. H. Jumali, S.Ag, seniman senior dan dewan juri, menyoroti pentingnya alokasi dana kesenian daerah. Selama ini, APBD Kabupaten Muara Enim baru mendukung Qasidah Rebana, sementara Syarofal Anam dan Hadroh belum mendapatkan perhatian yang memadai. Aspirasi ini disambut tepuk tangan hangat peserta dan juri lain, menegaskan suara kolektif pelaku seni Islam di daerah.

Lebih dari Sekadar Juara

Saat para peserta menampilkan kemampuan terbaik mereka, jelas terlihat bahwa lomba ini mengajarkan lebih dari sekadar teknik seni. Setiap langkah dan nada Hadroh maupun syair Syarofal Anam adalah latihan kesabaran, kerja sama, dan penghargaan terhadap warisan budaya.

Panggung HSN 2025 di Muara Enim menjadi simbol pendidikan karakter melalui seni. Di sinilah santri belajar memadukan kecerdasan akademik dengan kedalaman spiritual dan moral, menjadikan pendidikan pesantren bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan pribadi utuh.

Teks & Foto : Warmab P | Editor : Imron Supriyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *