Belajar Kepedulian dari Majelis Taklim
3 mins read

Belajar Kepedulian dari Majelis Taklim

Gerakan Peduli Sesama di Kecamatan Ilir Timur Satu

Di sebuah pagi yang hangat di Masjid Jamik Darussalam, Kelurahan 20 Ilir 4, tampak para ibu majelis taklim duduk berkeliling rapi, sebagian menenteng buku catatan kecil, sebagian lain mengusap butiran tasbih di jemari. Pada hari itu, bukan hanya pengajian rutin yang berlangsung. Ada satu gagasan yang sedang lahir dan diperkenalkan kepada masyarakat: Gerakan Peduli Sesama (GPS).

Gerakan ini diprakarsai oleh Kepala KUA Ilir Timur Satu, H. Zulfikar Ali Fajri, bersama dua organisasi perempuan Islam yang telah lama mengakar di masyarakat: ‘Aisyiyah dan Muslimat. GPS bukan program besar dengan anggaran tinggi. Ia dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: jimpitan beras dan pakaian layak pakai yang dikumpulkan dari jamaah untuk kemudian diberikan kepada warga yang membutuhkan.

Dalam sambutannya, Zulfikar menekankan bahwa organisasi perempuan memiliki peran penting dalam pendidikan sosial keluarga.

“Aisyiyah dan Muslimat telah lama menjadi ruang belajar kaum perempuan: tentang kemandirian, organisasi, dan kepedulian. GPS adalah upaya menghidupkan kembali nilai peduli itu melalui tindakan nyata,” tuturnya.

Gerakan seperti ini sesungguhnya merupakan laboratorium pendidikan sosial. Majelis taklim tak lagi hanya menjadi ruang mendengar ceramah, melainkan ruang belajar bersama tentang empati dan kebermanfaatan. Di sinilah pendidikan karakter berlangsung tanpa papan tulis, tanpa ujian, namun tetap meninggalkan jejak mendalam.

Selain mencanangkan GPS, Zulfikar mengusulkan agar materi Sejarah Organisasi Aisyiyah dan Muslimat disampaikan secara rutin kepada jamaah. Baginya, mengenal sejarah bukan hanya mengetahui nama dan tanggal, tetapi memahami perjuangan, arah gerakan, nilai, dan identitas. Organisasi yang kokoh selalu bertumpu pada ingatan kolektif yang kuat.

Ajakan itu disambut positif oleh Dra. Marsuaini (PC ‘Aisyiyah) dan Dewi Kartika Sari, M.Pd. (PAC Muslimat). Mereka sepakat bahwa pendidikan masyarakat tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melalui organisasi yang hidup dan dekat dengan keseharian warga.

Acara hari itu juga menjadi perayaan kecil: dua tahun perjalanan pengajian bersama sejak 26 Oktober 2023. Tumpeng syukuran dipotong sederhana, namun sarat makna. Di balik kesederhanaannya, ada proses yang telah dijalani: membangun kebersamaan, merawat kekompakan, dan menanamkan budaya belajar sepanjang hayat.

Kegiatan pengajian dimulai dengan pemeriksaan kesehatan gratis dari Klinik Pratama Korpri Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel—sebuah penegasan bahwa pendidikan masyarakat tak hanya menyentuh ranah spiritual, tetapi juga kesehatan fisik dan keseimbangan hidup.

Hadir pula unsur kecamatan, pengurus masjid, tokoh masyarakat, hingga perwakilan BSI yang memberikan dukungan dalam bentuk doorprize untuk menghangatkan suasana.

Acara diakhiri dengan do’a oleh Ustadz M. Nor, S.Ag., yang mengingatkan jamaah bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan niat tulus akan menjadi tabungan kebaikan di sisi Allah.

GPS mungkin tampak sederhana. Namun, dalam perspektif pendidikan masyarakat, inilah proses pembentukan karakter sosial—pelan, namun pasti.

Majelis taklim menjadi sekolah kehidupan, para ibu menjadi penggerak perubahan, dan masyarakat belajar bahwa kepedulian tak harus menunggu besar. Ia dimulai dengan sejumput beras, dengan niat untuk berbagi.

Sebuah pelajaran yang tidak diajarkan di kelas, tetapi tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Dan di situlah letak pendidikan sejatinya berakar. ✨

TEKS / FOTO : KUA IT-1/ZAF | EDITOR : AHMAD MAULANA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *