Forum Kemitraan: Belajar Bersama Membangun Layanan Kesehatan di OKI
DEWANTARA.ID || OKI – ruang pertemuan Sekretariat Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi kelas besar. Bukan kelas biasa dengan papan tulis dan meja kursi, melainkan kelas kebijakan publik yang mempertemukan pemerintah daerah, tenaga medis, dan BPJS Kesehatan.
Forum Kemitraan Pengelolaan Kerja Sama Fasilitas Kesehatan itu digelar untuk satu tujuan: meningkatkan mutu layanan kesehatan melalui pembelajaran bersama.
Sekretaris Daerah OKI, Asmar Wijaya, membuka forum dengan sebuah refleksi. “Peningkatan kualitas layanan kesehatan tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus ada kolaborasi konkret antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, BPJS Kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya,” katanya. Kalimat ini terdengar seperti catatan pembuka dalam sebuah kuliah tentang pentingnya kerja sama lintas sektor.
Belajar dari Tantangan
Forum ini segera mengarahkan perhatian pada persoalan riil di lapangan: ketersediaan sumber daya manusia kesehatan yang belum merata, dan sarana prasarana yang masih terbatas. Dicky Permana Putra, Kepala Bagian Penjaminan Manfaat dan Utilisasi BPJS Kesehatan Palembang, mengingatkan bahwa setiap program besar membutuhkan basis data yang kuat.
“Kita butuh pemetaan kebutuhan yang jelas. Data konkret akan membuat pengusulan SDM dan fasilitas tepat sasaran,” ujarnya. Pesan itu serupa dengan prinsip dalam dunia pendidikan: sebelum memberikan solusi, guru harus mengenali kebutuhan muridnya terlebih dahulu.
Forum Sebagai Laboratorium
Majalah pendidikan melihat forum ini bukan sekadar rapat koordinasi, melainkan laboratorium kebijakan. Semua pihak belajar: pemerintah daerah belajar memahami kondisi lapangan dari para tenaga medis; puskesmas belajar menyampaikan persoalan dengan data; BPJS Kesehatan belajar menyesuaikan strategi dengan kebutuhan lokal.
Dinas Kesehatan OKI diberi mandat untuk menyusun dan mengompilasi hasil pemetaan kebutuhan. Dari sini lahir sebuah proses edukasi yang lebih luas: bagaimana membuat perencanaan berbasis data, menyusun prioritas, dan menghubungkannya dengan mekanisme anggaran.
Pendidikan Kolektif
Forum Kemitraan ini juga menjadi ajang pendidikan kolektif. Kepala puskesmas, dokter, bidan desa, hingga pejabat BKPSDM duduk dalam posisi yang setara, belajar untuk mendengar dan menghargai perspektif masing-masing. Inilah yang membuat forum semacam ini penting: ia melatih kapasitas berpikir kolaboratif, mengajarkan bahwa kebijakan publik bukan produk satu pihak, melainkan hasil musyawarah bersama.
Dari Data ke Aksi
Hasil forum menyepakati tiga langkah utama: pemetaan kebutuhan tenaga medis dan sarana prasarana di setiap fasilitas, pengompilasian data oleh Dinas Kesehatan, dan penyampaian ke BKPSDM sebagai dasar perencanaan tahun depan. Langkah-langkah ini sederhana, tetapi sarat nilai edukatif—bahwa perubahan besar berawal dari pencatatan kecil yang sistematis.
Inspirasi dari OKI
Di balik forum ini, ada semangat belajar tanpa henti. Seorang kepala puskesmas di pesisir Sungai Komering berujar, “Kami ingin puskesmas tidak hanya menjadi tempat berobat, tapi juga pusat pembelajaran kesehatan bagi masyarakat.”
Pernyataan itu sejalan dengan semangat Forum Kemitraan: menjadikan setiap fasilitas kesehatan bukan sekadar tempat layanan, melainkan juga ruang edukasi masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.
Dengan demikian, Forum Kemitraan di OKI tidak hanya menghasilkan rencana teknis, tetapi juga memberi inspirasi: bahwa membangun layanan kesehatan adalah proses pendidikan bersama, yang menuntut kerendahan hati untuk belajar, mendengar, dan berkolaborasi.
TEKS : YULIE AFRIANI | EDITOR : IMRON SUPRIYADI


