Menutup Layanan Haji dengan Senyum Jamaah
4 mins read

Menutup Layanan Haji dengan Senyum Jamaah

JAKARTA || DEWANTARA.id — Di sela-sela kesibukan Jakarta yang tak pernah tidur, Kementerian Agama mengumumkan kabar yang membuat banyak hati ikut bergetar: Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) 2025 mencapai 88,46, kategori Sangat Memuaskan. Bukan sekadar angka, ini semacam mozaik rasa syukur, doa, dan kerja keras para petugas haji selama berbulan-bulan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar berdiri tegak di podium, Rabu (10/9/2025), menyampaikan dengan suara yang terdengar teduh: “Alhamdulillah, kita sudah mendengar bersama capaian ini. Di balik setiap poin ada senyum, ada haru, dan ada pengakuan atas kerja keras kita semua.” Kata-kata itu bukan retorika. Di lapangan, para petugas dan jemaah memang telah saling berbagi rasa, saling menguatkan dalam perjalanan ibadah terbesar umat Islam.

14 Tahun Pengabdian

Bagi Kementerian Agama, survei IKJHI kali ini lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ini adalah penutup bab sejarah panjang 14 tahun pengabdian. Setelah ini, peran penyelenggara haji akan beralih kepada Kementerian Haji dan Umrah. Namun Kemenag meninggalkan jejak: angka 88,46 yang akan menjadi pondasi, sekaligus kenangan manis tentang pelayanan yang terus diperbaiki.

Sejak 2010, BPS konsisten menyurvei ribuan jemaah haji. Tahun ini, 14.400 responden terlibat—mulai dari Bandara Madinah, Jeddah, hingga Armuzna. Mereka mengisi kuesioner, diwawancara, dan diamati langsung prosesnya. Sepuluh aspek pelayanan dikaji: mulai transportasi, ibadah, hingga akomodasi tenda.

Hasilnya: tujuh aspek meningkat, termasuk layanan ibadah dengan skor 89,45—angka yang menegaskan bahwa perjalanan haji bukan sekadar ritual fisik, tetapi juga ibadah yang ditopang pelayanan prima.

Menantang dan Mengatasi

Tahun 2025 juga menjadi saksi peralihan sistem: multi syarikah. Model ini memang sempat menimbulkan tantangan di lapangan—hotel yang terpisah, distribusi konsumsi yang berbeda, transportasi Armuzna yang perlu koordinasi lebih ketat. Namun, Indeks Layanan Akomodasi Hotel tetap Sangat Memuaskan, sedangkan konsumsi dan transportasi Armuzna berada di kategori Memuaskan.

Bagi para petugas haji, angka-angka itu adalah hasil dari kerja di balik layar yang penuh ketulusan. Mereka bukan hanya mengatur logistik, tetapi juga memeluk jamaah yang sakit, membantu lansia yang tersesat, hingga menenangkan hati mereka yang gugup.

Apresiasi dari Sang Menteri

Di akhir pidatonya, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka, kepada pimpinan kementerian/lembaga terkait, hingga kepada Pemerintah Arab Saudi. Ia juga memberi penghormatan khusus kepada BPS yang selama 14 tahun telah menjadi mitra penilai layanan haji dengan instrumen kredibel.

Yang paling menyentuh adalah ucapannya kepada para petugas haji: “Dedikasi rekan-rekan petugas adalah kunci keberhasilan penyelenggaraan haji.” Bagi mereka yang pernah berada di lapangan, kalimat ini terasa seperti pengakuan tulus terhadap kerja yang tak selalu terlihat kamera.

Warisan Layanan dan Spirit Jamaah

Feature ini bukan sekadar tentang survei dan angka. Ini tentang warisan spiritual sebuah institusi. Selama 75 tahun Kementerian Agama memegang amanah penyelenggaraan haji, ribuan petugas telah bekerja di bawah terik matahari Arafah, di antara tenda-tenda Mina, atau di sela kepadatan Masjidil Haram.

Kini, ketika tongkat estafet berpindah tangan, semangat itu tetap ada. Para jemaah pulang ke tanah air bukan hanya membawa predikat haji, tetapi juga kenangan tentang pelayanan yang mendukung kekhusyukan ibadah mereka.

Haji, Pelayanan, dan Masa Depan

Di balik kisah sukses ini, tersimpan tantangan yang perlu dijaga: bagaimana memastikan kualitas layanan tetap prima saat pengelolaan berpindah? Bagaimana petugas terus dibina agar memiliki integritas dan empati? Bagaimana inovasi digital dapat membantu jamaah tanpa kehilangan sentuhan manusiawi?

Pertanyaan-pertanyaan itu ibarat doa panjang di tengah perjalanan haji: terus dibaca, terus dijawab, hingga melahirkan sistem pelayanan yang semakin baik.

Terima Kasih dan Mohon Doa

Dalam penutupnya, Menag Nasaruddin Umar berkata lirih: “Terima kasih atas kepercayaan dan kesabaran Bapak/Ibu sekalian. Semoga seluruhnya menjadi haji yang mabrur dan mabruroh. Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, kita akhiri tugas besar ini dengan capaian yang membanggakan. Mohon maaf dan terima kasih.”

Di ruang konferensi itu, kata-kata Menag seperti doa yang melingkupi semua pihak yang terlibat. Dari pejabat hingga relawan, dari jamaah hingga petugas lapangan. Semua merasa menjadi bagian dari perjalanan sejarah.

Redaksi Dewantara.id memotret momentum ini bukan sekadar berita, tetapi sebagai refleksi nilai pengabdian, ketulusan, dan pelayanan umat. Karena pada akhirnya, indeks kepuasan tertinggi bukanlah angka, melainkan ridha Allah atas setiap amal yang kita persembahkan.

TEKS : RELEASE/YULIE | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *