Langkah strategis mencegah kebakaran hutan dan lahan bukan hanya soal teknologi, tapi juga pendidikan lingkungan.
Dewantara.id || Palembang – Langit Sumatera Selatan sedang tidak bersahabat. Musim kemarau mengeringkan udara, menyisakan potensi bencana yang nyaris berulang setiap tahun: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, upaya pencegahan tak tinggal diam. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, bersama berbagai lembaga, menerapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai strategi utama mencegah bencana.
Di balik teknologi OMC, tersembunyi pelajaran penting: bahwa menjaga lingkungan tak bisa hanya bergantung pada mesin, tapi juga pada kesadaran masyarakat dan literasi ekologi sejak dini.
“OMC ini bukan menciptakan hujan dari nol, tetapi mendorong potensi awan agar mau menurunkan hujan,” jelas Siswanto, S.T., M.Si, Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang dalam sebuah dialog interaktif yang bertema “OMC sebagai Langkah Strategis Cegah Karhutla di Musim Kemarau”, Selasa (30/7/2025).
Garam sebanyak satu ton dibawa ke langit oleh pesawat-pesawat kecil. Awan cumulus disasar, dipicu untuk menurunkan hujan. Daerah-daerah yang menjadi target—seperti OKI, Ogan Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin—memang dikenal memiliki lahan gambut luas dan risiko tinggi terbakar. Teknologi ini mengandalkan radar cuaca, data satelit, dan perhitungan kelembaban udara. Namun semua itu akan sia-sia jika masyarakat masih membakar lahan untuk membuka kebun.
“Inilah mengapa pendidikan menjadi kunci,” ujar Sudirman, S.K.M., M.Si, Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Sumsel. “Pendidikan kepada masyarakat, pelajar, bahkan anak-anak, penting untuk mengubah pola pikir.”
Menurut data BPBD Sumsel, 99 persen kebakaran hutan dan lahan terjadi karena ulah manusia—baik disengaja maupun karena kelalaian. Sisanya disebabkan faktor alam. Dengan kata lain, perubahan bisa dilakukan jika masyarakat memahami dampaknya. Di sinilah peran sekolah, pesantren, dan komunitas lokal menjadi sangat penting: membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
Pendidikan mitigasi bencana seharusnya tak hanya masuk dalam buku teks, tetapi hadir dalam kegiatan praktik: simulasi evakuasi, literasi iklim, hingga keterlibatan dalam patroli bersama. Kegiatan seperti itu bisa menjadi cara efektif membangun kebiasaan menjaga alam dan melaporkan tanda-tanda kebakaran sejak dini.
Sudirman menambahkan, selain OMC, pemerintah juga menggalakkan sistem peringatan dini, patroli udara, dan pemanfaatan lahan tidur agar tidak dibakar. “Lahan kosong yang tidak produktif justru rawan dibakar. Tapi kalau dimanfaatkan secara ekonomi—misalnya untuk pertanian atau perikanan—masyarakat akan menjaganya,” katanya.
Di masa depan, OMC mungkin akan terus menjadi pilihan teknologi. Tapi tanpa keterlibatan aktif masyarakat, dan tanpa pendidikan lingkungan yang merata, upaya itu hanya sebatas “menabur garam ke langit”—sementara api tetap menyala di tanah.
Catatan Redaksi:
Karhutla bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu pendidikan. Semakin tinggi literasi lingkungan warga, semakin rendah risiko bencana. Maka tugas pendidik hari ini bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga menyadarkan.

