Revolusi Digital Pendidikan: Dari Istana ke Ruang Kelas
3 mins read

Revolusi Digital Pendidikan: Dari Istana ke Ruang Kelas

DEWANTARA.id || Jakarta – Sebuah layar televisi di ruang kelas. Gambaran sederhana itu terucap dari bibir Presiden Prabowo Subianto ketika berdiri di podium SDN Cimpahpar 5, Bogor, pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2025. Tetapi, dari layar itulah Presiden ingin mengubah wajah pendidikan Indonesia.

“Inilah cara kita mendekatkan guru terbaik kepada anak-anak di pelosok. Kita taruh layar televisi di sekolah, lalu materi berkualitas bisa masuk ke ruang kelas mana pun,” kata Prabowo. Ucapan yang kelak menjelma menjadi Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran.

Dari Ide ke Kementerian

Instruksi itu langsung diterjemahkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), khususnya Ditjen PAUD Dasmen. Targetnya ambisius: 288.865 sekolah akan menerima perangkat digital – mulai dari Interactive Flat Panel (IFP), laptop, hingga media penyimpanan konten.

Dirjen PAUD Dasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pengadaan. “Sekolah-sekolah yang menerima IFP juga kita latih melalui bimbingan teknis, agar tidak berhenti di perangkat, tetapi berkembang menjadi budaya baru dalam belajar,” ujarnya.

Sejak Agustus, pengiriman tahap pertama telah berlangsung. Sebelum perangkat tiba, sekolah penerima diminta memastikan kesiapan listrik, jaringan internet, dan tenaga pengajar.

Jembatan di Tengah Kesenjangan

Di balik program besar ini, ada realitas lama yang ingin dipecahkan: jurang kualitas pendidikan antara kota dan desa. Di banyak sekolah daerah terluar, keterbatasan guru ahli masih menjadi cerita sehari-hari. Murid yang ingin belajar fisika tingkat lanjut atau seni musik klasik kerap tak menemukan pembimbing.

Kini, melalui layar digital, pelajaran dari guru terbaik di Jakarta bisa dipancarkan ke kelas di pedalaman Papua atau Nusa Tenggara. “Inilah wujud pemerataan berbasis teknologi yang selama ini hanya jadi jargon,” kata seorang pejabat Kemendikdasmen.

Tantangan di Balik Mimpi

Namun, di lapangan, harapan selalu berdampingan dengan tantangan. Masalah klasik seperti listrik yang tidak stabil, internet yang lemah, hingga literasi digital guru bisa membuat perangkat canggih hanya menjadi hiasan di ruang guru.

Karena itu, pemerintah menyiapkan rangkaian pelatihan digital classroom. Gogot menambahkan, “Kami juga terus mengonfirmasi kesiapan sekolah penerima, agar program ini tepat sasaran dan benar-benar digunakan.”

Harapan Baru

Bagi seorang guru SD di pelosok Kalimantan, misalnya, IFP bukan sekadar papan interaktif, melainkan jendela dunia. Anak-anak yang sebelumnya hanya membaca buku cetak lusuh kini bisa menonton tayangan eksperimen sains atau mendengar langsung penjelasan seorang ahli bahasa dari kota.

Presiden dan kementerian berharap digitalisasi ini menjadi awal terbentuknya ekosistem pembelajaran baru: inklusif, menyeluruh, dan merata.

“Pada akhirnya, perangkat hanyalah alat. Yang menentukan adalah bagaimana guru dan siswa memanfaatkannya,” kata Gogot.

Antara Ambisi dan Realitas

Revolusi digital pendidikan ini baru berumur hitungan bulan. Tetapi pertanyaan kritis sudah mengemuka: apakah layar-layar itu kelak akan benar-benar membuka jalan bagi kesetaraan belajar? Ataukah ia akan menjadi sekadar cermin ambisi politik yang berhenti di papan pengumuman sekolah?

Yang pasti, sejarah pendidikan Indonesia kini tengah menulis bab baru. Dari istana hingga ruang kelas, dari layar ke jiwa murid, revolusi digital itu sedang diuji.

Sumber : Litbang KabarSriwijaya.NET

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *