Di Balik Tirai Palestina: Ketika Teater Menjadi Kelas Pelajaran Kemanusiaan
4 mins read

Di Balik Tirai Palestina: Ketika Teater Menjadi Kelas Pelajaran Kemanusiaan

Suara kamera dan percakapan lirih memenuhi ruang kecil di Gudskul, Jagakarsa, Ahad siang itu. Di atas meja panjang, para seniman duduk berdampingan: David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, dan Cholidi Asadil Alam.

Mereka bukan sedang membicarakan proyek film baru, melainkan membahas sesuatu yang jauh lebih sederhana—dan pada saat yang sama, lebih besar: bagaimana mengajar empati melalui teater.

Konferensi pers tersebut adalah pintu pembuka menuju Palestine Festival 2025, sebuah ajang yang tak sekadar memamerkan pertunjukan seni, tapi juga menawarkan pelajaran hidup tentang ketahanan, sejarah, dan kemanusiaan. Di balik panggung, ada lembaga Adara Relief International yang menjadi kurator ide besarnya: menjadikan seni sebagai ruang belajar tentang Palestina.

Teater sebagai Buku Pelajaran

“Dua tahun genosida di Gaza membuktikan bahwa Palestina adalah bangsa yang tangguh,” ujar Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International, dengan suara yang tegas namun menyimpan gurat kelelahan. “Bagi kami, festival ini bukan hanya pertunjukan. Ini adalah kelas terbuka.”

Konferensi pers Palestine Festival yang diselenggarakan di Gudskul, Jagakarsa, pada Ahad [30/11] sebagai rangkaian menuju event kemanusiaan akhir tahun 2025. Acara ini memperkenalkan teater bertema keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi genosida. Konferensi pers turut dihadiri para pemain teater: David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, dan Cholidi Asadil Alam.

Palfest tahun ini mengusung tema “Never-Ending Resilience for Humanity.” Sebuah kata yang sering muncul dalam diskusi akademik pendidikan karakter: resilience — ketangguhan.

Melalui teater berjudul “Di Balik Langit Gaza”, para aktor menghidupkan kisah sebuah keluarga yang bertahan di tengah situasi perang. Bukan sekadar adegan dramatis, tetapi fragmen pengalaman nyata, semacam materi pelajaran yang tidak ditemukan di buku, tetapi melekat di ingatan para penontonnya.

Pelajaran Empati dari Panggung

Apa yang bisa dipelajari siswa dari sebuah pementasan?

Bella Fawzi, yang selama konferensi tampak banyak merenung sebelum berbicara, memberi jawaban sederhana: “Kalau kita ingin melihat seberapa baik kualitas manusia, lihatlah ketahanan rakyat Gaza. Lewat teater ini, aku ingin mewakili suara mereka yang dibungkam.”

Di sekolah-sekolah, pendidikan karakter sering dirumuskan dalam modul, lembar evaluasi, dan indikator capaian. Namun, di Palfest, karakter hadir lewat dialog, tatapan, dan jeda napas di antara adegan.

Untuk para pendidik, ini adalah metode pedagogi seni: membangun kesadaran melalui perasaan, bukan sekadar pengetahuan.

Mengangkat Budaya yang Sering Terlupakan

Selain teater, festival ini menyajikan pameran seni budaya Palestina: instalasi tematik, karya visual, dan jejak sejarah ribuan tahun.

“Palestina bukan hanya isu perang,” kata Iffa Abida, Ketua Pelaksana Palestine Festival. “Ia adalah peradaban, budaya, dan ingatan kolektif.”

FOTO BERSAMA usai Konferensi pers Palestine Festival yang diselenggarakan di Gudskul, Jagakarsa, pada Ahad [30/11] sebagai rangkaian menuju event kemanusiaan akhir tahun 2025

Ini adalah bagian penting dari literasi budaya. Di sekolah-sekolah, murid belajar sejarah konflik, mungkin dari buku IPS atau PPKn. Namun di Palfest, mereka belajar melalui artefak rasa dan visual, mengalami langsung konteksnya—bukan sekadar menghafal.

Ruang Belajar yang Menghubungkan Sekolah dengan Dunia Nyata

Palfest menargetkan lebih dari 2.400 peserta: keluarga, mahasiswa, komunitas teater, pelajar SMA, hingga penggiat UMKM. Semuanya akan berkumpul di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 28 Desember mendatang.

Konsepnya sederhana tetapi visioner: Seni sebagai bentuk pendidikan publik.

Di tengah kurikulum berbasis proyek (P5) dalam Kurikulum Merdeka, Palfest menawarkan proyek kemanusiaan yang nyata: mengamati pementasan, mendiskusikan isu HAM, memahami budaya bangsa lain, membangun kepedulian yang berkelanjutan

Pertunjukan seni ini dapat menjadi bahan ajar lintas mata pelajaran: sejarah, bahasa Indonesia (resensi), seni teater, sosiologi, hingga pendidikan agama.

Lebih dari Sekadar Acara — Ini Metode Pembelajaran

“Pentas ini lahir dari kisah nyata,” ucap sang sutradara, Adipatilawe. “Kami mencoba menghadirkan bukan hanya cerita, tetapi makna, rasa yang dialami warga Gaza.”

Dalam dunia pendidikan, itu disebut experiential learning — pembelajaran yang menumbuhkan pemahaman melalui pengalaman emosional. Penonton tidak lagi sekadar mengetahui apa yang terjadi di Gaza, tetapi merasakan apa artinya kehilangan, bertahan, dan berharap.

Pendidikan yang Menyentuh Batin

Ketika konferensi pers berakhir, kamera-kamera dimatikan. Ruangan itu kembali tenang, namun ada sesuatu yang dibawa pulang dari percakapan hari itu: bahwa kemanusiaan bukan teori, dan teater dapat menjadi bukunya.

Palestine Festival bukan sekadar agenda penggalangan dukungan. Ia adalah laboratorium pendidikan karakter yang bekerja melalui seni.

Atau seperti kata salah satu aktornya, Cholidi Asadil Alam: “Karakter yang saya mainkan ini sangat berbeda. Tapi saya rasa, kita bisa banyak belajar dari cara orang Palestina bertahan.”

Di tengah ruang-ruang kelas yang sibuk mengejar nilai dan ujian, mungkin memang inilah saatnya memperkenalkan pelajaran yang tidak ada halaman akhirnya: empati.

TEKS / FOTO : RELEASE/IMRON SUPRIYADI | EDITOR : AHMAD MAULANA

Informasi terkait acara ini lebih lanjut dapat dipantau melalui kanal media instagram Palestine Festival di @palfest.id dan situs resmi tiket.adararelief.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *