Membangun Reputasi, Mengasah Kapasitas: Cara Kemenag Sumsel Menyiapkan “Guru Komunikasi” bagi Lembaga Pendidikan
3 mins read

Membangun Reputasi, Mengasah Kapasitas: Cara Kemenag Sumsel Menyiapkan “Guru Komunikasi” bagi Lembaga Pendidikan

PALEMBANG || DEWANTARA.id – Pagi Rabu (24/09/2025) di Aula Kanwil Kemenag Sumsel terasa seperti ruang kelas besar. Di meja-meja panjang, para kepala madrasah, pimpinan KUA, humas satuan kerja (satker), hingga pejabat struktural Kemenag Sumsel duduk berdampingan.

Di layar besar, peserta lain dari berbagai kabupaten/kota bergabung secara daring. Bukan sekadar rapat, inilah sebuah workshop pendidikan komunikasi publik yang sedang digelar Kantor Wilayah Kemenag Sumsel.

Workshop ini membahas Implementasi Surat Edaran Sekjen Kemenag Nomor 29 Tahun 2025 tentang Penguatan Publikasi Capaian dan Dampak Kinerja Kemenag. Topiknya tampak teknis, tetapi intinya jelas: mengasah kemampuan mengomunikasikan kinerja agar berdampak bagi masyarakat, terutama di sektor pendidikan keagamaan.

Belajar Menjadi “Guru” Komunikasi

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumsel, H. Taufiq—mewakili Kakanwil—membuka kegiatan dengan bahasa sederhana tapi kuat. “Humas adalah ujung tombak penyampai pesan,” ujarnya. “Kita harus terus berinovasi dan beradaptasi agar publikasi kita tidak hanya sampai, namun juga berdampak.”

Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan kanal resmi dan media sosial milik Kemenag. Pesan itu terasa seperti materi kuliah tentang literasi digital dan manajemen komunikasi publik: di era sekarang, lembaga pendidikan keagamaan tidak cukup hanya mengajar dengan baik, tetapi juga harus menceritakan kebaikan yang mereka lakukan kepada masyarakat luas.

Workshop yang Jadi Laboratorium

Tidak hanya mendengarkan, para peserta juga diajak berdiskusi dan mengasah keterampilan. Taufiq menegaskan, “Workshop ini bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi ajang berkolaborasi dan bertukar pikiran.” Ia berharap semangat ini menjadi budaya kerja baru di Kemenag Sumsel: transparan, kreatif, dan siap beradaptasi.

Peserta menyimak dengan serius karena mereka sadar, publikasi kinerja bukan sekadar tugas administratif. Ia adalah bagian dari pendidikan publik—memberi contoh kepada masyarakat tentang keterbukaan, pelayanan prima, dan profesionalisme.

Bahasa Isyarat: Materi Tak Biasa yang Menginspirasi

Hal menarik dari workshop ini adalah hadirnya materi pengenalan bahasa isyarat untuk pelayanan publik, dibawakan Septiananda Rahmadiani S.Pd dari SLB B Karya Ibu Palembang. Ketua Tim Kerja Humas dan Protokol Kanwil Kemenag Sumsel, Abdul Qudus Fitriansyah, menjelaskan bahwa materi ini disiapkan agar layanan Kemenag semakin ramah bagi kelompok rentan.

Sentuhan inklusi ini membuat suasana workshop menjadi lebih kaya: publikasi kinerja tidak hanya soal menyebarkan informasi, tapi juga memberi akses setara kepada semua warga, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus.

Dari Aula Menuju Madrasah dan KUA

Seusai acara, para kepala madrasah, pimpinan KUA, dan humas satker membawa pulang ide baru. Mereka bukan hanya petugas administrasi, tetapi pembelajar seumur hidup yang kini memiliki bekal komunikasi publik. Bagi mereka, ini seperti training guru—hanya saja guru untuk mengajarkan citra positif lembaga kepada masyarakat.

Taufiq menutup arahannya dengan ajakan: “Mari kita buktikan Kemenag Sumsel unggul dalam pelayanan dan juga komunikasi. Jadikan media publikasi kita jembatan yang kuat untuk melayani umat.”

Di tangan para peserta workshop, publikasi kinerja Kemenag Sumsel tidak lagi sekadar angka-angka, melainkan cerita inspiratif yang memberi teladan. Sama seperti pendidikan yang baik, komunikasi publik yang baik akan membentuk karakter, membuka wawasan, dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

TEKS : RELEASE / YULIE | EDITOR : AHMAD MAULANA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *