Santri Sumsel Menapak Panggung Dunia : Menghidupkan Tradisi Kitab di MQK Internasional 2025
3 mins read

Santri Sumsel Menapak Panggung Dunia : Menghidupkan Tradisi Kitab di MQK Internasional 2025

PALEMBANG | DEWANTARA.id – Di tengah riuhnya Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, pada 30 September 2025, wajah-wajah muda bersinar penuh keyakinan, bakal menuju Sulawesi Selatan.

Lima belas santri terbaik Sumatera Selatan bersiap berangkat menuju Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional 2025 yang digelar di Pesantren As’adiyah Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, 1–7 Oktober 2025.

Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat. Ini adalah momentum bagi pendidikan Islam Sumsel menegaskan kiprah: membumikan khazanah kitab klasik ke panggung internasional.

Seleksi Berbasis Kompetensi

Menurut Muhammad Badrut Tamam, Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag Sumsel, ke-15 santri tersebut berasal dari berbagai pondok pesantren di Palembang, Banyuasin, Prabumulih, dan Muaraenim. Mereka terpilih setelah melewati seleksi berbasis Computer Based Test (CBT)—suatu cara yang menunjukkan adaptasi dunia pesantren terhadap teknologi.

“Sebanyak tujuh santri akan tampil pada kategori wustho di cabang nahwu, akhlak, fiqih-ushul fiqih, dan hadist-ilmu hadist. Sementara delapan santri pada kategori ulya tampil di cabang nahwu, tafsir-ilmu tafsir, tarikh, dan tauhid,” jelas Badrut Tamam.

Bersama 11 ofisial dan pembina, para santri ini adalah wajah baru pendidikan Islam Sumsel: solid, sistematis, dan visioner.

Perjalanan Edukatif Menuju Pesantren As’adiyah

Rombongan dijadwalkan terbang pukul 11.20 WIB dari Palembang, transit di Jakarta, kemudian melanjutkan penerbangan ke Makassar. Dari sana, mereka menempuh perjalanan darat sekitar enam jam menuju Sengkang. Sesampainya di Pesantren As’adiyah, para santri putra dan putri akan tinggal bersama peserta lain selama even berlangsung.

“Pembukaan kegiatan dilaksanakan pada 2 Oktober pagi dan ditutup pada 7 Oktober,” kata Badrut Tamam.

Perjalanan panjang ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan mental dan intelektual. Para santri akan menyaksikan langsung bagaimana tradisi kitab kuning dipraktikkan di berbagai negara.

MQK Internasional: Ruang Belajar Global

Kakanwil Kemenag Sumsel Syafitri Irwan menyebut MQK Internasional 2025 sebagai peluang emas. “Ini kesempatan bagi santri kita menimba pengalaman sebanyak mungkin, sekaligus memperluas cakrawala berpikir. Semoga mereka dapat menampilkan performa terbaik dan mengharumkan nama Sumatera Selatan,” ungkapnya.

Dari perspektif pendidikan Islam, MQK Internasional ini adalah ruang belajar global—tempat santri bertemu tradisi, metodologi, dan pemikiran Islam lintas negara. Mereka tak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar langsung dari kultur akademik negara lain.

Menghidupkan Tradisi Kitab Kuning

Musabaqah Qiraatil Kutub lahir dari semangat menjaga tradisi literasi Islam. Kitab kuning adalah jantung pesantren, tempat tertulisnya khazanah ilmu, fikih, akhlak, dan tafsir. Dengan MQK Internasional, tradisi itu dibawa ke level dunia, menegaskan bahwa pesantren tidak tertinggal zaman, melainkan terus relevan sebagai pusat pendidikan Islam klasik dan modern.

Majalah Pendidikan Islam melihat momentum ini sebagai tanda kebangkitan baru: sistem pendidikan Islam berbasis pesantren kian dipercaya, bahkan pada skala internasional.

Pendidikan Islam yang Adaptif dan Visioner

Seleksi dengan CBT, pembinaan intensif, dan dukungan penuh Kanwil Kemenag Sumsel memperlihatkan wajah baru pendidikan Islam: adaptif terhadap teknologi, terbuka pada inovasi, namun tetap memegang teguh akar tradisi. Inilah model pendidikan Islam yang diimpikan: memadukan tradisi kitab dengan pendekatan modern.

Para santri yang berangkat membawa pesan penting: belajar kitab bukan sekadar menghafal teks, tetapi juga memahami konteks dan mengomunikasikannya pada dunia.

Inspirasi bagi Pesantren dan Madrasah

Keberangkatan kontingen Sumsel ini bukan hanya berita bagi masyarakat pesantren, melainkan juga inspirasi bagi madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Ajang ini membuktikan bahwa santri—dengan bekal literasi klasik dan keterampilan modern—mampu bersaing di tingkat global.

Di era disrupsi pendidikan, pesantren Sumsel menampilkan diri sebagai laboratorium pendidikan karakter, intelektualitas, dan spiritualitas.

Dunia pendidikan Islam Sumsel sedang mencatat sejarahnya sendiri. Dengan 15 santri terpilih, Sumatera Selatan memperlihatkan wajah baru pendidikan Islam yang siap mengglobal. Mereka adalah pelajar, duta, dan inspirator bagi generasi berikutnya.

Semoga keberangkatan ini menjadi pintu pembuka bagi banyak program serupa, memperkuat literasi kitab kuning, memperluas jejaring antarnegara, dan membentuk generasi muslim yang berilmu, berkarakter, dan berwawasan dunia.

TEKS / FOTO : HUMAS KEMENAG SUMSEL | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *