Di Pinggir Kota Jakarta, Solidaritas Ramadan Menguatkan Para Pemulung

BUDAYA CEREMONIAL FEATURE MUAMALAH NASIONAL PENDIDIKAN PERISTIWA

Di sebuah gang sederhana di kawasan Kragan, Kecamatan Jatisampurna, Bekasi, puluhan orang berkumpul di halaman kantor Yayasan Humainora pada Jumat pagi, 6 Maret 2026. Sebagian membawa karung lusuh yang biasa mereka gunakan untuk mengangkut barang bekas. Sebagian lain datang bersama anak-anak mereka.

Mereka adalah para pemulung—pekerja informal yang setiap hari menyusuri jalan-jalan kota, memungut plastik, kardus, dan logam bekas dari tempat pembuangan sampah hingga sudut-sudut permukiman. Dari pekerjaan yang nyaris tak terlihat itu, mereka menghidupi keluarga.

Hari itu suasananya berbeda. Di halaman kecil kantor Humainora di Jalan Melati Raya, para pemulung menerima paket sembako yang dibagikan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-31 lembaga kemanusiaan tersebut. Sekitar 80 orang hadir—para ibu, bapak, hingga anak-anak yang sejak dini telah akrab dengan kehidupan di pinggir kota.

Bagi Humainora, kegiatan ini bukan sekadar penyaluran bantuan. Ia merupakan pengingat bahwa kelompok masyarakat paling rentan sering kali berada di luar sorotan publik, meskipun mereka memainkan peran penting dalam ekosistem kota.

Acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh yang selama ini terlibat dalam kerja-kerja sosial. Di antara mereka tampak pendiri Humainora, aktor senior Iwan Burnani, pengusaha Gamal Putra, serta sejumlah jurnalis dan pemerhati kemanusiaan.

Namun sosok yang paling dikenal di kalangan para pemulung adalah Edi Karsito. Ia sering dipanggil dengan sebutan “Bapak Pemulung Indonesia”—sebuah julukan yang lahir dari kedekatannya dengan komunitas pemulung selama bertahun-tahun.

Di kawasan Kragan dan wilayah sekitarnya, Edi tidak sekadar datang memberi bantuan. Ia menjadi pendamping, pengorganisir, sekaligus penggerak berbagai inisiatif sosial yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan para pemulung. Banyak dari mereka memandangnya sebagai orang tua yang memahami kehidupan mereka.

Pada hari itu, Edi memimpin langsung pembagian paket sembako. Satu per satu kantong berisi kebutuhan pokok diserahkan kepada para pemulung yang mengantre dengan tertib. Di antara percakapan ringan dan senyum sederhana, tampak hubungan yang lebih dari sekadar relasi pemberi dan penerima bantuan.

Momentum Ramadan memberi makna khusus bagi kegiatan ini. Di banyak komunitas Muslim, bulan suci tersebut sering menjadi waktu untuk memperkuat solidaritas sosial. Bagi Humainora, semangat berbagi itu diterjemahkan melalui perhatian kepada kelompok yang sering terpinggirkan dalam kehidupan kota.

Dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kerja-kerja kemanusiaan tidak selalu lahir dari program besar. Terkadang ia tumbuh dari pertemuan sederhana antara orang-orang yang memilih untuk tidak menutup mata terhadap kesulitan orang lain.

Memasuki usia ke-31 tahun, Humainora melihat kegiatan ini sebagai simbol komitmen jangka panjang. Bahwa di tengah dinamika kota yang terus berubah, masih ada ruang bagi solidaritas untuk tumbuh—bahkan di tempat-tempat yang paling jarang disorot.

Di halaman kecil itu, di antara karung-karung barang bekas dan paket sembako, solidaritas tampak hadir dalam bentuk yang paling sederhana: kepedulian manusia kepada manusia lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *