MUARAENIM || DEWANTARA.ID — Peringatan Nuzulul Quran di Masjid Besar Al-Amin, kawasan Pelita Sari, Muara Enim, pada malam 17 Ramadan 1447 Hijriah diisi dengan ceramah bertema “Belajar Mati sebelum Mati.” Pesan tersebut disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim, Ustadz Imron Supriyadi, di hadapan jemaah majelis taklim dan warga sekitar yang memadati masjid.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh dua santri Pondok Pesantren Laa Roiba. Arvei Siregar membacakan ayat-ayat Al-Quran dengan tartil, disusul lantunan sari tilawah yang dibawakan Malikil Quddus. Suasana masjid seketika menjadi khidmat ketika ayat-ayat suci itu menggema di ruang utama masjid, mengawali rangkaian peringatan turunnya Al-Quran.
Dalam ceramah sekitar 20 menit itu, Imron mengajak jemaah memaknai turunnya Al-Quran tidak hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai momentum memperbaiki diri.
Menurut dia, konsep “belajar mati sebelum mati” bukan berarti memikirkan kematian secara berlebihan, melainkan kesadaran spiritual agar manusia mampu menahan diri dari hawa nafsu, kesombongan, dan perbuatan yang menjauhkan dari nilai-nilai Al-Quran.
“Belajar mati sebelum mati berarti mematikan ego, mematikan keserakahan, dan mematikan sifat-sifat buruk dalam diri. Ketika itu dilakukan, maka hidup kita akan lebih dekat dengan tuntunan Al-Quran,” kata Imron dalam ceramahnya.
Ia menjelaskan, Nuzulul Quran mengingatkan umat Islam bahwa kitab suci bukan sekadar untuk dibaca atau dilantunkan, melainkan untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Imron menuturkan, banyak orang memuliakan Al-Quran dengan membacanya di berbagai kesempatan, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sosial.
“Al-Quran turun sebagai petunjuk hidup. Karena itu, Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi diri, apakah kita sudah menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam bertindak,” ujarnya.
Acara yang digelar di Masjid Besar Al-Amin itu dihadiri jemaah majelis taklim di lingkungan Pelita Sari, serta warga dari sejumlah kawasan lain di sekitar Muara Enim. Sejak selepas salat tarawih, jemaah mulai memadati ruang utama masjid untuk mengikuti rangkaian peringatan Nuzulul Quran.
Mewakili pengurus masjid, Feri Hadi Santoso—yang juga menjabat sebagai sekretaris Masjid Besar Al-Amin sekaligus ketua RT setempat—menyampaikan sambutan sebelum ceramah dimulai.
Dalam sambutannya, ia berharap peringatan Nuzulul Quran tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Kami berharap nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan Nuzulul Quran ini bisa diserap oleh jemaah dan diterapkan dalam perilaku sehari-hari,” kata Feri.
Menurut dia, kegiatan keagamaan seperti pengajian dan peringatan hari-hari besar Islam menjadi sarana penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama.
Selain ceramah agama, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi di antara warga. Jemaah majelis taklim, tokoh masyarakat, serta warga sekitar tampak mengikuti acara hingga selesai.
Suasana masjid yang penuh pada malam itu mencerminkan antusiasme warga dalam menyambut momentum Ramadhan, khususnya peringatan turunnya Al-Quran.
Bagi sebagian jemaah, tema “belajar mati sebelum mati” yang disampaikan dalam ceramah itu menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong umat untuk lebih serius menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup.
Melalui peringatan Nuzulul Quran, para penceramah dan pengurus masjid berharap nilai-nilai Al-Quran tidak hanya berhenti pada bacaan, tetapi juga mewujud dalam sikap dan perilaku masyarakat sehari-hari.
TEKS/FOTO : PP LAA ROIBA

