Taring Padi di Venesia: Pembelajaran Visual tentang Seni, Sejarah, dan Solidaritas Global

BUDAYA NASIONAL PERISTIWA RUPA SENI

Di sebuah ruang bekas gudang industri di Venesia, Italia, sekelompok pengunjung berjalan pelan di antara kain-kain besar yang tergantung dari langit-langit. Gambar-gambar pada banner itu tidak hanya menampilkan ekspresi artistik, tetapi juga memuat pesan sosial, sejarah, dan pengalaman perjuangan dari berbagai komunitas di dunia.

Yogyakarta || DEWANTARA.ID – Pameran bertajuk People’s Liberation: Collective Banners 2023–2026 yang digelar Taring Padi menghadirkan seni sebagai ruang belajar terbuka. Karya-karya yang ditampilkan bukan sekadar objek untuk dilihat, melainkan juga bahan untuk memahami bagaimana seni dapat menjadi media pendidikan tentang masyarakat, politik, dan kemanusiaan.

Bagi Taring Padi, kolektif seni asal Yogyakarta, proses berkarya selalu berkaitan dengan pendidikan berbasis pengalaman. Setiap gambar lahir dari diskusi, kerja bersama, dan pertukaran pengetahuan lintas komunitas, termasuk kelompok petani Kendeng, aktivis Palestina, komunitas seni Italia, hingga jaringan di São Paulo.

“Dalam proses ini kami belajar bahwa setiap gambar memiliki konteks sosial dan sejarahnya sendiri. Tidak ada visual yang benar-benar netral,” ujar Fitri Dwi Kurniasih, anggota Taring Padi.

Pameran independen yang berlangsung dari 3 Mei hingga 31 Juli 2026 ini menjadi ruang konseptual bagi Taring Padi untuk merebut kembali (reclaim) narasi seni mereka pasca-kontroversi di ajang documenta fifteen (2022) di Jerman. (Teks/Foto : Jajang R Kawentar)

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman pameran di Venesia juga menjadi ruang refleksi bagi proses belajar mereka sebagai seniman kolektif, terutama setelah pengalaman kontroversial di Documenta Fifteen, Jerman, pada 2022.

Pameran ini berlangsung di Sale Docks, ruang budaya independen yang sebelumnya merupakan gudang garam. Tempat ini kini berfungsi sebagai ruang pendidikan alternatif bagi seni dan aktivisme, di luar institusi formal seperti museum atau pameran negara.

Dalam konteks pendidikan seni, ruang seperti ini memungkinkan terjadinya pembelajaran yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik langsung, dialog, dan keterlibatan sosial.

Kurator Alex Supartono menjelaskan bahwa proyek ini tidak berada dalam struktur resmi Venice Biennale, tetapi menjadi bagian dari jejaring seni independen yang lebih luas.

Menurutnya, keterlibatan Taring Padi dalam ruang ini menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi sarana pembelajaran kritis tentang isu-isu global, termasuk hak asasi manusia, keadilan sosial, dan relasi kuasa dalam dunia seni.

Selain pameran, Taring Padi juga mengadakan produksi poster cukil dan mural yang digunakan dalam aksi solidaritas internasional. Aktivitas ini memperluas fungsi seni dari ruang pamer menjadi ruang belajar publik yang lebih luas.

Di Laboratorio Occupato Morion, mural besar Taring Padi menghiasi dinding ruang komunitas. Tempat ini berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan alternatif bagi kelompok-kelompok akar rumput di Venesia.

Bagi anggota Taring Padi, ruang tersebut mengingatkan pada proses belajar mereka di Yogyakarta pada akhir 1990-an, ketika seni menjadi bagian dari proses pendidikan politik dan sosial di luar sistem formal.

“Di banyak tempat, kami belajar bahwa seni bisa menjadi cara untuk memahami realitas sosial secara langsung,” kata Fitri.

Mural yang dibuat pada 25 April itu juga bertepatan dengan peringatan hari pembebasan dari fasisme di Italia, yang dalam konteks pendidikan sejarah menjadi momen penting untuk mengingat kembali nilai-nilai kebebasan dan demokrasi.

Secara visual, karya-karya Taring Padi menampilkan banyak simbol dan figur yang menggambarkan kehidupan masyarakat, ketimpangan sosial, serta solidaritas antar komunitas. Karya tersebut dapat dibaca sebagai “bahan ajar visual” yang mengajak penonton memahami isu global melalui bahasa gambar.

Seniman Taring Padi, Hestu A. Nugroho atau Setu Legi, menjelaskan bahwa karya mereka tidak dimaksudkan sebagai produk seni yang selesai, tetapi sebagai proses belajar yang terus berlangsung.

“Bagi kami, seni adalah cara untuk memahami struktur sosial dan ketidakadilan yang terjadi di banyak tempat,” ujarnya.

Dalam perspektif pendidikan seni, pendekatan ini memperlihatkan bagaimana karya visual dapat menjadi media literasi kritis—yang tidak hanya mengajarkan cara melihat, tetapi juga cara berpikir tentang dunia.

Model kerja kolektif yang digunakan Taring Padi juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan internal mereka. Dengan prinsip ekonomi lumbung, mereka mengembangkan sistem kerja berbasis kolaborasi, kemandirian, dan solidaritas.

Pendanaan proyek tidak bergantung pada institusi besar, tetapi dibangun melalui kerja bersama, penjualan karya, dan jejaring komunitas.

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi praktik pembelajaran sosial yang menghubungkan kreativitas, ekonomi, dan tanggung jawab kolektif.

Pameran di Venesia ini pada akhirnya tidak hanya menghadirkan karya seni untuk dinikmati, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana seni dapat menjadi media pendidikan yang kritis dan inklusif.

Dari Yogyakarta hingga Venesia, Taring Padi menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di jalanan, ruang komunitas, dan ruang pamer yang terus dipertanyakan fungsinya.

Dalam konteks itu, seni menjadi lebih dari sekadar ekspresi—ia menjadi cara untuk belajar tentang dunia, bersama dunia.

Teks/Foto : Jajang R Kawentar | Editor : Ahmad Maulana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *