Maulid Nabi di Masjid Al Hidayah: Ketika Pendidikan Akhlak Dimulai dari Diri

Uncategorized

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Tanjung Enim bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah. Jamaah diajak memahami bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah perubahan perilaku: dari mengetahui menjadi menghayati, dari mengagumi menjadi meneladani.

MUARA ENIM — Malam itu Masjid Al Hidayah, Dusun VI Talang Kelapa, Karang Raja, Tanjung Enim, tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya warga. Masjid berubah menjadi ruang belajar. Bukan ruang belajar dengan papan tulis dan buku pelajaran, melainkan ruang belajar tentang manusia, hati, akhlak dan bagaimana seharusnya seorang Muslim menjalani kehidupannya.

Ahad 30 Agustus 2026, sejak pukul 20.00 WIB, jamaah berdatangan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada karyawan perusahaan di kawasan Tanjung Enim, petani karet dan sawit, ustaz dan ustazah, serta jamaah majelis taklim Masjid Al Hidayah.

Ketua RT, Ketua RW, Kepala Dusun VI dan Babinsa setempat turut hadir. Dari pengurus masjid, Ustaz Ari mewakili penyelenggara.

Suasananya ramai, tetapi khidmat.

Namun, inti malam itu bukan sekadar kemeriahan peringatan hari besar Islam. Ada sebuah pertanyaan yang kemudian mengganggu kenyamanan jamaah—dalam arti yang baik.

Pertanyaan itu dilontarkan Ustaz Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum., Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba dan dosen UIN Raden Fatah Palembang.

“Kira-kira bermanfaat atau tidak peringatan Maulid Nabi ini?”

“Bermanfaat!” jawab jamaah hampir bersamaan.

Ustaz Imron kemudian memberikan jawaban yang tidak diduga.

“Peringatan Maulid Nabi ini tidak bermanfaat…”

Jamaah terdiam.

Tetapi kalimat itu segera ia jelaskan. Bukan Maulidnya yang tidak bermanfaat. Yang menjadi persoalan adalah ketika Maulid hanya berhenti sebagai seremoni.

“Peringatan Maulid Nabi tidak bermanfaat kalau setelah kita keluar dari masjid ini perilaku kita tidak berubah,” katanya.

Di situlah pendidikan sesungguhnya dimulai.

Dari Pengetahuan Menuju Perubahan

Dalam dunia pendidikan, seseorang sering disebut belajar ketika memperoleh pengetahuan baru. Namun pengetahuan belum tentu melahirkan perubahan sikap.

Seseorang dapat mengetahui bahwa kejujuran itu baik, tetapi belum tentu selalu jujur. Seseorang dapat mengetahui pentingnya menghormati orang tua, tetapi belum tentu melakukannya. Seseorang dapat hafal banyak hadis tentang akhlak, tetapi belum tentu mampu menahan amarah.

Persoalan semacam itulah yang disoroti Imron.

Menurut dia, umat Islam hampir setiap tahun memperingati Maulid Nabi, Isra Mikraj, Tahun Baru Islam dan berbagai hari besar keagamaan. Ceramah disampaikan, shalawat dilantunkan, jamaah berkumpul, makanan disajikan.

Tetapi jika setelah acara selesai tidak ada perubahan dalam perilaku, maka peringatan tersebut kehilangan tujuan pendidikannya.

“Acara ini jangan hanya kumpul-kumpul, makan-makan, manggut-manggut mendengar ceramah, kemudian pulang. Kalau tidak ada pelajaran untuk perubahan perilaku, ini yang sangat kita sesalkan,” ujarnya.

Pertanyaan itu sebenarnya bukan hanya untuk jamaah Masjid Al Hidayah.

Ia relevan dengan pendidikan umat secara lebih luas.

Sebab pendidikan agama bukan sekadar membuat seseorang tahu apa yang benar, melainkan mendorongnya mencintai kebenaran dan melaksanakannya.

Di sinilah keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi penting.

Mengapa Kita Malas Menjadi Lebih Baik?

Imron kemudian membawa jamaah pada pertanyaan berikutnya.

Mengapa kita rajin memperingati Maulid Nabi, tetapi perilaku tidak banyak berubah?

Mengapa kita mendengar begitu banyak nasihat, tetapi sulit melaksanakannya?

Mengapa kita mengetahui perintah Allah, tetapi masih berat menjalankannya?

Jawaban yang ia berikan sederhana: karena manusia sering malas.

Malas beribadah. Malas belajar. Malas memperbaiki diri. Malas meneladani Rasulullah. Bahkan, menurut Imron, manusia bisa saja telah menjalankan berbagai aktivitas keagamaan, tetapi hatinya belum benar-benar hadir.

“Sejatinya kita selama ini sudah shalat, sudah mengikuti acara Maulid Nabi, Isra Mikraj dan berbagai kegiatan keagamaan. Tetapi hati kita belum tentu hadir. Mengapa? Karena boleh jadi kita belum benar-benar mengenal Allah dan Rasul-Nya.”

Kalimat itu membawa pembicaraan dari pendidikan perilaku menuju pendidikan batin.

Sebab perubahan manusia tidak selalu dimulai dari luar. Sering kali ia justru dimulai dari kemampuan seseorang membaca dirinya sendiri.

Belajar Mengenal Allah dari Hal yang Paling Dekat

Bagaimana cara mengenal Allah?

Imron mengajak jamaah memulai dari sesuatu yang sangat sederhana: tubuh manusia sendiri.

Setiap hari manusia makan. Tubuh mengolah makanan. Sebagian menjadi energi dan sebagian lainnya menjadi sesuatu yang harus dikeluarkan. Manusia juga buang air kecil. Semua berlangsung dengan sistem yang teratur.

Kita hampir tidak pernah memikirkan proses tersebut.

“Kapan makanan diproses, kapan menjadi kotoran, kapan dikeluarkan. Begitu juga air kecil. Semuanya diatur dengan sangat sempurna,” katanya.

Setelah buang air, manusia merasa lega.

Lalu Imron mengajukan pertanyaan yang lebih dalam:

“Siapa yang menciptakan rasa lega itu? Siapa yang mengatur semua sistem dalam tubuh kita sehingga kita bisa sehat sampai hari ini?”

Jamaah diajak berhenti sejenak.

Inilah yang disebutnya sebagai tafakur—membaca diri sendiri untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Allah.

Pendidikan spiritual, dengan demikian, tidak selalu dimulai dari sesuatu yang rumit. Ia bisa dimulai dari tubuh sendiri, dari napas yang tidak pernah diminta untuk bekerja, dari jantung yang berdetak tanpa diperintah, dan dari berbagai fungsi tubuh yang berlangsung tanpa kesadaran manusia.

Manusia kemudian disadarkan bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu.

Ada kekuasaan yang jauh lebih besar.

Kesadaran itulah yang diharapkan melahirkan rasa syukur, kerendahan hati dan kecintaan kepada Allah serta Rasul-Nya.

Pendidikan Akhlak: Pelajaran yang Tidak Cukup Dihafalkan

Bagian penting lain dalam ceramah itu adalah tentang akhlak.

Imron mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Maka pendidikan Islam tidak seharusnya berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur’an, menghafal hadis atau mengetahui berbagai hukum agama.

Semua itu penting. Tetapi pengetahuan tersebut harus menemukan bentuknya dalam perilaku.

Imron membedakan antara akhlak, moral, etika dan adab. Dalam penjelasannya, akhlak tidak sekadar menyangkut perilaku lahiriah. Akhlak berkaitan dengan keadaan batin yang kemudian tercermin dalam ucapan dan tindakan.

Karena itu, persoalan pendidikan akhlak harus dimulai dari hati.

Masihkah ada iri?

Dengki?

Prasangka buruk?

Ujub?

Kesombongan?

Jika masih ada, pendidikan akhlak belum selesai.

“Akhlak itu ada di dalam hati, ada dalam lisan dan kemudian terwujud dalam perilaku. Inilah yang diajarkan Rasulullah SAW,” kata Imron.

Dengan demikian, seseorang belum cukup disebut berakhlak hanya karena mampu berbicara sopan. Pendidikan akhlak juga menyangkut bagaimana ia berpikir, bagaimana ia menyimpan prasangka, bagaimana ia memperlakukan orang lain dan bagaimana ia bersikap ketika tidak ada orang yang melihat.

Ilmu Tinggi, Akhlak Jangan Rendah

Di tengah pembicaraan tentang pendidikan, Imron mengingatkan sebuah ungkapan yang populer dalam tradisi pendidikan Islam:

Al-adabu fauqal ‘ilmi—adab berada di atas ilmu.

Ungkapan itu mengandung kritik terhadap cara manusia memahami keberhasilan pendidikan.

Gelar akademik tidak otomatis membuat seseorang beradab.

Pengetahuan yang luas tidak otomatis membuat seseorang rendah hati.

Kemampuan profesional tidak otomatis membuat seseorang peduli kepada tetangga.

Seseorang bisa menguasai ilmu pengetahuan, tetapi masih menyakiti orang lain. Bisa memahami teori lingkungan, tetapi merusak alam. Bisa berbicara tentang agama, tetapi lisannya menyakiti sesama.

“Ilmu yang banyak bukan jaminan seseorang akan beradab kepada tetangga, kepada alam sekitar dan terhadap semua kenikmatan yang diberikan Allah,” ujar Imron.

Pendidikan, karena itu, harus menghasilkan manusia yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Masjid sebagai Sekolah Kehidupan

Pesan tersebut sebenarnya telah disampaikan pula oleh Ustaz Ari dalam sambutannya.

Ia mengajak jamaah mengambil hikmah dari Maulid Nabi dan menyadari bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW yang berkewajiban meneladani perilaku Rasulullah, baik secara lahir maupun batin.

Ia juga mengajak jamaah memakmurkan masjid sebagai bentuk kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pesan ini menempatkan masjid bukan sekadar tempat melaksanakan shalat.

Masjid adalah ruang pendidikan masyarakat.

Di dalamnya anak-anak belajar membaca Al-Qur’an. Orang dewasa belajar memahami agama. Para jamaah belajar bersilaturahmi. Masyarakat belajar berbagi dan saling membantu.

Karena itu, memakmurkan masjid sebenarnya juga berarti memperkuat pendidikan masyarakat.

Masjid menjadi tempat bertemunya ilmu dan pengalaman, generasi muda dan generasi tua, ulama dan masyarakat, pengetahuan dan praktik kehidupan.

Pendidikan yang Dibawa Pulang

Sekitar pukul 21.15 WIB, ceramah selesai. Doa penutup dibacakan.

Jamaah kemudian menikmati makanan dan makanan ringan yang disediakan secara sederhana. Sekitar pukul 21.30 WIB, satu per satu mereka meninggalkan masjid.

Ada yang pulang menuju rumah. Ada yang mungkin masih berbincang di halaman. Ada yang kembali memikirkan pekerjaan esok pagi.

Tetapi ada satu harapan yang lebih besar: agar pelajaran Maulid tidak berhenti di halaman Masjid Al Hidayah.

Sebab pendidikan yang baik selalu memiliki satu ukuran: perubahan.

Seorang karyawan pulang dengan tekad bekerja lebih jujur.

Seorang petani pulang dengan kesadaran menjaga tanah dan lingkungan.

Seorang suami berusaha menjadi kepala keluarga yang lebih baik.

Seorang istri semakin menyadari tanggung jawabnya.

Seorang tetangga belajar lebih peduli.

Seorang pemuda belajar menghormati orang tua.

Dan seorang Muslim semakin berusaha meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Pada titik itu, Maulid tidak lagi sekadar peringatan kelahiran Nabi.

Ia menjadi proses pendidikan manusia.

Pendidikan yang mengubah pengetahuan menjadi kesadaran. Kesadaran menjadi kecintaan. Kecintaan menjadi keteladanan. Dan keteladanan menjadi akhlak.

Malam itu, Masjid Al Hidayah telah menjadi ruang belajar.

Bukan karena ada papan tulis.

Bukan karena ada kurikulum tertulis.

BACA ARTIKEL LAINNYA : Antara Sholawat dan Cinta yang Berhianat

Tetapi karena jamaah diajak pulang membawa sebuah pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan dalam satu malam:

mendidik diri sendiri agar semakin layak disebut umat Nabi Muhammad SAW.

Dan barangkali, di situlah makna Maulid yang paling penting: Rasulullah tidak cukup hanya dikenang. Ia harus diteladani.

Teks : Newsroom/Dewantara.id | Foto : Dok.Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *