Palembang, DEWANTARA.id — Pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Di masjid, majelis taklim, dan lingkungan masyarakat, proses belajar juga terus berlangsung. Pengetahuan tentang agama, kehidupan sosial, hingga cara mengelola usaha dapat menjadi bagian dari pendidikan masyarakat yang membentuk kemandirian.
Semangat itulah yang terlihat di Masjid Al-Ikhlas, Perumnas Talang Kelapa, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Palembang, Rabu (7/10/2026). Sebanyak 50 pelaku usaha yang tergabung dalam majelis taklim mengikuti pembinaan yang digelar Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Alang-Alang Lebar bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Sukodadi.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan kewajiban sertifikasi halal yang mulai diberlakukan pada Oktober 2026. Lebih dari itu, pembinaan menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk memahami hubungan antara agama, usaha, kejujuran, dan kemandirian ekonomi keluarga.
Di sinilah majelis taklim memiliki peran yang lebih luas. Ia bukan hanya tempat untuk memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga dapat menjadi ruang pendidikan masyarakat sepanjang hayat.
Kepala KUA Alang-Alang Lebar, Zulfikar Ali Fajri, mengatakan potensi tersebut perlu terus dikembangkan.
“Majelis taklim tidak hanya menjadi tempat untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai wadah pemberdayaan umat,” ujar Zulfikar.
Menurut dia, banyak anggota majelis taklim yang memiliki usaha. Mereka perlu memperoleh pengetahuan yang dapat membantu mengembangkan usahanya, sekaligus memastikan kegiatan ekonomi yang dilakukan tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.
“Anggota yang memiliki usaha perlu kita dorong agar semakin mandiri secara ekonomi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam,” katanya.
Pendidikan Halal untuk Pelaku Usaha
Bagi pelaku usaha kecil, pemahaman mengenai halal tidak berhenti pada persoalan mengetahui bahan yang boleh dan tidak boleh digunakan. Kesadaran halal juga menyentuh proses produksi, kebersihan, pengelolaan usaha, kejujuran dalam transaksi, hingga tanggung jawab terhadap konsumen.
Karena itu, pendidikan halal menjadi penting, terutama menjelang pemberlakuan kewajiban sertifikasi halal. Pelaku usaha perlu memahami bahwa sertifikasi bukan sekadar dokumen administratif, tetapi bagian dari upaya memberikan kepastian dan rasa aman kepada konsumen.
Dalam perspektif pendidikan masyarakat, proses tersebut menjadi pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Para pelaku usaha belajar dari sesuatu yang mereka kerjakan setiap hari: membuat makanan, menjual produk, melayani pelanggan, dan mengelola pendapatan keluarga.
Kegiatan pembinaan KUA Alang-Alang Lebar kemudian menjadi jembatan antara pengetahuan keagamaan dan praktik kehidupan ekonomi.
“Para pelaku usaha perlu memastikan produk yang dihasilkan memenuhi ketentuan halal. Pada saat yang sama, mereka juga harus menerapkan prinsip kejujuran, amanah, dan tanggung jawab dalam menjalankan usahanya,” kata Zulfikar.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan ekonomi umat tidak cukup hanya mengajarkan cara memperoleh keuntungan. Ada nilai yang harus menyertai proses tersebut: kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan keberlanjutan.
Majelis Taklim sebagai Sekolah Masyarakat
Selama ini, majelis taklim lebih banyak dikenal sebagai ruang untuk belajar agama. Namun, dalam perkembangan masyarakat, fungsi tersebut dapat diperluas menjadi pusat pembelajaran berbasis komunitas.
Majelis taklim dapat menjadi tempat bertemunya pengetahuan keagamaan dengan kebutuhan praktis masyarakat. Dari sana, anggota dapat belajar tentang pengelolaan keluarga, kesehatan, pendidikan anak, literasi keuangan, kewirausahaan, hingga ekonomi syariah.
KUA Alang-Alang Lebar melihat peluang tersebut sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat.
“Pemberdayaan ekonomi umat tidak hanya berbicara tentang bagaimana meningkatkan pendapatan, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem usaha yang halal, amanah, dan berkelanjutan,” ujar Zulfikar.
Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan sekolah atau perguruan tinggi. Proses belajar terus berlangsung melalui pengalaman, komunitas, dan kebutuhan hidup.
Para pelaku usaha yang hadir dalam pembinaan tersebut adalah contoh bahwa pendidikan masyarakat dapat berlangsung melalui berbagai jalur. Mereka belajar untuk meningkatkan kemampuan usaha, sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan.
Dari Pengetahuan Menuju Kemandirian
Sebanyak 50 pelaku usaha yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkannya dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Pengetahuan mengenai halal diharapkan mendorong mereka lebih cermat memilih bahan, menjaga proses produksi, dan memberikan informasi yang benar kepada konsumen. Sementara literasi ekonomi syariah diharapkan dapat membantu mereka membangun usaha secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pendidikan semacam ini memiliki tujuan yang lebih besar: membangun manusia yang tidak hanya terampil mencari penghasilan, tetapi juga memiliki karakter dalam menjalankan usaha.
Hal tersebut sejalan dengan agenda pemberdayaan ekonomi umat dalam Asta Protas Kementerian Agama. Penguatan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui bantuan atau program ekonomi, tetapi juga melalui peningkatan pengetahuan dan kapasitas.
Dalam konteks itulah kolaborasi KUA Alang-Alang Lebar dan BSI Cabang Sukodadi menjadi penting. Lembaga keagamaan dan lembaga keuangan bertemu dalam ruang pendidikan masyarakat untuk memberikan bekal kepada pelaku usaha.
Harapannya, kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda satu hari. Pembinaan dapat berlanjut menjadi pendampingan, berbagi pengalaman antar-pelaku usaha, serta pengembangan komunitas usaha yang saling menguatkan.
Sebab, ketika masyarakat memiliki pengetahuan, mereka memiliki pilihan. Ketika memiliki keterampilan, mereka memiliki kemampuan. Dan ketika pengetahuan serta keterampilan itu dibangun di atas nilai agama, lahirlah kemandirian yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga keberkahan.
Dari masjid, pendidikan masyarakat itu tumbuh.
Dari majelis taklim, pengetahuan dibagikan.
Dan dari pengetahuan tentang halal, masyarakat belajar satu hal penting: bahwa membangun ekonomi keluarga juga merupakan bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.
Teks/Foto : Humas : AAL | Editor : Newsroom/Essa
BACA ARTIKEL TERKAIT : Dari Majelis Taklim, Menyemai Ekonomi Halal di Sumatera Selatan

