Menyiapkan Generasi Siaga Api: Edukasi dan Kesiapsiagaan Karhutla di Sumsel
3 mins read

Menyiapkan Generasi Siaga Api: Edukasi dan Kesiapsiagaan Karhutla di Sumsel

Dewantara.id || Palembang Musim kemarau yang datang bukan sekadar pergantian cuaca. Bagi masyarakat Sumatera Selatan, kemarau membawa potensi ancaman tahunan: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebuah bencana ekologis yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu proses pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas sosial masyarakat.

Sebagai bentuk antisipasi, pemerintah dan aparat keamanan menggelar Apel Gelar Pasukan dan Simulasi Penanggulangan Karhutla, Selasa pagi (30/07), di Lapangan Griya Agung, Palembang. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi terbuka tentang pentingnya sinergi lintas sektor dalam menghadapi ancaman bencana akibat kelalaian pengelolaan lahan.

Apel ini dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, dan dihadiri oleh Gubernur Sumsel H. Herman Deru, Kapolda Sumsel Irjen Pol Andi Rian Djajadi, Pangdam II/Sriwijaya, hingga Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Hadir pula para guru, pelajar, mahasiswa, dan komunitas peduli lingkungan.

“Sumatera Selatan memiliki lebih dari 2 juta hektare lahan gambut. Jika kita abai, maka api akan kembali membakar masa depan anak-anak kita,” ujar Menteri Hanif dalam pidatonya yang penuh penekanan edukatif.

Menurut Hanif, penurunan titik api dalam dua tahun terakhir membuktikan bahwa kolaborasi dan kesadaran kolektif membuahkan hasil. Ia menegaskan bahwa pembakaran lahan bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga kejahatan pendidikan — karena asapnya bisa meliburkan sekolah hingga berminggu-minggu.

Pembelajaran dari Lapangan

Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya disuguhi peralatan pemadam modern seperti drone pemantau titik panas dan alat semprot portabel, tapi juga menyaksikan simulasi nyata penanganan karhutla. Mulai dari pendeteksian api, evakuasi warga, hingga teknik pemadaman oleh tim gabungan TNI, Polri, BPBD, dan relawan.

Simulasi ini menjadi media pembelajaran langsung bagi pelajar dan masyarakat umum. Mereka diperlihatkan bagaimana kerja sama dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menyelamatkan lingkungan dan keselamatan publik.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menekankan pentingnya peran masyarakat, khususnya lembaga pendidikan, dalam mengedukasi generasi muda tentang bahaya karhutla.

“Pendidikan menjadi garda terdepan. Jika siswa, guru, dan orang tua sadar akan bahaya api, maka mereka bisa menjadi agen pencegahan di lingkungannya masing-masing,” katanya.

Nandang juga menyerukan agar perusahaan-perusahaan pemegang lahan turut memberikan pelatihan dan sosialisasi ke sekolah-sekolah yang berada di sekitar wilayah konsesi.

Sekolah Tidak Boleh Diselimuti Asap

Data BNPB menunjukkan bahwa kabut asap akibat karhutla di tahun-tahun sebelumnya menyebabkan terganggunya aktivitas belajar-mengajar di berbagai daerah. Beberapa sekolah bahkan harus ditutup sementara karena kualitas udara berada pada level berbahaya.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dalam pernyataannya menyebut bahwa tragedi pendidikan seperti itu tidak boleh terulang.

“Bagi kami, pendidikan adalah prioritas. Musim kemarau seharusnya tidak membuat anak-anak terpaksa belajar dari rumah karena udara tak layak hirup,” tegas Deru.

Pemprov Sumsel akan terus menggandeng Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, dan instansi lainnya untuk memastikan materi kesadaran lingkungan masuk dalam kurikulum muatan lokal dan program ekstrakurikuler.

Menanamkan Kepedulian Sejak Dini

Dalam acara tersebut, para pelajar yang hadir diberikan buku saku tentang bahaya karhutla, serta diperkenalkan pada jalur edukatif seperti program sekolah adiwiyata dan kegiatan pramuka siaga bencana. Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap terbentuk generasi yang lebih peduli pada lingkungan dan tangguh dalam menghadapi bencana.

Program ini juga membuka peluang untuk pembelajaran lintas disiplin, dari ilmu geografi, biologi, hingga pendidikan kewarganegaraan. Guru diharapkan mengambil momentum ini untuk mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks nyata di lingkungan siswa.

Menuju Sumsel Bebas Asap

Melalui kegiatan apel dan simulasi ini, Sumatera Selatan menunjukkan keseriusan dalam mengantisipasi karhutla, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga melalui jalur pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat.

“Bila semua pihak—termasuk dunia pendidikan—berperan aktif, saya optimis musim kemarau ini akan kita lewati tanpa tragedi asap,” ujar Kombes Nandang menutup pernyataannya.

TEKS : WARMAN P | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *