Belajar Pelayanan Publik dari Tulung Selapan
Sejak pagi, 26 Agustus 2025, Kantor Camat Tulung Selapan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sudah penuh dengan antrean. Ratusan warga datang membawa map berisi dokumen, berharap urusan administrasi mereka selesai hari itu juga. Suasananya riuh, tapi juga penuh semangat.
Di balik keramaian ini, ada proses pendidikan yang sedang berlangsung. Pemerintah Kabupaten OKI menghadirkan Layanan Terpadu dengan berbagai instansi, salah satunya BPJS Kesehatan Cabang Palembang. Bagi warga, kesempatan ini bukan hanya soal mengurus dokumen lebih cepat. Ia juga menjadi ruang belajar: tentang hak kesehatan, administrasi publik, dan pentingnya literasi layanan sosial.
Sekolah di Luar Kelas
“Alhamdulillah, saya bisa urus BPJS tanpa jauh-jauh ke Kayuagung,” ujar Mega, seorang warga. Kalimat sederhana itu menyiratkan betapa akses layanan kesehatan mengajarkan masyarakat tentang efisiensi dan hak mereka sebagai peserta JKN.
Rosili, warga lain, menambahkan bahwa penggunaan JKN sangat membantu. “Cukup bawa KTP sudah bisa berobat,” katanya. Ungkapan ini adalah bentuk nyata literasi layanan kesehatan: masyarakat semakin paham prosedur dan manfaat kepesertaan JKN.
Dari sinilah terlihat bahwa kegiatan semacam ini bukan hanya sekadar pelayanan, melainkan pendidikan nonformal yang membentuk pemahaman warga tentang administrasi dan hak sosial.
Pendidikan Karakter dari Pelayanan
Menurut Muchendi Mahzareki, Bupati OKI, kegiatan terpadu ini adalah wujud sinergi lintas sektor yang membawa negara lebih dekat kepada rakyat. Pesan ini juga mengandung nilai pendidikan karakter: membangun kesadaran bahwa pelayanan publik adalah hak semua orang, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota.
BPJS Kesehatan melalui pernyataan Yusfikarina, Kepala Kantor BPJS Kesehatan OKI, menegaskan komitmen memperluas akses informasi dan layanan. Komitmen ini bisa dibaca sebagai lesson plan pemerintah untuk masyarakat: bahwa keadilan akses adalah bagian dari pembelajaran sosial yang berkelanjutan.
Pelajaran untuk Generasi Muda
Bagi kalangan pendidikan, model Layanan Terpadu ini memberi inspirasi: pendidikan tidak selalu berlangsung di sekolah. Anak-anak yang ikut orang tuanya datang ke kantor camat ikut belajar tentang antre, disiplin, sopan santun, hingga bagaimana prosedur administrasi dijalankan.
Inilah bentuk nyata pendidikan kewarganegaraan di lapangan. Warga belajar hak dan kewajiban, sementara pemerintah belajar mendengar aspirasi. Semua pihak tumbuh dalam ekosistem yang sama: membangun kesadaran bersama tentang pentingnya layanan publik.
Dari Pelayanan Menjadi Pembelajaran
Kehadiran BPJS Kesehatan di Tulung Selapan menunjukkan bahwa pelayanan publik bisa menjadi ruang pendidikan sosial. Ia bukan hanya soal administrasi, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai: kesadaran, tanggung jawab, dan partisipasi.
Bagi masyarakat, pengalaman mengurus layanan di dekat rumah adalah pelajaran berharga. Bagi pemerintah, inilah kesempatan untuk memperkuat literasi publik. Dan bagi dunia pendidikan, Tulung Selapan memberi contoh bagaimana belajar bisa lahir dari mana saja—bahkan dari antrean panjang di kantor camat.
TEKS : YULIE AFRIANI | EDITOR : AHMAD MAULANA


