Belajar Nilai Karakter dari Halal Bihalal FORSAPSS Muara Enim
Siang itu, Jumat (24/4/2026), Masjid Agung Muara Enim tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga ruang belajar.
Sejak pukul 13.00 WIB, jamaah dari berbagai penjuru Kabupaten Muara Enim memadati masjid untuk mengikuti pengajian rutin bulanan yang digelar Forum Silaturahmi Antar Pengajian Serasan Sekundang (FORSAPSS) Kabupaten Muara Enim.
Kegiatan yang dirangkai dengan Halal bi Halal ini menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia menjelma menjadi proses pembelajaran nilai—tentang bagaimana manusia membangun relasi, mengelola emosi, dan menjaga harmoni sosial di tengah perubahan zaman.
Hadir dalam kegiatan tersebut berbagai unsur organisasi keagamaan dan perempuan, mulai dari TP PKK, Bunda Zakiah, mewakili Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Muaraenim.
Hadir juga, Bunda Salimah dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Muaraenim, hingga majelis taklim dan FORSAPSS dari berbagai kecamatan.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dalam ruang-ruang sosial dan keagamaan.

Ketua FORSAPSS, Hj. Misliyani, S.Ag, M.Pd.I menegaskan bahwa forum ini merupakan wadah pembelajaran berkelanjutan bagi kaum ibu. ‘
“Melalui pengajian rutin, kita tidak hanya menambah ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter—iman, ilmu, dan amal yang seimbang dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam perspektif pendidikan, apa yang dilakukan FORSAPSS sejatinya adalah proses character building. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial ditanamkan melalui pendekatan spiritual yang kontekstual.
Materi pembelajaran semakin terasa kuat ketika tausiyah disampaikan oleh Imron Supriyadi. Ia mengajak jamaah membaca ulang makna Halal Bihalal sebagai praktik pendidikan sosial yang khas Indonesia.
“Halal Bihalal bukan sekadar tradisi, tetapi sarana belajar memaafkan dan memperbaiki hubungan,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa di era digital, nilai tersebut menghadapi tantangan baru. Silaturahmi yang dahulu dibangun melalui interaksi langsung, kini sering kali terganggu oleh komunikasi di media sosial.
“Kita sudah saling memaafkan, tetapi setelah itu membuka ponsel dan membaca sesuatu yang memicu emosi. Akhirnya, maaf hanya berhenti di lisan, belum sampai ke jempol,” katanya.
Di sinilah pentingnya literasi digital sebagai bagian dari pendidikan karakter. Menjaga jempol bukan sekadar etika bermedia, tetapi juga bagian dari pengendalian diri—kompetensi penting dalam kehidupan abad ke-21.
Pesan untuk tidak sembarang meneruskan informasi, tidak mudah terpancing emosi, serta bijak dalam berkomunikasi, menjadi bentuk konkret pendidikan literasi digital berbasis nilai agama.
Lebih jauh, tausiyah tersebut menyoroti peran perempuan sebagai pendidik utama dalam keluarga. Mengutip hadis Nabi, perempuan disebut sebagai tiang negara—sebuah metafora yang menegaskan bahwa kualitas bangsa berawal dari kualitas keluarga.
Dalam konteks pendidikan, ibu adalah madrasah pertama. Dari rumah tangga, anak-anak belajar tentang nilai, etika, dan cara berinteraksi dengan dunia. Karena itu, pengawasan terhadap penggunaan gawai menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Teknologi, jika tidak diarahkan, dapat menjadi distraksi. Namun jika dikelola dengan baik, ia justru menjadi sarana pembelajaran yang efektif.
“Anak-anak perlu didampingi, agar gawai memberi manfaat, bukan mudarat,” pesan yang mengemuka dalam tausiyah tersebut.
Menariknya, refleksi sejarah juga dihadirkan sebagai bagian dari pembelajaran. Tradisi Halal Bihalal yang dipopulerkan oleh KH Wahab Hasbullah pada 1948 awalnya merupakan strategi rekonsiliasi sosial.
Dari sini, jamaah diajak memahami bahwa tradisi bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga solusi pendidikan sosial—bagaimana konflik diselesaikan melalui dialog, pertemuan, dan saling memaafkan.
Kini, bentuk konflik memang berubah. Jika dahulu muncul dari interaksi langsung, kini sering kali lahir dari komunikasi digital yang minim empati. Karena itu, pendekatan penyelesaiannya pun perlu diperbarui, dengan menekankan literasi, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Pengajian yang berlangsung hingga pukul 15.30 WIB itu pada akhirnya menjadi ruang refleksi bersama. Halal Bihalal tidak lagi dipahami sebatas seremoni, melainkan sebagai proses pendidikan jiwa.
Di sana, jamaah belajar bahwa memaafkan adalah keterampilan, menjaga hubungan adalah tanggung jawab, dan mengelola emosi adalah bagian dari kedewasaan.
Dari Masjid Agung Muara Enim, sebuah pelajaran penting mengemuka: bahwa di era digital, pendidikan tidak hanya tentang apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana seseorang bersikap—baik dalam ucapan, tindakan, maupun dalam setiap kata yang dituliskan melalui jempol.**
TEKS / FOTO : FORSAPSS MUARAENIM | EDITOR : NEWSROOM

