
Menjelang siang, Kamis, 7 Mei 2026, Edison berkenan hadir dalam acara Milad ke-7 dan Haflatul Wada’ ke-5 Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim.
Sehari sebelumnya, panitia sudah diberi kabar bahwa agenda Bupati begitu padat. Tetapi manusia hanya bisa menyusun rencana, sementara takdir tetap berjalan menurut kehendak-Nya sendiri.
Sama seperti hujan: ketika ia diputuskan turun dari langit, tidak ada tangan manusia yang mampu membendungnya.
Dan itu bukan sekadar kiasan. Sekitar tiga puluh menit sebelum rombongan Bupati tiba, kira-kira pukul 07.18 WIB, hujan deras mengguyur lokasi acara.
Air mulai mengisi setiap lekuk tanah, menggenang di halaman pondok, sementara protokol pemerintah dan anggota Satpol PP yang sejak pagi sudah bersiaga harus berbasah-basah mengatur keadaan agar acara tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Saya tiba-tiba teringat pada tahun 2004, di Desa Sukaraja, Kecamatan Muaradua Kisam, OKU Selatan. Saat itu hujan juga turun deras pada hari pernikahan saya.
Bahkan selepas akad nikah, air menggenang sampai ke bawah rumah panggung mertua saya. Para tamu harus menyingkap kain, menggulung celana, dan mengangkat sarung agar tidak terlalu basah oleh genangan.
Begitulah manusia. Ketika hujan datang di tengah hajatan, selalu ada keluhan yang lahir lebih dahulu daripada syukur.
“Aduh, hujan. Jadi malas berangkat.”
“Aih… hujan pula!”
“Atuh, sial benar.”
Dan kalimat-kalimat lain yang nadanya hampir serupa: cemas, mengeluh, takut undangan berkurang, khawatir pejabat batal datang, panik kalau acara dianggap gagal.
Padahal sering kali kecemasan manusia lahir bukan dari kenyataan, melainkan dari ketergesaan pikiran sendiri. Orang modern menyebutnya overthinking; para psikolog menyebutnya paranoia sosial: rasa takut yang dibangun oleh asumsi-asumsi sesaat.

Dalam kecemasan semacam itu, manusia merasa dirinya pusat penentu keadaan. Seolah-olah keberhasilan acara ditentukan penuh oleh hitung-hitungan logika manusia, bukan oleh izin Allah.
Faktanya tidak selalu demikian. Hujan turun deras, tetapi Bupati tetap hadir. Kursi yang disediakan sekitar lima ratus tetap penuh, bahkan banyak yang berdiri.
Di titik ini kita seperti diingatkan: tidak semua yang dicemaskan manusia benar-benar terjadi. Dan tidak semua yang dianggap buruk oleh manusia benar-benar buruk di hadapan Allah.
Di sinilah masalah cara pandang bermula. Banyak orang memaknai hidup dengan “kacamata kuda”: melihat kenyataan hanya dari satu arah, satu kepentingan, satu ketakutan. Hujan langsung dianggap penghalang. Genangan dianggap kesialan. Acara basah dianggap pertanda buruk.
Padahal alam sering kali mempunyai bahasanya sendiri.
Bahasa Langit dan Isyarat Semesta
Dalam tradisi Islam, Jawa, maupun kebatinan Nusantara, hujan tidak pernah dipandang sekadar peristiwa cuaca. Ia adalah “bahasa langit”. Ayah saya pernah mengatakan, dalam ilmu kejawen, hujan yang turun saat kedatangan tamu agung disebut sebagai udan berkah atau berkah kunduran.
Air adalah simbol kehidupan — banyu urip. Maka hujan deras sering dimaknai sebagai lambang rezeki yang deras pula. Leluhur Jawa percaya:
“Yen ana tamu gede teko, terus udan, kuwi tandane bakal ketiban rejeki gede.”
Jika tamu besar datang lalu hujan turun, itu pertanda akan datang rezeki besar.
Dan rezeki tidak selalu berarti uang atau proyek. Rezeki bisa berupa bertambahnya ilmu, meluasnya manfaat, bertambahnya santri, menguatnya kepercayaan masyarakat, atau tumbuhnya keberkahan yang tak selalu kasatmata.
Karena itu, ketika hujan turun saat Bupati hadir di pondok, orang-orang tua Jawa sering menyebutnya sebagai pertanda “dirahmati Hyang Widhi”. Artinya, langkah Bupati menuju pondok dan keterbukaan pondok menerima kedatangannya dianggap jumbuh karo kersane Pengeran — selaras dengan kehendak Tuhan.
Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Pertemuan itu tidak lagi dipandang sekadar agenda protokoler antara pejabat dan lembaga pendidikan, melainkan seperti ada restu langit yang ikut menyertainya. Hujan menjadi simbol kesejukan, penyubur harapan, sekaligus doa yang turun dari langit.
Hujan sebagai Ruwatan
Dalam pandangan kejawen, hujan juga sering dimaknai sebagai bagian dari ruwatan: proses membersihkan sengkala.
Sengkala adalah keadaan buruk, kesialan, hambatan, atau energi negatif yang diyakini menempel pada ruang kehidupan manusia. Maka ketika hujan turun, alam dipercaya sedang “ngruwat” — membersihkan pagebluk, kesusahan, dan kesialan sebelum sebuah hajat besar dimulai.
Karena itu, hujan di pondok hari itu dapat dimaknai bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai penyucian. Seolah-olah alam lebih dahulu membersihkan jalan sebelum ikhtiar dunia dan akhirat dijalankan bersama.
Hujan sebagai Tajalli Rahmat
Dalam tradisi tasawuf, alam adalah ayat-ayat kauniyah: tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di semesta. Hujan adalah tajalli — manifestasi kasih sayang Allah Yang Maha Rahman dan Rahim.
Abdul Qadir al-Jailani pernah mengisyaratkan bahwa hujan yang turun saat kedatangan tamu agung adalah pertanda sebuah majelis sedang “dibasuh” terlebih dahulu oleh Allah. Kotoran lahir dan batin dibersihkan, sebelum cahaya ilmu dan silaturahmi masuk ke dalamnya.
Bupati hanyalah sebab. Tetapi yang menurunkan hujan tetap Allah.
Hujan sebagai Ujian
Namun hujan juga bisa dimaknai sebagai ujian adab dan kejernihan batin.
Ketika ada yang mengeluh, “Wah, jadi repot karena hujan,” mungkin pada saat itu manusia sedang diuji: apakah ia masih berada di maqam nafsu, atau sudah naik menuju maqam ridha.
Dalam Ihya Ulumuddin, Abu Hamid al-Ghazali mengingatkan bahwa hujan yang turun di tengah majelis dzikir bukan sekadar gangguan alam, melainkan ujian Allah untuk melihat keteguhan dan keikhlasan manusia. Alam adalah “tentara Allah”. Dan hujan bisa menjadi sarana pendidikan ruhani bagi manusia yang mau berpikir.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Kenapa hujan turun?”
Tetapi:
“Bagaimana hati kita menerima hujan itu?”
Air dan Ilmu
Air adalah lambang ilmu. Ia membersihkan, menghidupkan, dan menyuburkan. Hari itu Bupati datang membawa urusan dunia: pemerintahan, hubungan sosial, dan tanggung jawab publik. Sementara hujan datang membawa pesan langit.
Keduanya dipertemukan Allah dalam satu peristiwa. Seolah ada isyarat: urusan dunia di pondok harus selalu disiram oleh ilmu, agar tidak kering oleh kekuasaan dan kepentingan.
Dalam beberapa kitab hikmah disebutkan:
“Tidak ada satu tetes hujan pun yang turun dari langit kecuali bersama malaikat yang mengantarkannya ke tempat yang diperintahkan Allah.”
Maka hujan hari itu mungkin bukan kebetulan. Bisa jadi ia adalah pesan halus dari langit agar manusia tidak terlalu cepat menghakimi kenyataan hanya dengan “kacamata kuda”.
Sebab sering kali yang kita anggap merepotkan, justru sedang membawa rahmat yang diam-diam diturunkan Tuhan.
Pondok Pesantren Laa Roiba, Muara Enim
Jumat, 8 Mei 2026
BACA ARTIKEL LAINNYA :

