Teks & Foto : Bagus Kurniawan | Editor : Imron Supriyadi
Raungan mesin perahu getek membelah sunyi rawa gambut. Suaranya nyaring dan memekakkan telinga, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mendengarnya. Di bawah terik matahari yang menyengat kulit, Aminah (48) dan lima perempuan lainnya melaju menyusuri kanal-kanal air berwarna gelap menuju jantung hutan gambut Desa Lebung Itam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Bagi mereka, perjalanan itu bukan sekadar mencari ikan.

Di tengah menyusutnya bentang gambut akibat ekspansi perusahaan, perempuan-perempuan desa ini tanpa sadar menjelma menjadi benteng terakhir konservasi. Mereka menjaga hubungan yang telah diwariskan turun-temurun antara manusia dan hutan, sekaligus menjadi simbol perlawanan masyarakat desa dalam mempertahankan ruang hidup yang kian terdesak.

“Dulu memancing, menjala, mencari kayu, bahkan berburu bisa dilakukan dekat kampung dan umumnya dilakukan bapak-bapak. Sekarang berburu sudah tidak bisa lagi. Kalau mau memancing harus masuk jauh ke Rawang,” ujar Aminah.
Rawang adalah sebutan masyarakat setempat untuk kawasan hutan gambut yang menjadi sumber kehidupan warga.

Aminah (48) dikenal sebagai perempuan yang gemar memancing. Hobi yang awalnya bersifat pribadi perlahan berkembang menjadi gerakan kecil yang mengajak ibu-ibu desa kembali mengenal hutan gambut. Bersama sejumlah aktivis lingkungan, mereka belajar memahami fungsi ekosistem gambut yang jauh melampaui kebutuhan sehari-hari masyarakat desa.
Sedikit demi sedikit, kesadaran itu tumbuh. Ibu yang telah memiliki tiga cucu tersebut berhasil menularkan kepedulian kepada warga lain, termasuk generasi muda desa. Beberapa pemuda mulai kembali masuk ke kawasan gambut untuk mencari ikan dan mengenal lingkungan mereka sendiri.
Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak muda memilih bekerja sebagai buruh atau karyawan perusahaan dibanding menggantungkan hidup pada sumber daya alam desa.
Perubahan lanskap lingkungan menjadi salah satu penyebabnya.

Sejak beroperasinya konsesi milik PT Bumi Mekar Hijau (BMH) seluas 22.843 hektare, warga menilai kegiatan pembuatan kanal yang dilakukan perusahaan turut memengaruhi kondisi hidrologi gambut. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama berkurangnya habitat ikan yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.

Di saat yang sama, ancaman lain datang dari rencana pengembangan perkebunan sawit oleh PT Bintang Harapan Palma (BHP). Perusahaan tersebut telah mengantongi Izin Usaha Perkebunan (IUP) seluas 4.773 hektare. Sebagian wilayah yang masuk dalam izin itu merupakan kawasan gambut dalam dengan kedalaman lebih dari tiga meter.

Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, kawasan gambut dalam merupakan area yang harus dilindungi dan tidak diperuntukkan bagi kegiatan usaha yang berpotensi merusak fungsi ekologisnya.
Desa Lebung Itam sendiri memiliki luas wilayah sekitar 30.496 hektare. Delapan puluh persen wilayahnya berupa hutan gambut yang selama puluhan tahun menjadi penopang kehidupan masyarakat. Dari kawasan inilah warga memperoleh ikan, lahan penggembalaan ternak, hingga sumber penghidupan dari berkebun.

Lebih dari itu, gambut juga memiliki peran penting bagi dunia. Ekosistem ini menyimpan sekitar sepertiga cadangan karbon global, menjadikannya salah satu benteng utama dalam menghadapi krisis iklim. Data Global Wetlands menunjukkan Indonesia memiliki kawasan gambut terbesar kedua di dunia dengan luas mencapai sekitar 22,5 juta hektare.
Kesadaran akan pentingnya gambut itulah yang mendorong warga terus bertahan.
Bersama aktivis dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), masyarakat membentuk Forum Komunitas Masyarakat Pengelola Rawang (FK MPR). Organisasi ini menjadi wadah bagi warga untuk memperkuat solidaritas sekaligus memperjuangkan keberlanjutan ruang hidup mereka.

Perjuangan tersebut tidak selalu mudah. Konflik kepentingan yang muncul di tengah masyarakat telah menimbulkan berbagai gesekan sosial. Hubungan antarwarga yang selama ini terjalin erat perlahan menghadapi ujian ketika kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan saling berhadapan.

Namun bagi mereka, mempertahankan gambut berarti mempertahankan masa depan.
“Kita telah berjuang secara terhormat. Jika kita kalah, paling tidak kita kalah secara terhormat,” ujar Pralensa, yang akrab disapa Jai, Ketua Forum Komunitas Masyarakat Pengelola Rawang Desa Lebung Itam.

Di tengah hamparan tanah hitam yang terus terancam, perempuan-perempuan seperti Aminah tetap berangkat setiap pagi. Menyusuri kanal, mencari ikan, dan menjaga harapan. Seperti bunga yang tumbuh di tanah gambut, mereka mungkin tampak sederhana. Namun dari tangan-tangan merekalah kehidupan terus bertahan.**
