DEWANTARA.ID || PALEMBANG – Di tengah derasnya tuntutan birokrasi modern yang menekankan kecepatan, ketepatan, dan profesionalisme, ada satu hal yang sering luput mendapat perhatian, yaitu pembinaan spiritual para aparatur. Padahal, pelayanan publik yang berkualitas tidak hanya lahir dari kecakapan administratif, tetapi juga dari hati yang jernih, akhlak yang baik, dan karakter yang dibentuk oleh nilai-nilai luhur.
Kesadaran itulah yang melahirkan sebuah ikhtiar sederhana, namun sarat makna, di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Alang Lebar, Palembang. Melalui Program Tadarus Al-Qur’an Tiap Jum’at (TAAT), KUA Alang Lebar berupaya menghadirkan Al-Qur’an bukan sekadar sebagai bacaan ritual, melainkan sebagai fondasi budaya kerja.
Program yang diinisiasi Kepala KUA Alang Lebar, Zulfikar Ali Fajri, ini resmi diluncurkan pada Jumat, 10 Juli 2026. Setiap Jumat pagi, sebelum loket pelayanan dibuka, seluruh pegawai berkumpul membaca Al-Qur’an bersama. Tradisi ini menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan penguatan spiritual dengan etos pelayanan kepada masyarakat.
Menurut Zulfikar, aparatur Kementerian Agama memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar dibanding sekadar menjalankan tugas administratif. Mereka juga dituntut menjadi teladan dalam menghadirkan nilai-nilai agama di ruang pelayanan publik.
“Al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup sekaligus inspirasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Melalui Program TAAT, kita berharap lahir semangat kebersamaan, keikhlasan, dan profesionalisme sehingga pelayanan KUA semakin berkualitas dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Belajar Al-Qur’an, Membangun Karakter
Program TAAT tidak berhenti pada aktivitas membaca Al-Qur’an secara bersama-sama. Kegiatan perdana juga diisi dengan materi Pengenalan Makharijul Huruf, sebagai upaya meningkatkan kemampuan pegawai membaca Al-Qur’an secara benar sesuai kaidah tajwid.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak mengenal batas usia maupun profesi. Aparatur negara pun tetap dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebab, kualitas pelayanan kepada masyarakat sejatinya berawal dari kualitas pribadi setiap pelayan publik.
Dalam perspektif pendidikan karakter, kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin diyakini mampu menumbuhkan disiplin, ketelitian, kesabaran, dan kejujuran. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting bagi aparatur dalam menjalankan tugas secara profesional dan berintegritas.
Pendidikan Dimulai dari Lingkungan Kerja
Selama ini pendidikan sering dipahami hanya berlangsung di sekolah atau kampus. Padahal, setiap institusi memiliki peran sebagai ruang belajar, termasuk kantor pemerintahan.
Melalui Program TAAT, KUA Alang Lebar menghadirkan lingkungan kerja sebagai ruang pendidikan karakter. Pegawai tidak hanya diajak meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga memperkuat kecerdasan spiritual yang menjadi landasan dalam mengambil keputusan dan melayani masyarakat.
Suasana khusyuk yang menyelimuti pelaksanaan tadarus perdana memperlihatkan bahwa kebersamaan dalam membaca Al-Qur’an mampu mempererat hubungan antarsesama pegawai. Dari kebersamaan itu tumbuh budaya saling mengingatkan, saling mendukung, dan saling memperbaiki.
Dari Tadarus Menuju Pelayanan yang Berkah
Inovasi yang dilakukan KUA Alang Lebar menjadi contoh bahwa perubahan budaya kerja tidak selalu harus dimulai dengan program yang rumit atau berbiaya besar. Justru kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara istiqamah sering kali melahirkan perubahan paling mendasar.
Ketika Al-Qur’an hadir sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan kantor, pelayanan kepada masyarakat tidak lagi dipandang sebagai rutinitas administratif, melainkan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian.
Program TAAT sekaligus mempertegas komitmen KUA Kecamatan Alang Lebar untuk terus membangun aparatur yang profesional, berintegritas, dan berakhlak mulia. Sebab, pendidikan karakter tidak hanya menghasilkan pegawai yang cerdas bekerja, tetapi juga manusia yang mampu menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap pelayanan kepada sesama.

