Seperti sudah menjadi tradisi, setiap kali ada musibah kematian, Kiai Muis, pendiri sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Rahmat Palembang, hampir selalu diundang untuk datang bersama para santrinya.
Tak tanggung-tanggung. Sekali diminta datang, minimal 40 santri ikut serta. Kadang-kadang lebih.
Bukan sekadar datang, membaca Yasin, lalu pulang. Dalam tradisi takziah keluarga pejabat di Palembang, rangkaian doa itu bisa berlangsung hingga beberapa tahap: hari ketiga atau nigahari, hari ketujuh atau nujuh hari, hingga hari ke-40.
Begitulah suatu ketika, salah seorang pejabat di Palembang meninggal dunia. Kiai Muis bersama para santrinya diminta hadir dalam rangkaian takziah tersebut.
Konsekuensinya sederhana, tetapi tidak kecil.
Dari pesantren menuju Pakjo, kediaman almarhum, Kiai Maksum harus menyewa empat mobil Go-Car untuk mengangkut para santri. Jaraknya sekitar 3,5 kilometer, yang dalam keadaan normal hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit.
Sekali jalan, satu mobil sekitar Rp35 ribu. Empat mobil berarti Rp140 ribu. Kalau pulang-pergi, tentu tinggal dikalikan dua.
Dan itu baru ongkos kendaraan. Belum makan, minum, kebutuhan para santri, listrik, air, Wi-Fi, serta kebutuhan pesantren lainnya. Tetapi Kiai Muis tidak pernah sibuk menghitungnya.
“Pak Kiai, nanti sekalian sampai empat puluh hari. Jadi Pak Kiai dan santri setiap malam Jumat yasinan di rumah kami,” ujar anak almarhum.
“Insya Allah,” jawab Kiai Muis.
“Angkutannya ada, Pak Kiai?”
“Insya Allah, siap!”
Selesai. Tak ada kalkulator. Tak ada daftar tagihan. Tak ada kalimat, “Nanti transportnya bagaimana?”
Kiai Muis berangkat bersama santri-santrinya. Dan ternyata, setiap kali yasinan, para santri mendapat amplop dari tuan rumah.
“Ini rezeki kalian,” kata Kiai Muis ketika Umar, salah seorang santri senior, bertanya tentang amplop tersebut.
Para santri menerima. Ada yang langsung menyimpannya. Ada yang memasukkannya ke tas. Ada yang mungkin sudah membayangkan sabun, odol, jajanan, atau kebutuhan kecil lainnya.
Tetapi di antara mereka ada Irham. Ia sempat melirik amplop milik Kiai Muis.
Tampaknya lebih tebal.
“Ssttt… Kak, itu amplop Kiai tebal nian. Berapolah? Lemak nian, Kiai dapat duit banyak!” ujar Irham.
Umar segera menyela.
“Oi, ndak boleh ngintip amplop Kiai! Kito kan sudah dapat. Ngapo kamu ni usil dengan amplop Kiai?”
Percakapan kecil itu selesai. Setidaknya malam itu.
*
Subuh tiba. Seperti biasa, Kiai Muis memberikan kultum sebelum para santri melakukan setoran hafalan, setelah sarapan dan salat dhuha.
Pagi itu Kiai Muis bercerita tentang seorang santri yang mengintip amplop kiainya.
Seketika beberapa santri yang malam sebelumnya membicarakan amplop menjadi kikuk.
Irham lebih-lebih. Wajahnya disembunyikan di balik teman di sebelahnya.
Dalam hati ia bergumam:
“Gawat. Rupanya semalam Kiai Muis tahu?”
Wajah Irham memerah. Umar yang duduk di sampingnya mencolek teman lain. Mereka saling pandang. Seolah-olah ada sebuah rahasia yang tiba-tiba terbuka di depan umum.
Namun Kiai Muis justru berkata:
“Tapi itu tidak terjadi di pondok kita. Itu di pondok lain.”
Para santri sedikit bernapas lega. Sedikit. Sebab sebenarnya Kiai Muis tahu. Ia tahu bukan hanya percakapan di tempat yasinan. Ia tahu bahwa amplop sang kiai bahkan menjadi bahan pembicaraan sampai ke kamar-kamar santri.
Tetapi seorang guru kadang tidak perlu menunjuk hidung muridnya untuk membuat murid itu bercermin. Ia cukup meletakkan cermin di hadapan mereka.
“Sekarang Abah tanya,” kata Kiai Muis. “Kalau anak-anakku sekalian mendapat duit seperti beberapa malam kemarin waktu yasinan, kira-kira duitnya untuk apa?”
Mushala seketika sunyi. Beberapa santri saling pandang.
“Jangan takut salah. Ini bukan soal benar atau salah. Abah hanya ingin mendengar dari anak-anakku. Untuk apa duit kalian?”
“Izin, Kiai,” Umar mulai menjawab.
“Untuk jajan, Kiai.”
“Yang lain?”
“Untuk beli sabun!”
“Untuk beli odol dan sabun cuci!”
“Ya… ya… bagus. Ada yang untuk jajan, beli sabun, odol, sabun cuci, dan kebutuhan lainnya.”
Di Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Rahmat, para santri memang tidak dibebani SPP. Bahkan, jika ada donatur yang menyumbangkan sabun atau odol, kebutuhan itu dibagikan kepada para santri.
Kiai Muis kembali bertanya.
“Baik. Ada jawaban lain?”
Tak ada. Para santri diam. Mereka belum tahu ke mana arah kuliah subuh pagi itu.
Kiai Muis sengaja tidak langsung menyentuh perkara amplop. Ia memutar jalan.
Sebab kadang-kadang nasihat yang masuk melalui pintu depan justru ditolak. Tetapi kalau ia masuk melalui pintu samping, hati lebih mudah menerimanya.
“Kalau anak-anakku mendapat amplop berisi duit, lalu duit itu digunakan untuk membeli sabun, odol, jajan, dan kebutuhan lainnya, kira-kira itu kepentingan pondok atau kepentingan pribadi?”
Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya hanya dua.
“Pribadiiiii!”
Para santri menjawab serempak. Kiai Muis mengangguk.
“Anak-anakku pernah tidak terpikir bagaimana membayar listrik? Membayar air PAM? Membeli sayur untuk makan kita bersama? Dari mana semua itu dibayar?”
Kalimat itu seperti mengetuk pintu yang selama ini tidak pernah mereka pikirkan.
Mendadak mushala menjadi sunyi. Para santri menunduk. Ada yang merasa bersalah. Ada yang masih cuek. Ada yang bingung. Ada pula yang baru menyadari bahwa kehidupan pesantren ternyata tidak berhenti pada nasi yang tersedia di piring dan air yang mengalir dari keran.
Dalam beberapa detik, mushala itu seperti pemakaman. Sepi. Hening.
Kiai Muis kembali membuka dialog.
“Ayo, siapa yang mau jawab? Nggak usah takut. Abah kan hanya bertanya.”
Kemudian ia tersenyum.
“Jadi, nak, kemarin Abah dapat cerita dari pondok sebelah. Katanya ada santri yang bilang begini: ‘Eh, kok amplop Pak Kiai tebal nian? Kalau yang punya kita cuma lima puluh ribu.’ Tapi itu di pondok tetangga, bukan di sini.”
Para santri mulai saling pandang. Irham semakin salah tingkah. Umar menunduk.
Kiai Muis melanjutkan ceritanya.
“Lalu Pak Kiai itu berkata : ‘Nak, kalau Kiai dapat duit lebih banyak, karena banyak yang harus diselesaikan. Listrik, PAM, Wi-Fi, makan santri-santrinya, dan masih banyak lagi.”
Para santri mendengarkan.
“Lalu Pak Kiai itu berpesan kepada para santrinya,” lanjut Kiai Muis, “Nak, dalam setiap rezeki yang kita terima, ada hak orang lain di dalamnya, meskipun hanya sedikit.”
Kiai Muis berhenti sejenak. Kemudian ia berkata:
“Dan satu hal lagi yang harus kalian ingat. Allah menjanjikan, satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.”
Para santri diam. Kiai Muis kemudian mengingatkan bahwa janji itu bukan sekadar slogan. Allah berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 160, bahwa siapa yang membawa satu kebaikan, baginya sepuluh kali lipat balasannya.
“Anak-anakku,” ujar Kiai Muis, “ini pesan dari Kiai di pondok tetangga. Semoga menjadi pelajaran bagi kita.”
Lalu nada suaranya berubah lebih lembut.
“Dan Abah ingatkan satu lagi. Rasulullah mengajarkan bahwa di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.”
Ia mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi: “Min husni islāmil-mar’i tarkuhu mā lā ya‘nīhi.”
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”
Kiai Muis tersenyum.
“Jadi, kalau ada amplop orang lain, jangan sibuk menghitung tebal-tipisnya. Lebih baik sibuk menghitung amal kita sendiri.”
Para santri tertunduk. Pesannya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia menjadi dalam. Sebab bangsa ini sebenarnya sering sakit bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang yang sibuk menghitung apa yang diterima orang lain dan lupa menghitung apa yang telah ia berikan.
Kita sering bertanya:
“Dia dapat berapa?”
“Dia punya apa?”
“Kenapa dia lebih banyak?”
“Kenapa bagian dia lebih besar?”
Tetapi jarang bertanya:
“Apa yang harus saya tanggung?”
“Siapa yang harus saya bantu?”
“Siapa yang selama ini membiayai sesuatu yang saya nikmati?”
Dan yang lebih penting: “Apakah yang saya terima seluruhnya memang hak saya?”
Di sinilah kisah amplop itu menjadi lebih besar daripada sekadar cerita tentang seorang santri yang kepo.
Ia menjadi cerita tentang cara kita memandang rezeki. Tentang cara kita memandang amanah. Tentang cara kita memandang kepemimpinan.
Sebab seorang pemimpin yang menerima lebih banyak belum tentu sedang menikmati lebih banyak. Bisa jadi, ia sedang memikul lebih banyak.
Amplop yang lebih tebal tidak selalu berarti kantong yang lebih penuh. Kadang-kadang ia berarti tanggung jawab yang lebih berat.
Yang menjadi persoalan bukan tebal atau tipisnya amplop. Yang menjadi persoalan adalah: ke mana uang itu mengalir, untuk siapa ia digunakan, dan apakah ia dipertanggungjawabkan?
Di situlah sebuah pesan kecil dari sebuah pondok pesantren sebenarnya bisa menjadi pelajaran besar bagi tata kelola bangsa.
Jangan hanya mengajarkan rakyat untuk tidak iri kepada pemimpin. Pemimpin juga harus mengajarkan dirinya sendiri untuk tidak menganggap amanah sebagai milik pribadi.
Rakyat jangan sibuk mengintip amplop pemimpin. Tetapi pemimpin juga jangan sibuk menyembunyikan isi amplop dari rakyat.
Sebab dalam kehidupan bersama, kepercayaan tidak lahir dari ketebalan amplop.
Kepercayaan lahir dari keterbukaan, tanggung jawab, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang dititipkan.
Pesantren mengajarkan sesuatu yang sederhana: uang yang masuk ke tangan kita tidak otomatis menjadi milik kita sepenuhnya.
Ada hak keluarga.Ada hak lembaga. Ada hak orang lain. Ada hak orang yang tidak terlihat. Dan pada akhirnya, ada hak Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
*
Jelang setoran hafalan, Irham, Umar, dan beberapa santri tiba-tiba datang ke teras rumah Kiai Muis.
Irham maju lebih dahulu.
“Mohon maaf, Kiai. Kami salah. Sudah mengintip amplop Kiai kemarin malam. Kami siap menerima hukuman, Kiai!”
Kiai Muis hanya tersenyum. Tidak ada kemarahan. Tidak ada bentakan. Tidak ada hukuman yang menakutkan.
“Umar, siapkan adik-adik untuk setoran. Jangan lupa, pagi ini tambahkan dua rakaat salat taubat. Setelah itu baru setoran.”
Kiai Muis kemudian mengelus kepala masing-masing santri. Mereka menyalami Kiai Muis. Lalu berjalan menuju mushala.
Masalah selesai.
Tetapi pelajarannya tinggal kita bagaimana memaknainya. Barangkali memang begitulah cara seorang guru bekerja. Ia tidak selalu menghukum kesalahan dengan hukuman.
Kadang-kadang ia mengubah kesalahan menjadi kesadaran. Sebab tujuan pendidikan bukan membuat seorang santri takut kepada gurunya.
Tujuan pendidikan adalah membuat seorang manusia malu kepada dirinya sendiri ketika melakukan kesalahan—dan kemudian berani memperbaikinya.
Dan mungkin, kalau bangsa ini ingin menjadi bangsa yang lebih baik, kita pun perlu belajar dari sebuah amplop di sebuah pondok kecil di Palembang:
Jangan sibuk menghitung milik orang lain sebelum selesaimempertanggungjawabkan milik kita sendiri.
Sebab pada akhirnya, yang paling tebal bukanlah amplop. Yang paling tebal adalah amanah. Dan yang paling berat bukanlah uang yang kita bawa pulang.
Melainkan pertanyaan: “Untuk apa semua itu engkau gunakan?”
Pojok Rumah Tahfidz Rahmat Palembang, November 2017


