LAHAT || Dewantara.id – Peristiwa tragis yang terjadi di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, bukan sekadar kasus kriminal yang menggemparkan publik. Lebih dari itu, ia menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan mendasar tentang peran pendidikan—tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat.
Seorang pemuda berinisial AF (23) tega mengakhiri hidup ibu kandungnya, SA (63), hanya karena permintaan uang untuk bermain judi online ditolak. Fakta ini menyisakan keprihatinan mendalam: bagaimana mungkin relasi paling sakral antara anak dan ibu dapat runtuh sedemikian rupa?
Menurut Kasat Reskrim Polres Lahat, Muhammad Ridho Pradani, motif tindakan tersebut dipicu oleh emosi pelaku setelah keinginannya tidak dipenuhi. “Motifnya karena pelaku emosi setelah korban tidak memberikan uang yang akan digunakan untuk bermain judi slot,” ujarnya.
ARTIKEL TERKAIT :
Namun, di balik kronologi yang tampak sederhana, tersimpan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Pendidikan Emosi yang Terabaikan
Dalam perspektif pendidikan, kasus ini menunjukkan adanya kegagalan dalam pembentukan kecerdasan emosional. Kemampuan mengelola emosi—terutama ketika menghadapi penolakan—merupakan bagian penting dari proses pembelajaran kehidupan.
AF tidak mampu mengendalikan kemarahannya. Penolakan yang seharusnya menjadi pengalaman belajar justru berubah menjadi pemicu tindakan kekerasan. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan yang diterima belum menyentuh aspek karakter dan pengendalian diri secara mendalam.
Selama ini, sistem pendidikan formal sering kali lebih menekankan aspek kognitif—nilai akademik, kemampuan berhitung, dan penguasaan materi pelajaran—namun kurang memberi ruang bagi pembelajaran nilai, empati, dan penguatan mental.
Padahal, dalam situasi nyata kehidupan, justru kemampuan mengelola emosi yang menentukan kualitas seseorang dalam mengambil keputusan.
Judi Online dan Krisis Literasi Digital
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah maraknya judi online. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan hukum, tetapi juga dengan literasi digital masyarakat.
AF meminta uang untuk bermain judi slot—sebuah praktik yang kini semakin mudah diakses melalui perangkat digital. Tanpa pemahaman yang cukup tentang risiko dan dampaknya, individu dapat dengan cepat terjebak dalam perilaku adiktif.
Di sinilah peran pendidikan digital menjadi krusial. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu dibekali kemampuan untuk memahami, menyaring, dan menggunakan teknologi secara bijak. Tanpa itu, teknologi yang seharusnya menjadi alat pemberdayaan justru berubah menjadi sumber masalah.
Kronologi yang Menjadi Pelajaran
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2026, di Desa Danau Belidang, Kecamatan Mulak Sebingkai, bermula dari permintaan sederhana yang berujung penolakan.
Namun, reaksi pelaku menunjukkan bahwa ia tidak memiliki mekanisme yang sehat untuk menghadapi situasi tersebut. Kekerasan yang dilakukan hingga menyebabkan kematian korban, serta upaya pelaku untuk menghilangkan jejak dengan cara yang keji, memperlihatkan adanya distorsi nilai yang serius.
Bahkan, pelaku sempat melibatkan dua rekannya untuk menggali lubang dengan alasan pekerjaan kebun. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan tersebut tidak hanya dilakukan secara impulsif, tetapi juga disertai upaya sistematis untuk menutupi perbuatannya.
Peran Keluarga sebagai Sekolah Pertama
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi setiap individu. Dalam keluarga, nilai-nilai dasar seperti empati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang tua seharusnya ditanamkan sejak dini.
Kasus ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Orang tua memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak, termasuk dalam membangun komunikasi yang sehat dan mengajarkan cara menghadapi kekecewaan.
Namun, tantangan ekonomi dan sosial sering kali membuat fungsi keluarga sebagai ruang pendidikan menjadi kurang optimal. Tekanan hidup dapat mengurangi kualitas interaksi antara anggota keluarga, sehingga proses pembelajaran nilai tidak berjalan maksimal.
Membangun Pendidikan yang Lebih Holistik
Tragedi ini seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi pendekatan pendidikan yang selama ini diterapkan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi harus mencakup pengembangan karakter secara menyeluruh.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Pertama, Penguatan pendidikan karakter di sekolah, dengan fokus pada empati, pengendalian diri, dan resolusi konflik.
Kedua, Peningkatan literasi digital, agar masyarakat mampu memahami risiko dari aktivitas online seperti judi.
Ketiga, Pendampingan keluarga, melalui program edukasi orang tua tentang pola asuh dan komunikasi efektif.
Keempat, Kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara positif.
Refleksi untuk Masa Depan
Kasus di Lahat bukan hanya tentang satu individu atau satu keluarga. Ia adalah refleksi dari kondisi sosial yang lebih luas. Ketika pendidikan gagal menyentuh hati, maka pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak cukup untuk mencegahnya melakukan tindakan yang merugikan.
Di balik tragedi ini, terdapat pelajaran penting bagi kita semua: bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap dan mengambil keputusan dalam situasi sulit.
Jika nilai-nilai kemanusiaan tidak ditanamkan dengan kuat, maka kemajuan teknologi dan akses informasi justru dapat memperbesar risiko terjadinya penyimpangan.
Pada akhirnya, pendidikan harus kembali pada esensinya—membentuk manusia yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan bijak dalam bertindak.
Dan dari tragedi ini, kita diingatkan bahwa tugas tersebut masih jauh dari selesai.
TEKS : A. MAULANA | EDITOR : IMRON SUPRIYADI | FOTO : Dok.Kepolisian

