Ketika Allah Dipanggil Seperti Pembantu

Uncategorized
  • Tentang Istisqa, Adzan, Kemarau, dan Manusia yang Baru Ingat Tuhan Setelah Kehabisan Air.
  • Aneh memang manusia ini. Ketika hidupnya baik-baik saja, Tuhan seperti tidak diperlukan. Tetapi ketika sumur mengering, sawah retak, kebakaran menjalar, dan air tak kunjung turun, mendadak Tuhan menjadi sangat penting. Padahal Allah tidak pernah berhenti memanggil kita.
Oleh: Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muaraenim

Ada banyak macam panggilan Allah kepada manusia. Sebagian datang dengan suara. Sebagian datang tanpa suara. Sebagian datang melalui manusia. Sebagian lagi melalui peristiwa. Kematian, misalnya.

Ketika seseorang meninggal dunia, kita segera berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”Saudara kita telah dipanggil Allah. Ayah kita dipanggil Allah. Ibu kita dipanggil Allah. Tetangga kita dipanggil Allah. Teman kita dipanggil Allah.

Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Justru itulah kesadaran paling dasar seorang Muslim: bahwa manusia berasal dari Allah dan kepada-Nya pula akan kembali. Tetapi ada persoalan yang sering luput kita pikirkan.

Kalau kematian disebut sebagai panggilan Allah, mengapa kita hanya menganggapnya sebagai panggilan untuk orang yang meninggal? Bukankah sesungguhnya kematian itu juga surat panggilan untuk yang masih hidup?

Seolah-olah Allah sedang berkata: “Lihatlah. Orang yang kemarin masih duduk bersamamu, hari ini sudah pulang. Kapan giliranmu?”

Tetapi kita sering membaca surat panggilan itu hanya sebentar. Hari pertama kita datang. Hari ketiga kita berkumpul. Hari ketujuh kita mengenang. Hari ke-40 kita mengingat. Hari ke-100 kita mulai lupa. Hari ke-1000 terlewat.

Setelah itu, hidup kembali normal. Orang mati selesai menjadi berita. Yang hidup kembali sibuk mengejar dunia. 

Mungkin begitulah manusia. Kematian tetangga kita jadikan pengingat untuk beberapa hari, tetapi kematian diri sendiri kita anggap sebagai urusan nanti. Padahal tidak ada seorang pun yang memperoleh surat pemberitahuan: “Besok pukul 09.00 Anda akan meninggal.”Tidak ada.

Maka kematian sebenarnya adalah panggilan yang tidak pernah memberitahukan kapan kita harus menjawabnya.

Ada pula panggilan Allah yang jauh lebih teratur. Lima kali sehari. Namanya : adzan.

Allahu Akbar(Allah Mahabesar).

Kalimat itu dikumandangkan dari masjid, mushala, televisi, radio, bahkan telepon genggam. Tetapi betapa aneh manusia modern. Ketika telepon genggam berdering, kita buru-buru mencarinya.

Ketika WhatsApp berbunyi, kita buka. Ketika pesan atasan masuk, segera dibaca. Ketika telepon dari orang yang kita anggap penting datang, kita jawab meskipun sedang makan.

Tetapi ketika muazin berkata: “Hayya ‘alash-shalah.”(Marilah menuju shalat). Kita menjawabnya dengan: “Sebentar.” “Tanggung.” “Sedikit lagi selesai” “Ah, nunggu iqomah.”

Allah memanggil sekarang. Kita bilang, “Nanti.” 

Allah memanggil kita menuju masjid. Kita berkata, “Tanggung, sedang meeting.” Allah memanggil lima kali sehari.

Kita merasa terganggu. Lucunya, nada dering telepon genggam kita anggap lebih penting, sementara adzan dianggap suara latar kehidupan.

Jangan-jangan masalah terbesar kita bukan karena Allah tidak pernah memanggil.

Allah terlalu sering memanggil, tetapi kita terlalu sering pura-pura tidak mendengar.

*

Lalu suatu hari datanglah panggilan yang lain. Bukan adzan. Bukan kematian. Bukan kecelakaan. Bukan musibah personal.

Kali ini langit seperti menahan diri. Hujan tidak turun. Sumur mengering. Sungai menyusut. Tanah retak. Udara panas. Hutan terbakar. Kebakaran hutan dan lahan terjadi. Kabut asap datang. Air menjadi barang yang dicari.

Barulah kita ramai-ramai mengingat Allah. Masjid penuh. Lapangan penuh. Orang-orang berkumpul. Pemerintah menggelar : shalat Istisqa.Ormas keagamaan menyerukan doa. 

Sekolah mengadakan Istisqa. Masyarakat berkumpul. Para pemimpin ikut berdiri.

Presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, kepala desa, pejabat, tokoh masyarakat, sampai rakyat biasa—semuanya menengadahkan tangan dan berkata : “Ya Allah, turunkanlah hujan.”Amin.

Tidak ada yang salah dengan Istisqa. Justru itulah bentuk penghambaan manusia kepada Allah. Manusia memang lemah. Air adalah milik Allah. Hujan adalah kehendak Allah.

Manusia boleh membuat waduk, bendungan, irigasi, pompa, sumur, kanal, embung, tetapi tidak satu pun mampu memerintahkan awan: “Besok jam tujuh pagi, turun!”

Manusia memiliki teknologi. Allah memiliki kehendak. Di situlah kita belajar bahwa la haula wa la quwwata illa billahbukan sekadar kalimat yang indah di bibir. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Tetapi ada satu pertanyaan yang sebaiknya kita ajukan sebelum tangan kita terlalu tinggi menengadah: Mengapa kita baru memanggil Allah setelah meja kehidupan kita porak-poranda?

*

Bayangkan sebuah rumah. Di ruang makan sudah tersedia makanan berlimpah.Nasi ada. Lauk ada. Buah ada. Minuman ada. Para tuan rumah makan dengan gembira. Makan sampai kenyang. 

Makan sampai meja penuh remah. Minuman tumpah. Sisa makanan berserakan. Plastik dibuang sembarangan. Tulang ditinggalkan. Setelah kenyang, para tuan bangkit. Mereka meninggalkan meja yang berantakan. 

Lalu salah seorang berkata: “Dik, tolong dibereskan, ya.”

Kepada siapa? Kepada pembantu. 

Nah. Kadang-kadang begitulah cara manusia memperlakukan bumi. Kita makan dari bumi. 

Kita minum dari bumi. Kita mengambil mineral dari perut bumi. Mengambil kayu dari hutan. Mengambil ikan dari laut. Mengambil batu bara. Mengambil minyak. Mengambil gas. Mengambil tanah. Mengambil air.

Semua disebut pembangunan. Semua disebut investasi. Semua disebut pertumbuhan ekonomi. Semua dikatakan untuk kesejahteraan rakyat.

Tetapi setelah meja makan alam kita berantakan, siapa yang kita panggil? Allah!

“Ya Allah, turunkan hujan.”

“Ya Allah, hentikan kebakaran.”

“Ya Allah, selamatkan kami.”

“Ya Allah, berikan air.”

Bukankah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita sedang menjadikan Allah seperti pembantu rumah tangga kosmis?

Ketika meja bumi kotor karena ulah kita, kita panggil Allah untuk membersihkannya.

Ketika air habis karena kerakusan kita, kita panggil Allah untuk mengisinya. 

Ketika hutan rusak, kita minta Allah menyelamatkan.

Ketika sungai dipenuhi sampah, kita meminta hujan.

Ketika tanah dieksploitasi tanpa batas, kita menengadahkan tangan.

Tentu Allah bukan pembantu. Allah adalah Rabbul ‘Alamin. Tuhan seluruh alam. Yang justru harus kita lakukan adalah bertanya: Siapa yang selama ini bertindak sebagai tuan, dan siapa yang kita perlakukan seperti pelayan?

Allah sudah mengingatkan: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”(QS Ibrahim: 34).

Air adalah nikmat. Udara adalah nikmat. Hutan adalah nikmat. Tanah adalah nikmat. Laut adalah nikmat. Tubuh adalah nikmat. Kesehatan adalah nikmat. Akal adalah nikmat.

Kekuasaan adalah nikmat. Jabatan adalah nikmat. Tetapi manusia memiliki kebiasaan buruk: menikmati nikmat, lalu melupakan Pemberi nikmat.

Kita minum air setiap hari tanpa bertanya siapa yang mengirimnya.

Kita menghirup udara tanpa membayar.

Kita berdiri di atas tanah tanpa menyadari bahwa tanah itu suatu hari akan menerima jasad kita.

Kita menikmati kekayaan alam, kemudian merasa kekayaan itu milik kita.

Padahal kita hanya pengguna. Bukan pemilik.

Karena itu, shalat Istisqa seharusnya tidak berhenti pada permohonan hujan. Istisqa semestinya juga menjadi shalat introspeksi. 

Kita meminta hujan, tetapi juga harus meminta ampun.

Kita memohon langit dibuka, tetapi juga harus membuka hati.

Kita memohon air turun dari langit, tetapi harus berhenti mengotori air yang sudah Allah berikan.

Kita meminta hutan diselamatkan, tetapi juga harus bertanya bagaimana kebijakan pembangunan memperlakukan hutan.

Kita meminta sungai mengalir, tetapi juga harus berhenti menjadikan sungai sebagai tempat sampah.

Kita meminta bumi subur, tetapi juga harus berhenti memperlakukan bumi seperti gudang yang boleh dikuras tanpa batas.

Dan di sinilah tanggung jawab manusia bertemu dengan tanggung jawab negara. Negara bukan Tuhan. Pemerintah bukan pemilik bumi. Para pejabat bukan pemilik rakyat. Mereka semua adalah : pemegang amanah.

Kekuasaan bukan tiket untuk menikmati hidangan bumi sesuka hati. Kekuasaan adalah amanah untuk memastikan meja makan itu tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Kalau seorang pejabat berkata bahwa kebijakan pembangunan dilakukan demi kesejahteraan rakyat, maka rakyat berhak bertanya: Kesejahteraan yang mana?

Kalau alam rusak, sungai tercemar, hutan terbakar, air semakin sulit, dan masyarakat kecil menanggung dampaknya, maka pembangunan harus diperiksa kembali.

Sebab pembangunan yang menghasilkan kekayaan tetapi meninggalkan kerusakan ekologis bukanlah keberhasilan yang sempurna. Ia mungkin hanya kemajuan yang lupa bertanya kepada masa depan.

Ironisnya, kita sering melihat kecerdasan manusia digunakan untuk mengakali sesama.

Orang pintar mencari celah hukum. Orang pintar mencari celah anggaran. Orang pintar mencari celah pajak. Orang pintar mencari cara memperkaya diri.

Tetapi Allah mengajarkan Fathonah—kecerdasan yang seharusnya membawa kemaslahatan.

Maka seorang pemimpin yang benar-benar cerdas bukan hanya mampu menghitung berapa triliun investasi yang masuk.

Ia juga harus mampu menghitung: Berapa hektare hutan yang hilang? Berapa sungai yang tercemar? Berapa mata air yang mati? 

Berapa masyarakat yang kehilangan ruang hidup? Berapa generasi yang kelak membayar kerusakan hari ini? Itulah kecerdasan yang memiliki hati. Bukan sekadar kecerdasan yang memiliki kalkulator.

Begitu pula Siddiq. Jangan hanya jujur ketika berdoa kepada Allah. 

Jujurlah ketika membuat laporan. Jujurlah ketika mengelola anggaran. Jujurlah ketika menyampaikan data. Jujurlah ketika mengakui kegagalan. Jangan sampai di depan sajadah kita menangis karena kekeringan, tetapi di belakang meja kebijakan kita menutup mata terhadap sebab-sebab kerusakan.

Amanah juga begitu.

Jangan hanya pandai mengucapkan bahwa jabatan adalah amanah. Tunjukkan bahwa ia benar-benar amanah. Anggaran adalah amanah. Izin adalah amanah. Kebijakan adalah amanah. Kewenangan adalah amanah. Bahkan tanda tangan seorang pejabat adalah amanah. Sebab satu tanda tangan yang salah bisa membuat sebuah kawasan rusak bertahun-tahun.

Dan Tabligh bukan sekadar pandai menyampaikan pidato. Tabligh berarti menyampaikan kebenaran. Kalau ada persoalan, katakan persoalan. Kalau ada kerusakan, katakan kerusakan. Kalau kebijakan keliru, berani mengoreksi.

Jangan mengubah kebakaran menjadi “fenomena biasa”. Jangan mengubah kekeringan menjadi sekadar “musibah alam” jika ada faktor manusia yang ikut memperparahnya. 

Jangan pula menjadikan doa sebagai pengganti ikhtiar. Karena Islam tidak mengajarkan manusia duduk diam lalu meminta Allah menyelesaikan semua akibat perbuatannya.

*

Maka ketika shalat Istisqa dilaksanakan, mari kita menengadah. Tetapi jangan hanya tangan yang naik. Kesadaran juga harus naik. 

Mari meminta hujan. Tetapi juga meminta ampun. 

Mari meminta air. Tetapi juga belajar menjaga air. 

Mari meminta Allah menyelamatkan hutan. Tetapi juga belajar berhenti merusaknya.

Mari meminta sungai kembali mengalir. Tetapi juga berhenti membuang sampah ke dalamnya.

Mari meminta langit menurunkan hujan. Tetapi jangan lupa mendengar panggilan Allah yang sudah turun kepada kita lima kali sehari.

Sebab sungguh aneh:

Ketika Allah memanggil melalui adzan, kita berkata, “Nanti.”

Ketika Allah memanggil melalui kematian, kita berkata, “Turut berduka.”

Ketika Allah memanggil melalui musibah, kita berkata, “Ini ujian.”

Ketika Allah memanggil melalui kekeringan, kita berkata, “Mari Istisqa.”

Padahal mungkin seluruh panggilan itu sedang membawa satu pesan yang sama:

“Wahai manusia, pulanglah.”

Pulang dari kesombongan. 

Pulang dari kerakusan. 

Pulang dari kebohongan. 

Pulang dari pengkhianatan amanah. 

Pulang dari merasa menjadi pemilik bumi. 

Pulang dari menganggap alam sebagai barang dagangan tanpa batas. 

Pulang dari kehidupan yang hanya mengenal hak tetapi lupa kewajiban.

Maka jangan salahkan hujan jika ia terlambat. Jangan pula merasa bahwa setiap kemarau otomatis merupakan hukuman atas dosa orang lain.

Kita tidak pernah memiliki kewenangan untuk memastikan maksud Allah atas sebuah musibah secara spesifik. 

Yang boleh kita lakukan adalah bermuhasabah.Bertanya kepada diri sendiri :

Apa yang sudah kita lakukan?

Apa yang sudah kita rusak?

Apa yang sudah kita abaikan?

Apa yang sudah kita khianati?

Dan terutama: Panggilan Allah mana yang selama ini sebenarnya sudah kita dengar, tetapi kita pura-pura tidak mendengarnya?

Adzan? Kematian? Amanah? Kebenaran? Keadilan? Atau suara hati kita sendiri?

Karena bisa jadi hujan yang paling kita butuhkan bukan hanya hujan yang jatuh dari langit. 

Kita juga membutuhkan hujan kesadaran yang turun ke dalam hati. Agar manusia yang selama ini merasa menjadi tuan kembali sadar bahwa ia hanyalah hamba.

Agar pejabat yang merasa memiliki kekuasaan kembali sadar bahwa ia hanya sedang memegang titipan.

Agar pengusaha yang merasa memiliki bumi kembali sadar bahwa ia hanya sedang memanfaatkan amanah.

Agar rakyat yang merasa bebas melakukan apa saja kembali sadar bahwa kebebasan juga memiliki tanggung jawab.

Dan agar kita semua mengerti: Allah tidak pernah menjadi pembantu kita. Kitalah yang menjadi hamba-Nya.

Jadi, ketika kita berdiri dalam shalat Istisqa, jangan hanya berkata: “Ya Allah, turunkan hujan.”

Tambahkan dalam hati:

“Ya Allah, turunkan pula kesadaran kepada kami. Sebab jangan-jangan bukan langit yang terlalu lama menahan hujan, tetapi kami yang terlalu lama menahan diri untuk kembali kepada-Mu.”

Sebab hujan mungkin membasahi tanah. Tetapi hanya kesadaran yang mampu membasahi hati.

Dan kalau hati sudah basah oleh kesadaran, mungkin kita tidak lagi memperlakukan Allah sebagai Tuhan yang hanya dicari ketika kita kehausan.

Kita akan mengingat-Nya ketika kenyang. Ketika kaya. Ketika berkuasa. Ketika sehat.

Ketika air masih mengalir. Ketika hutan masih hijau. Ketika sungai masih jernih. Ketika adzan berkumandang.

Dan terutama ketika kehidupan masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Itulah Istisqa yang sesungguhnya: bukan hanya meminta air dari langit, tetapi memohon agar manusia kembali menjadi manusia di hadapan Allah.**

Pojok Pesantren Laa Roiba-Muara Enim, 02 September 2029

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *