Sumur Terakhir Adityawarman : Wartawan Senior Babel Tewas Penuh Luka Sayatan
Dewantara.id || Pangkalpinang, awal Agustus 2025. Matahari sudah condong ke barat ketika kabar itu sampai ke telinga komunitas pers Bangka Belitung: Adityawarman ditemukan tak bernyawa di dasar sumur kebun miliknya, di kawasan Dealova, Air Kepala Tujuh, Kecamatan Gerunggang. Bukan sekadar kematian. Tubuhnya penuh luka sayatan, seperti jejak amarah yang tak terkendali.
Kaos biru yang dikenakannya kusut, bercampur lumpur dan darah. Celana jeans biru, kaos kaki hitam abu-abu—semua menjadi saksi bisu akhir hidupnya. Polisi menduga, ia dibunuh sebelum dilempar ke sumur itu.
Sore itu, Jumat, 8 Agustus, hujan sempat mengguyur tipis. Namun dingin yang menusuk bukan datang dari cuaca, melainkan dari cerita yang mulai terkuak.
Hilang Kontak
Sehari sebelumnya, Kamis pagi, sekitar pukul 10.40 WIB, Adityawarman pamit kepada keluarga. “Bapak mau ke kebun, ketemu orang Swiss-Bell,” kata Nava Praditya Oktarila (23), anak sulungnya, mengulang pesan terakhir sang ayah.

Pukul 11.30, nomor ponsel Aditya mati. Tak ada kabar, tak ada pesan. Keluarga mulai gelisah. Malam berganti pagi, kegelisahan berubah jadi kecemasan. Jumat pagi, mereka resmi melapor ke SPKT Polda Kepulauan Bangka Belitung.
Kombes Pol Muhammad Rivai Arvan, Direktur Kriminal Umum Polda Babel, membenarkan laporan itu. Tim Jatanras pun bergerak.
Sumur dan Fakta Mengerikan
Polisi mengarah ke kebun Aditya. Di sana, di antara semak dan pohon yang memayungi tanah merah, sebuah sumur menjadi pusat perhatian. Di dalamnya, jasad Aditya terapung, tubuhnya penuh luka.
Tak butuh waktu lama, satu terduga pelaku dibekuk di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Mobil Daihatsu Terios putih BN 1397 TE milik Aditya ikut disita. Pelaku disebut-sebut adalah penjaga kebun korban. Motifnya? Polisi masih menelisik.
Sosok yang Kritis
Bagi dunia pers Babel, Adityawarman bukan nama asing. Lebih dari dua dekade ia mengarungi dunia jurnalistik. Dari reporter lapangan hingga menjadi Pemimpin Redaksi Okeyboz.com, ia dikenal kritis, teguh, dan tak mudah dibelokkan.
“Kami kehilangan sosok yang tak kenal takut,” kata seorang rekan seprofesi. Ia aktif di organisasi Pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS), sering terlibat dalam advokasi kebebasan pers.
Bagi sebagian orang, sikap seperti itu adalah kebanggaan. Bagi sebagian lainnya, bisa jadi ancaman.
Kilas Balik
Kematian Aditya mengingatkan kita pada risiko yang selalu mengintai jurnalis, terutama di daerah. Liputan tentang korupsi, konflik lahan, atau kriminalitas bisa memicu amarah pihak-pihak yang terusik.
Di Bangka Belitung, yang dikenal sebagai daerah tambang timah, jurnalis sering berada di garis tipis antara fakta dan bahaya. Tidak semua ancaman datang dalam bentuk ancaman verbal—ada yang berakhir tragis, seperti yang dialami Aditya.
Duka yang Mengendap
Jenazah Adityawarman kini berada di RS Bhayangkara Polda Babel untuk autopsi. Setelahnya, ia akan diantar pulang ke rumah terakhirnya.
Di ruang keluarga, foto-foto Aditya berjejer di dinding: saat ia meliput di tengah hujan, memegang mikrofon di forum diskusi, tersenyum di pesta pernikahan anak rekan. Semua kenangan itu kini tinggal diam.
Keluarga, sahabat, dan para kolega menunggu satu hal: keadilan. Polisi telah memulai langkah, tetapi waktu akan menguji apakah semua pelaku tertangkap, dan apakah motifnya benar-benar terungkap.
Sementara itu, sumur tua di kebun Dealova akan selamanya menjadi penanda: di sanalah, kisah seorang wartawan yang mengabdikan hidupnya untuk kebenaran, berakhir.
TEKS : YULIE AFRIANI | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

