Dari Semangus untuk Asia: Menyemai Harapan lewat Pondok Pesantren Al Turmudzi
3 mins read

Dari Semangus untuk Asia: Menyemai Harapan lewat Pondok Pesantren Al Turmudzi

Di sebuah dusun kecil bernama Semangus, Kecamatan Talang Ubi, PALI, Sumatera Selatan, hamparan tanah sepuluh hektar kini dipandang dengan tatapan penuh doa dan harapan. Di sanalah, rencana besar itu hendak ditanam: sebuah pondok pesantren yang digadang-gadang bakal menjadi terbesar se-Asia. Namanya, Pondok Pesantren Al Turmudzi.

Bagi KH. Muhtarul Anam atau akabr di panggil Gus Anam, sang penggagas, pesantren bukan sekadar tempat orang muda belajar membaca kitab kuning atau mendirikan salat berjamaah lima waktu. Ia membayangkan lebih jauh: sebuah rumah besar bagi umat, tempat lahirnya manusia-manusia baru yang berilmu, beriman, mandiri, dan siap menyumbang tenaga bagi bangsa.

“Pesantren ini akan kita bangun dengan konsep modern, tetapi ruh keilmuannya tetap pesantren,” katanya dengan nada mantap. “Santri bukan hanya alim, tapi juga mandiri, punya daya saing, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.”

Foto Gus Anam dengan Budi Caksono, Syaikh Amir usai konsolidasi rencana Pembangunan Pondok Pesantren, Al Turmudzi di PALI. Jumat, 5 September 2025, Soreang, Bandung

Pesantren dan Nafas Kehidupan

Warga Semangus menyambut kabar itu dengan suka cita. Di warung kopi pinggir jalan, obrolan tentang rencana pembangunan pesantren lebih hangat ketimbang kabar politik di televisi. Seorang petani karet menuturkan, “Kalau nanti ribuan santri datang, tentu ekonomi warga ikut bergerak. Tapi bukan itu saja, doa-doa mereka insyaAllah membawa berkah bagi dusun ini.”

Maka, sejak kabar itu diumumkan, suasana desa berubah. Anak-anak mengaji di mushala dengan suara lebih nyaring. Ibu-ibu yang menjemur kopi di halaman sambil bergurau merasa seakan turut menjaga sebuah mimpi besar. Gotong-royong membersihkan lahan pun berjalan dengan ringan, sebab yang mereka kerjakan bukan sekadar tanah, melainkan masa depan.

Tradisi yang Menyapa Modernitas

Ponpes Al Turmudzi hendak berdiri sebagai jembatan antara dua dunia. Di satu sisi, ia setia menjaga akar tradisi pesantren yang berabad-abad menjadi penopang Islam Nusantara. Kitab kuning, halaqah, dan majelis dzikir akan tetap menjadi denyut utama.

Namun, di sisi lain, Al Turmudzi juga membuka ruang bagi ilmu modern: sains, teknologi, bahkan ekonomi produktif. Para santri kelak tidak hanya fasih menafsir ayat, tetapi juga pandai mengelola usaha, memahami teknologi, hingga menjadi motor penggerak masyarakat.

Seperti sungai yang mengalir di sawah, pesantren ini hendak memberi kehidupan yang menyuburkan, menghubungkan nilai-nilai lama dengan kebutuhan zaman.

Jalan Panjang Menuju Peradaban

Kini, tim konsolidasi tengah merancang langkah-langkah penting: pembangunan fisik, penyusunan kurikulum, hingga strategi pendanaan. Semua ditata agar pesantren ini benar-benar berdiri tegak, tidak hanya sebagai bangunan megah, tetapi juga sebagai mercusuar peradaban Islam dari PALI untuk Asia.

KH. Muhtarul Anam menegaskan, pesantren ini bukan sekadar proyek pembangunan. “Ini adalah gerakan umat. Kita ingin pesantren ini melahirkan generasi rabbani—santri yang alim, tapi juga peduli, kreatif, dan berdaya guna bagi lingkungannya.”

menjadi pusat peradaban

Sejarah panjang Islam di bumi Nusantara menunjukkan, pesantren selalu menjadi pusat peradaban. Dari bilik-bilik pesantren lahir ulama, pemimpin, bahkan pahlawan bangsa. Kini, cita-cita itu hendak dihidupkan kembali dari sebuah dusun sederhana di PALI.

Ponpes Al Turmudzi adalah semacam janji. Janji bahwa ilmu tidak akan mati, bahwa tradisi tidak akan ditinggalkan, dan bahwa umat akan selalu punya tempat untuk pulang. Di atas tanah sepuluh hektar itu, doa-doa dipanjatkan, harapan ditanam, dan sejarah baru tengah disiapkan.

Kelak, jika pesantren itu benar-benar berdiri, anak-anak Semangus akan bisa berkata kepada dunia: dari desa kami, cahaya Islam pernah dinyalakan untuk Asia.

Kolase Foto Gus Anam dengan Budi Caksono, Syaikh Amir usai konsolidasi rencana Pembangunan Pondok Pesantren, Al Turmudzi di PALI, Jumat 5 September 2025 di Soreang, Bandung

TEKS : Sanjaygonzales/Essa | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *