Belajar dari Bengkel Z-AUTO: Pendidikan Kemandirian bagi Mustahiq Banyuasin
4 mins read

Belajar dari Bengkel Z-AUTO: Pendidikan Kemandirian bagi Mustahiq Banyuasin

Di sebuah bengkel kecil di Kelurahan Kayu Ara Kuning, Kecamatan Banyuasin III, tampak beberapa anak muda berdiri rapi, menyaksikan momen istimewa.

Kamis, 20 November 2025, pagi yang biasanya diisi dengan suara mesin dan denting kunci pas, berubah menjadi ruang belajar yang baru—bukan di kelas, bukan di ruang seminar, tetapi di sebuah bengkel rakyat.

Hari itu Bupati Banyuasin, Dr. Askolani Jasi, meresmikan Program Z-AUTO, sebuah inovasi Baznas yang menggabungkan edukasi keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan nilai-nilai kemandirian. Dengan pemotongan pita sederhana, bengkel Z-AUTO Wisnu Saputra resmi menjadi laboratorium belajar bagi mustahiq yang ingin mandiri melalui jalur keterampilan otomotif.

Pendidikan Kehidupan: Ketika Belajar Tidak Selalu di Ruang Kelas

Dalam sambutannya, Bupati Askolani menegaskan bahwa zakat bukan hanya tentang bantuan material, tetapi juga sarana pendidikan.

“Baznas adalah lembaga resmi negara yang bukan hanya menolong fakir miskin, tetapi juga mendidik masyarakat agar bertransformasi dari mustahiq menjadi muzakki, dari penerima menjadi pemberi.”

Baznas Lounching Program Z-AUTO.

Kalimat itu menggambarkan konsep pendidikan seumur hidup (lifelong learning)—bahwa belajar bukan milik bangku sekolah saja, tetapi berlangsung di mana saja, termasuk di bengkel kecil ini.

Z-AUTO hadir sebagai bentuk pendidikan vokasi berbasis kebutuhan lapangan. Para peserta tidak sekadar diberikan modal, tetapi juga pengetahuan teknis, etika kerja, serta manajemen usaha kecil. Semua itu adalah “kurikulum tersembunyi” yang sangat penting bagi masa depan mereka.

Kejujuran: Kompetensi Utama yang Tidak Ada di Buku Pelajaran

Salah satu pesan Bupati yang paling kuat adalah soal karakter.

“Dengan jujur usaha kalian akan maju. Tanpa kejujuran, semuanya akan runtuh.”

Dalam dunia pendidikan, ini disebut sebagai character building—pendidikan yang tidak hanya mengasah kecakapan kerja, tetapi juga kecakapan moral. Z-AUTO menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan karakter dapat diterapkan dalam program pemberdayaan sosial.

Para mustahiq yang hari itu menerima bantuan bukan hanya membawa alat dan modal pulang, tetapi juga membawa amanah untuk bekerja dengan integritas.
Inilah pelajaran terpenting yang tidak bisa diajarkan hanya lewat buku, tetapi melalui pengalaman nyata.

Data yang Menggambarkan Kerja Pendidikan Sosial Baznas

Ketua Baznas Kabupaten Banyuasin, H. Ah. Demiyati Mahasyar, menyampaikan laporan yang menunjukkan bagaimana zakat telah menjadi instrumen pendidikan sosial:

Hingga Oktober 2025, 4.723 penerima manfaat telah dibina. Dana yang disalurkan hampir Rp 4 miliar.

80% lebih dana zakat infaq berasal dari para ASN Banyuasin—menunjukkan budaya literasi zakat dan solidaritas sosial di lingkungan pemda.

Program Z-AUTO sendiri melibatkan kolaborasi tiga tingkat Baznas: Pertama; Baznas Kabupaten: Kedua; penerima, 2 Baznas Provinsi Sumsel: 1 penerima, dan Ketiga; Baznas RI: 3 penerima

Kiagus Aminuddin Fauzi, SE, perwakilan Baznas RI, menegaskan bahwa setiap bengkel menerima bantuan Rp 20 juta—modal dasar untuk memulai pembelajaran keterampilan otomotif secara mandiri.

Z-AUTO: Model Pembelajaran Vokasi dan Kemandirian Ekonomi

Program ini menjadi prototipe pendidikan vokasi pendek yang efektif:

Pertama; Berbasis kebutuhan lapangan, bukan sekadar teori, kedua; Memadukan pendidikan teknis dan moral. Ketiga; Menguatkan literasi ekonomi umat.

Memupuk kemandirian mustahiq melalui praktik langsung. Melibatkan pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat dalam proses pendampingan.

Di balik kesederhanaannya, bengkel ini kini menjadi ruang belajar yang hidup. Mustahiq belajar mengelola waktu, menghadapi pelanggan, merawat alat, menjaga integritas, dan membangun komunikasi—semua kompetensi yang menjadi fondasi dunia kerja modern.

Pendidikan Sosial yang Melibatkan Banyak Pihak

Launching Z-AUTO dihadiri oleh banyak tokoh, mulai dari Asisten II Ir. H. Alfian, aparat kepolisian, staf ahli, perwakilan kejaksaan, Pengadilan Agama, BLK, hingga perwakilan BSI.

Keberadaan mereka bukan sebatas seremonial, tetapi gambaran betapa pendidikan sosial harus menjadi tanggung jawab bersama.

Baznas Lounching Program Z-AUTO.

Pendidikan tidak lagi dibatasi oleh ruang-ruang kelas, tetapi menjadi gerakan kolektif yang melibatkan lintas sektor, lintas profesi, dan lintas keahlian.

Bengkel yang Mengajarkan Masa Depan

Ketika acara berakhir, enam peserta Z-AUTO berdiri di depan bengkel mereka masing-masing. Mata mereka berbinar, seolah menyadari bahwa hari itu bukan hanya tentang peresmian program, tetapi tentang membuka pintu masa depan baru.

Di meja-meja kerja, alat-alat bengkel tersusun rapi—simbol dari harapan baru.
Mereka bukan lagi sekadar mustahiq, tetapi calon teknisi, calon wirausahawan, dan calon pembelajar seumur hidup.

Program Z-AUTO akhirnya hadir bukan sebagai bantuan semata, melainkan sebuah model pendidikan berbasis kemandirian yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia hari ini.

Dari bengkel kecil inilah lahir pelajaran besar: bahwa pendidikan terbaik sering kali dimulai dari keberanian untuk mencoba dan ketulusan untuk berubah.

TEKS/FOTO : H AHIRMAN | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *