Caption foto : (Dari kiri) Efran, Redaktur tintamerah.co, berbincang dengan Kasat Intel Polres PALI, Iptu Eko Purnomo didampingi KBO Sat Intelkam, Iptu Najamuddin Hadi.
Dalam pertemuan ini, Efran menyampaikan rencana gelar diskusi publik visi-misi Bupati PALI dan meminta dukungan Polres PALI untuk menciptakan iklim demokrasi yang sehat tanpa kriminalisasi wartawan. (Foto: Istimewa)
PALI || Dewantara.id -, Di sebuah ruangan dengan sofa hitam yang tampak formal namun cair, sebuah pertemuan krusial berlangsung pada Kamis (26/03/2026).
Tidak ada sekat kaku antara kursi pejabat dan tamu. Di sana, redaktur tintamerah.co, Efran, duduk berhadapan dengan Kasat Intelkam Polres PALI, Iptu Eko Purnomo, yang didampingi KBO Sat Intelkam, Iptu Najamuddin Hadi.
Pertemuan ini bukan sekadar seremoni audensi biasa; ini adalah pertukaran gagasan, sebuah upaya membangun jejaring demi marwah jurnalistik di tanah kelahiran, Bumi Serepat Serasan.
Melawan Trauma KriminalisasiBagi Efran, melangkah ke markas Polres PALI membawa memori kolektif yang getir. Ia tidak menutup mata pada luka lama tahun 2020 silam, saat dirinya harus menjadi pesakitan di kursi tersangka di hadapan meja penyidik.
Pengalaman pahit itulah yang membuatnya berdiri tegak hari ini, menagih jaminan konkret dari Polres PALI: Tidak boleh ada lagi kriminalisasi terhadap wartawan.
“Kemerdekaan pers adalah harga mati,” tegas Efran dalam diskusi tersebut.
Ia menekankan bahwa kerja jurnalistik adalah pilar demokrasi yang dilindungi undang-undang, bukan objek yang bisa dipidanakan karena sentimen tertentu.
Pertengkaran Argumen, Bukan Sentimen
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut juga membedah rencana besar tintamerah.co untuk menggelar diskusi publik bertajuk visi dan misi Bupati Asgianto dan Wakil Bupati Iwan Tuaji.
Efran menegaskan bahwa agenda ini murni lahir dari kecintaannya pada kemajuan PALI, bukan pesanan politik untuk menjatuhkan atau mendiskreditkan pihak manapun.
“Kami ingin menciptakan ruang untuk ‘pertengkaran’ sehat. Pertengkaran dalam dialektika argumen, bukan sentimen pribadi. Ini adalah sarana edukasi bagi masyarakat,” ujar putra asli PALI tersebut.
Bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, Efran menegaskan bahwa forum ini dirancang sebagai arena dialektika yang sehat.
“Kami ingin menghadirkan narasumber yang kredibel, kompeten, dan yang paling penting : independen. Ini bukan panggung puji-pujian, tapi ruang untuk menguji gagasan melalui pertengkaran argumen, bukan sentimen,” tegas Efran dalam audensi bersama Kasat Intel Polres PALI.
Rencana ini akan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh pemuda, akademisi, praktisi hukum, hingga seluruh stakeholder di Kabupaten PALI. Diskusi ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat mengenai arah pembangunan daerah di bawah kepemimpinan baru.
Efran juga berkomitmen menjadikan medianya sebagai mitra strategis Polri untuk menangkal hoaks dan menjaga stabilitas keamanan melalui informasi yang akurat dan edukatif.
Respons Profesional Korps BhayangkaraMenanggapi tekanan dan harapan tersebut, Kasat Intel Polres PALI, Iptu Eko Purnomo, menyambut dengan tangan terbuka.
Sebagai pejabat yang membidangi intelijen dan keamanan, ia menyadari betul bahwa wartawan adalah jembatan informasi yang krusial bagi masyarakat.
Ia menegaskan komitmennya untuk bekerja secara profesional dan mendukung penuh program-program edukatif dari tintamerah.co, termasuk rencana diskusi publik yang digagas.
“Kami mendukung sinergitas ini. Peran media sangat penting dalam membantu tugas intelijen, terutama dalam deteksi dini potensi konflik melalui pemberitaan yang berimbang,” ungkap Iptu Eko.
Sinergi Tanpa KompromiPertemuan ini menjadi langkah konkret menuju komunikasi yang lebih fleksibel namun tetap menjunjung tinggi profesionalisme.
Kedua belah pihak sepakat bahwa stabilitas di PALI tidak hanya dibangun dengan tindakan pengamanan, tetapi juga melalui narasi berita yang bertanggung jawab.
Di atas meja kaca yang dipenuhi toples cemilan dan tisu, sebuah kesepahaman baru lahir : Bahwa antara pena wartawan dan kebijakan aparat, harus ada ruang dialog demi satu tujuan besar—PALI yang aman, damai, dan merdeka dalam bersuara.
Sumber : Efran

