Janji “Tamparan” di Condet: Ketika Sang Jurnalis Menguji Ketangguhan Putra Sang Prajurit

CERPEN SURAT PEMBACA

Caption foto:
Momen penuh haru dan bangga saat pelantikan Shevano Junierdo Mipeja sebagai prajurit TNI di Rindam Jaya, Jakarta Timur, 16 Agustus 2024. Selamat bertugas untuk nusa dan bangsa. (Foto: Dok. Pribadi)

JAKARTA || Dewantara.id – Siang itu, mentari perlahan menampakan diri diatas langit Condet, Jakarta Timur, pada 16 Agustus 2024.

Namun, aura ketegasan dan kebanggaan sedari pagi sudah membakar lapangan Rindam Jaya/Kodam III Jaya. Di antara deru napas 600 prajurit muda yang berasal dari Kodam I/Bukit Barisan, Kodam II/Sriwijaya, hingga Kodam III/Siliwangi, terselip sebuah kisah personal yang melampaui sekadar seremoni militer.

Efran, seorang jurnalis asal PALI sekaligus Redaktur tintamerah.co, berdiri di antara kerumunan orang tua. Matanya yang biasa tajam membedah data dan fakta investigasi, kini bergerak liar, mencari satu sosok di tengah lautan seragam hijau loreng.

Selama lima menit, ia berputar-putar, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada sosok pemuda yang berdiri tegap bagai karang : Shevano Junierdo Mipeja.

Sebuah Janji di Balik Baret

Bagi banyak orang tua, pelantikan adalah momen peluk cium dan tangis haru. Namun, bagi Efran, ada sebuah “utang” yang harus dibayar. Jauh sebelum hari itu, saat Shevano—yang akrab disapa Sheva—memulai masa pendidikan yang menguras fisik dan mental, sang ayah sempat melontarkan janji yang tak lazim.

Bang, nanti saat pelantikan, Ayah akan mengetesmu. Ayah akan menampar pipimu dan memukul perutmu,” kenang Efran saat itu.

Bagi Efran, itu bukan bentuk kekerasan, melainkan simbolis pengujian. Sebagai “penjuru pena” yang terbiasa menghadapi tekanan dan intimidasi dalam tugas jurnalistiknya di PALI, ia ingin memastikan bahwa darah yang mengalir di tubuh putra sulungnya adalah darah pejuang yang tahan banting.

Begitu jarak mereka terkikis, suasana haru seketika pecah namun tetap terasa maskulin. Efran memenuhi janjinya. Plak! Beberapa tamparan mendarat di pipi Sheva, disusul rentetan pukulan di perut. Tak ada rintihan. Sheva tetap bergeming, berdiri kokoh dengan tatapan tajam yang mencerminkan kedewasaan setelah empat bulan digembleng di kawah candradimuka militer: Pelantikan Tamtama TNI AD Gelombang I TA 2024 di Rindam Jaya.

Kebanggaan di Balik Seragam
Tamparan itu kemudian mencair menjadi pelukan hangat yang sangat erat. Di sanalah, air mata bangga seorang ayah tak lagi bisa terbendung.

Sang jurnalis yang biasanya kritis, hari itu tunduk pada rasa syukur. Putranya kini bukan lagi remaja biasa; ia adalah Prajurit TNI yang siap mengabdi pada negara.
Pelantikan 600 prajurit dari berbagai komando daerah militer ini menjadi saksi bahwa kedisiplinan dan doa adalah kunci. Efran melihat Sheva bukan hanya sebagai anak, tapi sebagai representasi dari regenerasi keberanian yang ia tanamkan lewat tulisan-tulisannya.


Dari Condet ke Bumi Cendrawasih

Kini, momen haru di Condet itu telah menjadi kenangan penguat. Pasca-pelantikan, Shevano Junierdo Mipeja langsung mendapatkan amanah besar. Tak tanggung-tanggung, ia ditugaskan untuk mengabdi secara organik di Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 818/Yuboi, Merauke, Papua Selatan.

Bagi keluarga di PALI, jarak Jakarta ke Papua mungkin terasa sangat jauh. Namun bagi Efran, “tamparan” dan “pukulan” di hari pelantikan itu adalah bekal mental bagi Sheva. Bahwa di manapun ia berpijak—bahkan di medan tersulit sekalipun—ia tetaplah putra seorang pejuang pena yang tangguh, yang tahu cara berdiri tegak meski badai menerjang.

Janji itu sudah lunas. Kini, saatnya Sheva menuliskan sejarahnya sendiri melalui pengabdian tulus di ufuk timur Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *