PALEMBANG || Dewantara.id – Di ruang Gedung PPG Kampus Jakabaring, Palembang, Jumat siang itu, suasana tidak sekadar menandai sebuah seremoni organisasi.
Ia lebih menyerupai pertemuan gagasan—tempat di mana ingatan akademik, pengalaman profesional, dan harapan masa depan bertemu dalam satu forum. UIN Raden Fatah Palembang melalui Simposium Alumni dan pengukuhan Ikatan Keluarga Alumni (IKARAFA) periode 2026–2030, mencoba merumuskan kembali makna alumni dalam lanskap pendidikan tinggi.
Pengukuhan Prof. Dr. Suyitno, M.Ag sebagai Ketua Umum IKARAFA menjadi penanda awal dari fase baru. Namun, lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan, momentum ini menyiratkan kebutuhan untuk mereposisi alumni sebagai aktor strategis—bukan hanya sebagai bagian dari sejarah institusi, melainkan sebagai kekuatan yang aktif membentuk masa depan.
BACA ARTIKEL TERKAIT :
IKARAFA, Antara Gendang dan Botol-Botol Kosong
Tema yang diangkat, “Berkarya dan Bersinergi untuk Indonesia Berdaya”, tidak berhenti pada slogan. Ia menjadi kerangka berpikir yang mengarahkan diskusi, sekaligus menantang para alumni untuk menerjemahkannya ke dalam praktik nyata. Dalam konteks pendidikan, sinergi bukan sekadar kerja bersama, tetapi kemampuan menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Simposium menghadirkan beragam perspektif. Prof. Dr. M. Sirozi, M.A., Ph.D., Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang berbicara dari sudut akademik, menekankan pentingnya kontinuitas intelektual antara kampus dan alumni.
Sementara itu, pengalaman lapangan yang dibawa Kombes Pol. Ichlas Gunawan, S.Ag., BNNP Kepulauan Bangka Belitung, Letkol Inf. Sobirin, S.Ag., M.Si, Dandodiklatpur Rindam II/Sriwijaya, serta AKBP Ali Sadikin, S.Ag., M.Si., Kasubdit Waster Ditpamobvit Polda Sumsel memperluas cakrawala diskusi ke ranah praktis—tentang bagaimana nilai-nilai pendidikan diterapkan dalam sektor keamanan dan pelayanan publik.
Diskusi berlangsung dinamis, memperlihatkan satu benang merah: alumni tidak lagi cukup hanya menjadi representasi keberhasilan pendidikan, tetapi harus menjadi penggerak perubahan. Dalam era global yang ditandai percepatan teknologi dan kompleksitas sosial, peran ini menjadi semakin mendesak.
Data yang mengemuka cukup signifikan. Hingga 2026, jumlah alumni UIN Raden Fatah mencapai 44.321 orang. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potensi kolektif yang besar.
Dalam perspektif akademik, jejaring alumni merupakan social capital yang dapat dimobilisasi untuk berbagai kepentingan—dari penguatan riset, pengembangan kurikulum, hingga pemberdayaan masyarakat.
Kesadaran inilah yang mendorong peluncuran IKARAFA Digital Hub SyFa—platform digital yang dirancang sebagai ruang konektivitas alumni. Digitalisasi, dalam konteks ini, bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang membangun ekosistem kolaborasi yang melampaui batas geografis. Ia membuka kemungkinan baru bagi alumni untuk berbagi pengetahuan, sumber daya, dan peluang.
Rektor UIN Raden Fatah, Prof Dr Muhammad Adil, melihat momentum ini sebagai upaya mengonsolidasikan potensi alumni yang kian meluas, bahkan hingga tingkat global. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi bersifat lokal, melainkan terhubung dalam jaringan global yang saling memengaruhi.
Namun, konsolidasi tidak cukup hanya dengan struktur organisasi atau platform digital. Ia membutuhkan partisipasi aktif dan kesadaran kolektif.
Dalam konteks ini, alumni dituntut untuk tidak sekadar hadir secara simbolik, tetapi terlibat secara substantif dalam berbagai inisiatif.
Suyitno, dalam pandangannya sebagai pemimpin baru IKARAFA, menyebut momentum ini sebagai titik kebangkitan.
Ia menekankan bahwa keberagaman profesi alumni—dari akademisi hingga aparat negara—merupakan kekuatan yang harus diintegrasikan. Pernyataan ini mengandung implikasi penting: bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi tantangan zaman.
Dalam perspektif pendidikan, fenomena ini menunjukkan pergeseran paradigma. Alumni tidak lagi diposisikan sebagai “produk akhir” dari proses pendidikan, melainkan sebagai bagian dari siklus pembelajaran yang berkelanjutan.
Mereka kembali ke institusi, membawa pengalaman, memperkaya wacana, dan membuka peluang baru bagi generasi berikutnya.
Kehadiran alumni lintas generasi dalam forum ini memperkuat gagasan tersebut. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara almamater dan alumni bukan hubungan satu arah, melainkan dialog yang terus berlangsung.
Di dalamnya, terdapat pertukaran pengetahuan, nilai, dan pengalaman yang membentuk ekosistem pendidikan yang dinamis.
Pada akhirnya, simposium ini tidak hanya berbicara tentang organisasi alumni, tetapi tentang bagaimana pendidikan tinggi membangun relevansinya di tengah masyarakat.
Ketika alumni mampu bersinergi dan bergerak bersama, pendidikan tidak lagi berhenti di ruang kelas. Ia hidup dalam praktik, dalam pengabdian, dan dalam kontribusi nyata bagi bangsa.
Di ruang itu, di antara pidato dan diskusi, tampak sebuah upaya untuk menenun kembali hubungan yang sempat renggang—antara ilmu dan kehidupan, antara kampus dan masyarakat.
Sebuah upaya yang, jika terus dirawat, dapat menjadi fondasi bagi pendidikan yang lebih berdaya dan bermakna.
Kontributor: Alma | Editor : Riska / Imron | Fotografer: Rofiq/Angga

