Pengajian ICMI ORDA Muara Enim Mengajak Masyarakat Menemukan Kembali Makna Keikhlasan dalam Ibadah
DEWANTARA.ID – Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang berlomba memperbanyak amal ibadah. Masjid ramai, majelis taklim tumbuh di berbagai tempat, dan kajian keislaman semakin mudah diakses. Namun, di balik semarak aktivitas keagamaan itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah ibadah yang dilakukan telah benar-benar menghadirkan Allah dalam hati?
Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam Pengajian Bulanan ICMI ORDA Muara Enim yang digelar di Masjid Al Fatih, Desa Lubuk Empelas, Jumat (24/7/2026). Mengangkat tema “Bagaimana Agar Shalat Khusyuk dan Terhindar dari Riya’”, kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum., Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim sekaligus dosen UIN Raden Fatah Palembang.
Lebih dari sekadar forum ceramah, pengajian ini menjadi ruang refleksi tentang pentingnya pendidikan hati dalam kehidupan seorang muslim.
Membangun Tradisi Keilmuan di Tengah Masyarakat
Sejak sore hari, jamaah mulai memadati Masjid Al Fatih. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus masjid, tokoh agama, tokoh adat, perangkat desa, hingga jamaah majelis taklim. Hadir pula sejumlah pengurus ICMI ORDA Muara Enim, di antaranya Drs. KH. Sakdullah, SH., MH., KH. Jumali, S.Pd.I. dari Pondok Pesantren Al Falah Putak, Sekretaris ICMI ORDA Muara Enim H. Eem Ibrahim, serta pengurus lainnya.
Bagi ICMI, pengajian bulanan bukan hanya agenda organisasi, melainkan bagian dari upaya membangun budaya belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat.
Wakil Ketua ICMI ORDA Muara Enim, Ardian Arifanardi, AP., M.Si., menegaskan bahwa dakwah tidak boleh berhenti di pusat kota. Menurutnya, masyarakat di desa-desa juga berhak memperoleh akses terhadap kajian keislaman yang berkualitas.
“Ke depan, pengajian seperti ini akan terus kami kembangkan hingga menjangkau berbagai kecamatan, termasuk wilayah Semendo. Kami ingin tradisi ilmu dan dakwah hadir lebih dekat dengan masyarakat di pelosok desa,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau lembaga formal, tetapi juga tumbuh melalui majelis-majelis ilmu yang hidup di tengah masyarakat.
Ketika Fikih dan Tasawuf Bertemu
Dalam dunia pendidikan Islam, fikih sering menjadi pintu pertama yang dipelajari umat. Dari fikih, seseorang memahami tata cara beribadah yang benar, mulai dari wudhu, shalat, puasa, zakat hingga haji.
Namun, menurut Ustadz Imron Supriyadi, pendidikan Islam yang utuh tidak cukup berhenti pada aspek lahiriah semata.
Ia mengajak jamaah untuk kembali membuka khazanah kitab-kitab tasawuf yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan Islam.
“Fikih mengajarkan bagaimana ibadah dilakukan dengan benar. Tetapi tasawuf mengajarkan bagaimana ibadah itu hidup di dalam hati,” jelasnya.
Pernyataan tersebut mengandung pesan pendidikan yang mendalam. Jika fikih berbicara tentang syarat sah shalat, maka tasawuf berbicara tentang bagaimana menghadirkan kekhusyukan dalam shalat. Jika fikih menjelaskan gerakan-gerakan ibadah, maka tasawuf membimbing manusia memahami makna dan ruh di balik setiap gerakan tersebut.
Dalam perspektif pendidikan Islam, fikih dan tasawuf bukanlah dua disiplin yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Fikih menjaga benar atau tidaknya ibadah secara syariat, sedangkan tasawuf menjaga kualitas batin dan keikhlasan pelakunya.
Pendidikan Hati: Pelajaran yang Sering Terlupakan
Salah satu bagian menarik dalam kajian tersebut adalah pembahasan tentang Tazkiyatul Qulub lil A’mal atau penyucian hati dalam setiap amal ibadah.
Ustadz Imron mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang rajin beribadah tetapi kurang memperhatikan kebersihan hatinya. Akibatnya, amal yang telah dikumpulkan dengan susah payah justru kehilangan nilainya karena penyakit hati yang tidak disadari.
Dalam dunia pendidikan modern, aspek kognitif sering mendapat perhatian besar. Anak didorong untuk cerdas, berprestasi, dan menguasai banyak pengetahuan. Namun pendidikan Islam mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kecerdasan spiritual dan moral.
Di sinilah pentingnya pendidikan hati.
Hati yang bersih akan melahirkan keikhlasan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kesombongan, iri hati, atau riya’ akan merusak kualitas amal meskipun secara lahiriah terlihat baik.
Bahaya Ghibah bagi Kehidupan Spiritual
Salah satu penyakit hati yang mendapat perhatian khusus dalam kajian tersebut adalah ghibah atau menggunjing.
Menurut Ustadz Imron, ghibah sering dianggap dosa kecil karena dilakukan melalui percakapan sehari-hari. Padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas spiritual seseorang.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang menggambarkan orang yang berghibah seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Gambaran tersebut menunjukkan betapa beratnya dosa ghibah di sisi Allah.
Dalam konteks pendidikan karakter, ghibah bukan sekadar persoalan lisan, tetapi juga mencerminkan kegagalan seseorang mengendalikan hati. Ketika seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, ia kehilangan kesempatan untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Karena itu, pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana berbicara yang baik, tetapi juga bagaimana menjaga hati agar tidak dipenuhi prasangka, kebencian, dan keinginan menjatuhkan orang lain.
Masjid sebagai Sekolah Kehidupan
Suasana pengajian yang berlangsung hangat dan interaktif menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kerinduan besar terhadap ilmu-ilmu yang menyentuh persoalan kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari jamaah tidak hanya berkisar tentang hukum ibadah, tetapi juga tentang cara menjaga keikhlasan, menghadirkan kekhusyukan, dan membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masjid sesungguhnya bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga sekolah kehidupan. Di dalamnya berlangsung proses pendidikan yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memandang kehidupan.
Melalui pengajian bulanan ini, ICMI ORDA Muara Enim berupaya menghadirkan pendidikan Islam yang menyentuh dua sisi sekaligus: kecerdasan akal dan kejernihan hati. Sebab, sebagaimana ditegaskan para ulama, ilmu yang tidak melahirkan akhlak akan kehilangan arah, sementara ibadah yang tidak dibangun di atas hati yang bersih akan kehilangan ruhnya.
Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, pesan itu terasa semakin relevan. Bahwa membangun peradaban tidak cukup hanya dengan memperbanyak amal, tetapi juga dengan memperbaiki hati yang menjadi sumber dari setiap amal itu sendiri.
Karena pada akhirnya, kualitas seorang muslim tidak hanya diukur dari seberapa banyak ia beribadah, tetapi juga dari seberapa bersih hati yang dibawanya ketika beribadah. (*)


