YOGYAKARTA, DEWANTARA.ID — Empat mahasiswa angkatan pertama (2024) Program Studi Seni Intermedia Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang tergabung dalam Kolektif IBU menggelar pameran perdana bertajuk “Benah Benih”.
Pameran seni eksperimental ini dibuka pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 16.00 WIB di Rumah Jala Production milik Bonnie Hermansyah, Jalan Jogoripon Barat, Geneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.
Pameran yang membedah narasi seputar sosok “Ibu” dan memori personal ini dibuka oleh seniman senior Yogyakarta Samuel Indratma, dengan catatan kuratorial yang ditulis oleh Syam Terajana.
Kritik “Sampah Seni” hingga Ekskavasi Memori
Kolektif yang digawangi oleh empat mahasiswa—Bagus Lintang Pamungkas (Bagus), Yazid Ibrahim Movic Albadi (Bram), Muhammad Hanan Izzuddin (Izzu), dan Naufal Al Rabbani (Naufal)—menyuguhkan pendekatan interdisiplin yang berani.
Salah satu sorotan tajam datang dari karya Bagus yang berjudul Adopsi Seri.
Berangkat dari niat awal menghemat biaya produksi, Bagus mendaur ulang lukisan-lukisan rusak yang dibuang dan telantar di tempat pembuangan sampah belakang gedung kampusnya, ISI Surakarta. Karya-karya milik orang lain yang sudah tak terawat tersebut ia tampilkan ulang dengan menyertakan tanggal dan nama seniman yang masih terlacak.

“Lukisan yang hadir ini yang rusak-rusak ini bukan buatanku semua, buatan orang lain. Aku dapet dari kampusku dikumpulin untuk mengkritik, tapi gak cuma menyudutkan pembuatnya ataupun kampusnya, tapi mencoba membuka ajakan refleksi gimana sih kenapa kurang menghargai hasil kerja payahnya sendiri. Menurutku kayak ya rada aneh kampus seni memproduksi atau menjadi produsen sampah seni,” ujar Bagus.
Sementara itu, seniman lain seperti Bram, Izzu, dan Naufal lebih banyak mengekskavasi memori personal, tumpuk ingatan, dan pengalaman emosional seputar rumah, keluarga, dan ibu. Bram menjelaskan bahwa seni intermedia memungkinkannya “mengawinkan” berbagai disiplin medium yang awalnya terasa berjarak demi menyampaikan sebuah kritik, makna, atau pesan kepada masyarakat luas.
Keluar dari “Kandang” Solo
Bram mengungkapkan bahwa Kolektif IBU pertama kali terbentuk secara spontan di trotoar Universitas Sebelas Maret (UNS) saat momen buka puasa bersama pada bulan Ramadan 2026. Nama “Benah Benih” dipilih sebagai simbol membenahi rasa sekaligus menjadi benih awal pertumbuhan kolektif agar bisa bergelut di medan seni rupa yang lebih luas.
Keputusan mereka memamerkan karya di Yogyakarta sengaja diambil untuk keluar dari zona nyaman. “Medan seni rupa yang kita baca pinginnya kita itu gak cuma dari Solo… Kita mencoba untuk membuka relasi atau melihat di depan ini orang-orangnya seperti apa. Jadi kita mencoba mencari koneksi, menambah pertemanan layaknya sebuah kolektif yang harusnya berkolaborasi,” jelas Bram.
Tafsir Ibu Lewat Oplosan Medium
Dalam catatan kuratorialnya, penulis Syam Terajana menyebutkan bahwa pendekatan intermedia berhasil memproduksi tafsir bertema “ibu” lewat awuran medium yang sangat beragam—mulai dari daster, cetakan gambar, saset kopi, teks, performans, cermin, sajadah, hingga aroma dan cemilan.
Lewat karya-karya ini, ingatan tentang ibu tidak lagi tunggal dan personal. “Ibu, berusaha dihadirkan lewat ketidakhadirannya,” tulis Syam, seraya menambahkan bahwa pameran ini tak sengaja menjadi semacam terapi kolektif atau metode “benah rasa” bagi para senimannya.

Di sisi lain, Samuel Indratma mengapresiasi keberanian para mahasiswa angkatan pertama ini dalam meracik “oplosan” medium. Menurut Samuel, tantangan terbesar seni intermedia adalah bagaimana seniman jeli memaknai kebebasan media yang mereka pilih.
Ia juga menekankan bahwa pameran perdana ini merupakan pintu masuk yang potensial. “Keberhasilan kerja seni adalah keberhasilan yang continuity-nya yang perlu, jadi punya kans untuk diteruskan, diperdalam lagi kemudian dihadirkan kembali ke publiknya… menakar kembali apa yang ditemukan untuk perjalanan di kemudian hari,” pungkas Samuel.*
Teks/Foto : Jajang R Kawentar

