PALEMBANG || DEWANTARA.ID — Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pembentukan karakter, penguatan moral, dan penanaman nilai keagamaan juga tumbuh dari keluarga, lingkungan sosial, lembaga keagamaan, serta keteladanan para pemimpin umat. Karena itu, peran ulama menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026 yang digelar di Asrama Haji Palembang, Jumat (7/8/2026).
Jajaran pimpinan MUI Kabupaten Muara Enim turut hadir dalam pembukaan Musda tersebut. Mereka adalah Ketua Umum MUI Kabupaten Muara Enim Dr. H. Solihan, M.Pd., Wakil Ketua Umum Dr. H. Syachril, S.H., M.Si., M.H.I., serta Sekretaris Umum H. Muhammad Taufik, S.Ag., M.E., M.M.

Kehadiran mereka tidak sekadar menjadi bagian dari agenda organisasi. Musda menjadi ruang penting bagi para pengurus MUI kabupaten/kota untuk bertukar gagasan, memperkuat silaturahmi, sekaligus membaca berbagai perubahan yang sedang dihadapi masyarakat.
Musda XI MUI Sumatera Selatan diikuti 119 peserta. Forum tersebut juga dihadiri Ketua MUI Provinsi Sumatera Selatan Prof. Dr. KH. Aflatun Muchtar, M.A., perwakilan MUI Pusat Prof. Dr. Armai Arief, M.A., unsur Forkopimda, organisasi kemasyarakatan Islam, ulama, pimpinan pondok pesantren, akademisi, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya.
Pendidikan Karakter di Era Digital
Salah satu tantangan besar dunia pendidikan saat ini adalah perubahan lingkungan belajar akibat perkembangan teknologi digital. Anak-anak dan generasi muda tidak lagi memperoleh pengetahuan hanya dari sekolah, buku, guru, atau orang tua. Mereka juga belajar dari media sosial, mesin pencari, platform video, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus risiko.
Di satu sisi, teknologi dapat memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga menghadirkan persoalan baru: misinformasi, konten negatif, krisis keteladanan, hingga menurunnya kemampuan sebagian anak dalam menyaring informasi secara kritis.
Dalam konteks ini, pendidikan agama tidak cukup hanya memberikan pengetahuan mengenai benar dan salah. Pendidikan juga perlu membentuk kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, memiliki akhlak, bertanggung jawab, dan mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.
Di sinilah sinergi ulama, pendidik, orang tua, dan pemerintah menemukan relevansinya.
Ulama dan Tantangan Generasi Muda
Musda XI MUI Sumatera Selatan mengangkat tema “Optimalisasi Peran MUI sebagai Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah dalam Memperkuat Sinergisitas Ulama, Umara dan Umat Menuju Sumsel Maju untuk Semua.”
Tema tersebut memiliki kaitan erat dengan dunia pendidikan. Membangun masyarakat yang maju tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga membutuhkan manusia yang berilmu, berkarakter, memiliki integritas, dan mampu menghadapi perubahan.
Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang paling membutuhkan perhatian. Mereka hidup dalam lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi tersedia dalam jumlah sangat besar, tetapi tidak semuanya memiliki nilai edukatif. Karena itu, kemampuan memilih informasi dan membangun karakter menjadi semakin penting.
MUI dapat mengambil peran melalui pendidikan keagamaan, penguatan literasi digital, pembinaan keluarga, pemberdayaan pesantren, serta kerja sama dengan lembaga pendidikan.
Dari Rekomendasi Menuju Program Nyata
Musda juga menjadi momentum untuk membicarakan berbagai agenda strategis, mulai dari pelayanan umat, sinergi ulama dan umara, pengembangan ekonomi syariah, sertifikasi halal, pembinaan generasi muda, hingga literasi digital dan AI.
Tantangannya adalah bagaimana berbagai gagasan tersebut tidak berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas.
Bagi MUI Kabupaten Muara Enim, kehadiran dalam Musda XI menjadi kesempatan untuk menyerap gagasan yang dapat dikembangkan di tingkat daerah. Program-program keumatan akan semakin bermakna apabila mampu menjawab persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Dalam bidang pendidikan, misalnya, penguatan karakter dapat dilakukan melalui kerja sama dengan sekolah dan pesantren. Literasi digital dapat dikembangkan melalui edukasi kepada pelajar dan orang tua. Sementara pembinaan generasi muda dapat diarahkan pada penguatan keimanan sekaligus keterampilan menghadapi dunia yang semakin digital.
Dengan demikian, peran MUI tidak hanya hadir ketika persoalan muncul, tetapi ikut membangun sistem pencegahan dan pembinaan sejak dini.
Menyiapkan Generasi Masa Depan
Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik. Pendidikan adalah proses menyiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupan dengan ilmu, karakter, dan tanggung jawab.
Karena itu, Musda XI MUI Sumatera Selatan dapat menjadi momentum untuk memperluas cara pandang terhadap pelayanan umat. Ulama tidak hanya memiliki ruang untuk berbicara mengenai persoalan keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membangun ekosistem pendidikan yang sehat.
Kehadiran pimpinan MUI Kabupaten Muara Enim dalam forum tersebut menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat peran tersebut. Konsolidasi organisasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan program yang menyentuh keluarga, sekolah, pesantren, dan generasi muda.
Sebab, kualitas masa depan Sumatera Selatan sangat ditentukan oleh kualitas generasi yang dipersiapkan hari ini.
Musda boleh selesai. Namun pekerjaan membangun umat, mendidik generasi, dan menanamkan karakter tidak pernah selesai.
Teks/Foto : Humas MUI Muara Enim | Editor : Imron Supriyadi

