Kolaborasi MUI Muara Enim dan PT TEL Menguatkan Dakwah, Literasi Keagamaan, dan Pemberdayaan Masyarakat

PERISTIWA AGAMA EKBIS FIQH MUAMALAH MUARA ENIM

MUARAENIM || DEWANTARA.ID – Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan umat. Di tengah derasnya arus industrialisasi dan modernisasi, masyarakat tidak hanya membutuhkan kemajuan ekonomi, tetapi juga penguatan nilai spiritual dan pendidikan keagamaan yang mampu menjadi penuntun kehidupan.

Kesadaran itulah yang tampak dalam audiensi antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Enim dan PT Tanjung Enim Lestari (TEL) di ruang pertemuan perusahaan, Selasa (19/5/2026). Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi formal, melainkan ruang dialog tentang bagaimana pendidikan keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan dunia industri.

Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, para ulama dan jajaran manajemen perusahaan membicarakan berbagai program pembinaan masyarakat, mulai dari dakwah, pelatihan imam dan khatib, penguatan ekonomi umat, hingga pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM.

Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, H Taufik Rahman, menegaskan bahwa pendidikan umat tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Menurutnya, dakwah harus mampu hadir menjawab kebutuhan zaman.

“Pembinaan keagamaan tidak cukup hanya dilakukan di mimbar. Dakwah juga harus menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata melalui pendidikan, pemberdayaan, dan pendampingan sosial,” ujarnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam hari ini tidak lagi dimaknai sebatas proses belajar di ruang kelas atau majelis taklim, tetapi juga sebagai upaya membangun karakter, etika sosial, dan kesadaran spiritual masyarakat.

Ketua Umum MUI Muara Enim, Dr KH Solihan, dalam kesempatan itu mengibaratkan MUI sebagai “sapu lidi” yang mempersatukan berbagai elemen umat Islam. Ia menyebut organisasi-organisasi seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang berdaya dan berakhlak.

“Satu lidi mudah dipatahkan, tetapi ketika disatukan akan menjadi kuat. Karena itu, pendidikan umat memerlukan kolaborasi semua pihak,” katanya.

Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada program dakwah konvensional. MUI Muara Enim juga mulai mengembangkan kajian fikih kontemporer yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.

Salah satu contoh yang dibahas adalah persoalan halal dan kesucian dalam usaha laundry. Menurut Solihan, pakaian yang digunakan untuk beribadah tidak hanya harus bersih secara fisik, tetapi juga suci menurut syariat Islam.

Karena itu, proses pencucian, bahan pembersih, hingga tata kelola usaha laundry perlu dikaji secara fikih agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar.

“Ini bagian dari pendidikan umat juga. Masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa aspek halal dan suci tidak hanya berlaku pada makanan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari PT TEL. HR & CA Director PT TEL, Mochamad Amrodji, menilai bahwa perkembangan teknologi dan industri modern harus tetap diimbangi dengan penguatan moral dan spiritual.

Menurutnya, perusahaan tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang terampil secara teknis, tetapi juga memiliki karakter dan nilai-nilai religius.

“Teknologi bisa berkembang sangat cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan nilai agama sebagai pegangan hidup,” ujarnya.

Karena itu, PT TEL membuka peluang kerja sama dalam berbagai program pendidikan dan pembinaan masyarakat, seperti pelatihan khatib dan imam, pelatihan juru sembelih halal (Juleha), pengurusan jenazah, hingga pendampingan sertifikasi halal bagi UMKM binaan perusahaan.

Dalam dialog tersebut, pembahasan tentang pendidikan karakter juga muncul ketika Anggota Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, KH Taufik Hidayat, menyoroti pentingnya dimensi spiritual dalam budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Pendiri Pondok Pesantren Pondok Pesantren Laa Roiba itu menilai keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada aturan dan prosedur, tetapi juga pada kesadaran moral pekerja.

“Orang yang bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaannya adalah amanah akan lebih bertanggung jawab dan berhati-hati,” katanya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dan spiritualitas tetap relevan bahkan di lingkungan industri modern. Nilai tanggung jawab, disiplin, dan kesadaran moral menjadi bagian penting dalam membangun budaya kerja yang sehat dan aman.

Pertemuan itu akhirnya melahirkan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antara MUI Muara Enim dan PT TEL dalam bidang dakwah, pendidikan umat, ekonomi syariah, dan pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi contoh bahwa dunia industri dan lembaga keagamaan dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pendidikan umat memang membutuhkan lebih banyak ruang kolaborasi. Sebab masa depan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, melainkan juga oleh kekuatan nilai, karakter, dan akhlak yang terus ditanamkan kepada generasi bangsa.

TEKS/FOTO : Imron Supriyadi | Editor : Newsroom/Essa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *