PALEMBANG || Dewantara.id – Pagi itu, suasana Masjid Al Latif terasa berbeda. Di serambi masjid, puluhan lansia duduk melingkar.
Ada yang membuka mushaf dengan hati-hati, ada pula yang masih menata huruf demi huruf dengan suara lirih. Bukan kelas biasa, melainkan ruang belajar yang lahir dari kesadaran sederhana: pendidikan tidak pernah mengenal kata terlambat.
Melalui Kantor Urusan Agama Kecamatan Alang-Alang Lebar, program Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Lansia resmi diluncurkan, Jumat (24/4/2026).
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan keagamaan yang inklusif, menjangkau kelompok usia lanjut yang selama ini kerap luput dari perhatian sistem pembelajaran formal.
Sebanyak 51 peserta mengikuti program ini. Mereka datang dari beragam latar belakang: 25 orang merupakan jamaah masjid, sementara 26 lainnya berasal dari luar lingkungan. Keberagaman ini mencerminkan satu hal yang sama—semangat untuk belajar kembali.
Bagi Kepala KUA Alang-Alang Lebar, Zulfikar Ali Fajri, program ini merupakan wujud nyata pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning) dalam konteks keagamaan.
“Para lansia tetap memiliki hak yang sama untuk belajar. Justru di usia inilah, kebutuhan spiritual semakin kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan pendidikan bagi lansia tidak bisa disamakan dengan usia produktif. Dibutuhkan metode yang lebih sabar, fleksibel, dan humanis. Karena itu, TPA Lansia dirancang sebagai ruang belajar yang tidak menekan, tetapi menguatkan.
Sebagai bentuk kepedulian, para peserta juga menerima bingkisan paket sembako. Namun lebih dari itu, mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesempatan untuk kembali menjadi “pembelajar”.
Ketua Takmir Masjid Al Latif, Arwin Zamili, melihat program ini sebagai penguatan fungsi edukatif masjid.
“Masjid harus menjadi pusat pembelajaran umat, termasuk bagi lansia,” katanya.
Dalam perspektif pendidikan, masjid bukan sekadar ruang ibadah, tetapi juga ruang transformasi. Ia menghadirkan proses belajar yang kontekstual, berbasis kebutuhan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Model pembelajaran dalam TPA Lansia ini dirancang secara bertahap. Peserta tidak dituntut untuk mencapai standar tertentu dalam waktu singkat.
Mereka belajar sesuai ritme masing-masing—mulai dari mengenal huruf, membaca perlahan, hingga memahami tajwid dasar.
Penyuluh agama dijadwalkan hadir dua kali dalam sebulan untuk memberikan pendampingan. Namun, proses belajar sejatinya berlangsung setiap kali mereka bertemu. Interaksi antarpeserta menjadi bagian penting dari pengalaman belajar itu sendiri.
Di sinilah nilai pendidikan sosial muncul. Para lansia tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga membangun jejaring sosial, berbagi pengalaman, dan saling memotivasi.
Program ini memperlihatkan bahwa pendidikan tidak harus selalu hadir dalam ruang kelas formal. Ia bisa tumbuh di serambi masjid, di tengah komunitas, dan dalam suasana yang hangat.
Lebih dari sekadar program keagamaan, TPA Lansia adalah praktik nyata pendidikan inklusif—yang membuka akses bagi siapa saja, tanpa batas usia.
Di tengah tantangan pendidikan yang sering berfokus pada generasi muda, kehadiran program ini menjadi pengingat: bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup.
Dan di Masjid Al Latif, perjalanan itu kini dimulai kembali—pelan, sederhana, tetapi penuh makna.
TEKS / FOTO : RELEASE KUA AAL | EDITOR : NEWSROOM

