Lima tahun sekali, Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan menggelar musyawarah besar. Agustus mendatang, giliran Palembang menjadi tuan rumah. MUI Muara Enim bersiap hadir — membawa suara, harapan, dan gagasan.

MUARA ENIM || DEWANTARA.id — Surat itu datang pertengahan Juni. Berkop resmi Dewan Pimpinan MUI Provinsi Sumatera Selatan, bernomor A-14/MUI-SS/VI/2026, tertanggal 15 Juni 2026. Isinya singkat namun sarat makna: undangan kepada seluruh MUI Kabupaten/Kota se-Sumatera Selatan untuk hadir dalam Musyawarah Daerah XI, 7–9 Agustus 2026, di Asrama Haji Jalan Tanjung Siapi-api, Palembang.
Bagi Dr. KH. Solihan, M.Pd.I, Ketua MUI Kabupaten Muara Enim, surat itu bukan sekadar undangan biasa. Ini panggilan konsolidasi. Sebuah momentum lima tahunan yang, menurutnya, tidak boleh dilewatkan begitu saja.
“MUSDA XI bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan,” ujar KH Solihan dengan nada serius. “Ini forum strategis. Tempat kita memperkuat sinergi ulama dan umaro dalam menjawab tantangan umat di masa depan.”
Rumah Besar yang Harus Dijaga
Di ruang kerjanya di Muara Enim, KH Solihan berbicara panjang soal peran MUI yang kian kompleks. Di satu sisi, lembaga ini adalah pelayan umat — hadir di tengah persoalan masyarakat, dari isu kehalalan hingga kerukunan antarumat beragama. Di sisi lain, MUI juga dituntut menjadi mitra cerdas pemerintah dalam pembangunan daerah.
Dua peran itu, kata dia, tak boleh saling meniadakan.
“MUI harus terus menjadi rumah besar umat. Menjaga kesejukan, merawat persaudaraan, dan menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah,” ucapnya.
Kalimat itu bukan retorika kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, MUI Muara Enim memang aktif terlibat dalam berbagai isu lokal — dari moderasi beragama hingga pendampingan sosial kemasyarakatan. KH Solihan sadar, tantangan ke depan hanya akan semakin berlapis.
Tema yang Tak Sekadar Slogan
MUSDA XI MUI Sumsel tahun ini mengusung tema yang cukup panjang namun substantif: “Optimalisasi Peran MUI Sebagai Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah dalam Memperkuat Sinergitas Ulama dan Umaro Menuju Sumsel Religius.”
Bagi KH Solihan, tema itu bukan hiasan seremonial. Relevansinya terasa nyata, terutama di era ketika kepercayaan publik terhadap institusi keagamaan kerap diuji.
“Masyarakat membutuhkan kolaborasi yang kuat antara ulama, pemerintah, dan seluruh elemen bangsa. Bukan persaingan. Bukan jarak. Tapi kerja bersama yang berorientasi pada kemaslahatan umat,” tegasnya.
Jadwal dan Teknis Kehadiran
Secara teknis, setiap MUI Kabupaten/Kota diminta mengirimkan tiga orang peserta inti: Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum — lengkap dengan surat tugas atau mandat resmi dari daerah masing-masing.
Registrasi dijadwalkan pada Jumat, 7 Agustus 2026, pukul 13.00–15.00 WIB. Malam harinya, tepat pukul 19.30 WIB, pembukaan MUSDA XI akan digelar di Griya Agung Palembang — dan direncanakan dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan.
Panitia provinsi menyiapkan akomodasi dan konsumsi selama kegiatan. Namun transportasi dari dan ke daerah menjadi tanggung jawab masing-masing peserta. Konfirmasi kehadiran paling lambat 5 Agustus 2026.
Delegasi Muara Enim Diminta Siap
KH Solihan menegaskan, MUI Muara Enim tidak akan hadir sekadar memenuhi kuota peserta. Ia ingin delegasinya datang dengan kesiapan penuh — pikiran, gagasan, dan komitmen.
“Kami berharap delegasi MUI Muara Enim dapat berkontribusi secara maksimal. Sehingga lahir gagasan-gagasan konstruktif dan kepemimpinan yang mampu membawa MUI Sumsel semakin adaptif, responsif, dan dekat dengan kebutuhan umat,” pungkasnya.**
Teks : Imron Supriyadi | Editor : Newsroom/Essa | Foto : Google Image
