
Ketika pertama kali kamera ditemukan, banyak orang khawatir seni lukis akan mati. Ketika televisi hadir, orang meramalkan bioskop akan tamat. Saat internet berkembang, muncul keyakinan bahwa buku akan kehilangan pembacanya. Namun sejarah menunjukkan sesuatu yang berbeda. Teknologi tidak pernah benar-benar membunuh seni. Ia hanya mengubah cara manusia berkarya dan bercerita.
Hari ini dunia perfilman kembali memasuki persimpangan sejarah. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah mengguncang hampir seluruh tahapan produksi film, mulai dari penulisan naskah, pembuatan storyboard, desain karakter, efek visual, hingga penciptaan film yang hampir sepenuhnya dihasilkan oleh mesin.
Bahkan pada tahun 2026, sebuah film panjang berbasis AI berjudul “Dreams of Violets” berhasil masuk ke Festival Film Tribeca di Amerika Serikat dengan biaya produksi yang dikabarkan hanya sekitar dua ribu dolar Amerika. Atau sekitar Rp 35.558.600,00. Angka yang sangat kecil dibanding biaya produksi film konvensional yang bisa mencapai jutaan dolar, ratusan bahkan miliaran.
Alarm dan Revolusi dunia film?
Bagi sebagian orang, ini adalah revolusi. Namun bagi sebagian lainnya, ini adalah alarm yang mengkhawatirkan. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI dapat membuat film. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah AI dapat menggantikan jiwa manusia dalam sebuah film?
Film itu Peristiwa batin
Film pada hakikatnya bukan sekadar gambar bergerak. Film adalah peristiwa batin. Ia lahir dari pengalaman, luka, harapan, cinta, dan pergulatan manusia. Sebuah adegan sederhana ketika seorang ibu menunggu anaknya pulang dari perantauan sering kali lebih menyentuh daripada ledakan visual yang spektakuler. Sebab yang berbicara bukan teknologi, melainkan rasa.
Di sinilah letak kekuatan film konvensional. Aktor manusia membawa pengalaman hidup yang tidak dapat disalin sepenuhnya oleh algoritma. Tatapan mata, jeda dalam dialog, bahkan kesunyian dalam sebuah adegan, sering kali mengandung makna yang hanya dapat lahir dari pengalaman manusia.
memangkas biaya produksi
Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap manfaat AI. Teknologi ini membuka peluang yang sebelumnya sulit dijangkau oleh komunitas kreatif daerah.
Film sejarah yang dahulu membutuhkan biaya miliaran rupiah kini dapat direkonstruksi dengan biaya yang jauh lebih rendah. Kota Palembang abad ke-19, kapal-kapal dagang di Sungai Musi, atau suasana dakwah para ulama tempo dulu dapat divisualisasikan tanpa harus membangun set yang mahal. Berbagai laporan industri menunjukkan bahwa penggunaan AI mampu memangkas biaya produksi secara signifikan dibanding metode konvensional.
Bagi generasi muda, terutama Gen-Z, perkembangan ini terasa sangat menarik. Mereka tumbuh dalam budaya digital yang cepat, visual, dan eksperimental. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan apakah sebuah karakter dibuat oleh kamera atau komputer. Yang mereka cari adalah pengalaman yang unik, cerita yang menarik, dan visual yang memikat.
film yang miskin makna
Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan. Generasi Z memang menyukai teknologi, namun mereka tetap menghargai keaslian. Mereka dapat menerima visual AI, tetapi mereka akan segera meninggalkan film yang miskin makna. Teknologi dapat menarik perhatian, tetapi hanya cerita yang mampu mempertahankan perhatian.
Karena itu saya melihat masa depan perfilman bukanlah pertarungan antara film AI dan film konvensional. Masa depan justru berada pada titik temu keduanya.
alat bantu kreatif
Teknologi AI seharusnya menjadi alat bantu kreatif, bukan pengganti manusia. Sutradara tetap manusia. Penulis tetap manusia. Aktor tetap manusia. AI hadir untuk membantu mewujudkan hal-hal yang sulit dilakukan secara teknis.
Pendekatan inilah yang mulai banyak dibicarakan oleh para praktisi perfilman dunia. AI digunakan untuk memperkuat proses kreatif, bukan menggantikannya.
kendali para seniman
Bahkan berbagai pengamat perfilman menilai bahwa hasil terbaik justru lahir ketika teknologi digunakan dalam kendali para seniman yang memahami bahasa sinema dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks Indonesia, terutama untuk film-film sejarah dan budaya, pendekatan hibrida ini sangat menjanjikan. Kita dapat memanfaatkan AI untuk merekonstruksi masa lalu, menghadirkan kembali situs sejarah, atau menggambarkan peristiwa yang tidak memiliki dokumentasi visual. Namun pesan moral, nilai budaya, dan ruh cerita tetap harus lahir dari manusia.
Karena pada akhirnya, film bukan sekadar soal teknologi yang digunakan. Film adalah tentang apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.
manusia memberi makna
Mesin mungkin mampu menciptakan gambar yang indah. Tetapi hanya manusia yang mampu memberi makna pada gambar itu. Dan selama manusia masih memiliki kenangan, cinta, harapan, serta doa-doa yang ingin disampaikan kepada sesamanya, maka film akan tetap menjadi ruang kemanusiaan yang tidak pernah sepenuhnya dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.*
Palembang, 14 Juni 2026

