
Sore itu tidak benar-benar sunyi. Di Muara Enim, suara mesin dari perut bumi—tambang batu bara—seperti dengung yang tak selesai. Langit menggantung, lembayungnya tipis, seperti ditahan agar tak lekas gelap.
Di serambi sebuah pesantren, seorang lelaki duduk dengan kopi yang sudah kehilangan uapnya. Ia tidak tergesa-gesa. Seolah waktu bukan sesuatu yang harus dikejar, melainkan ditemani.
“Dakwah itu seperti menanam padi di tepi sungai,” katanya, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Kadang tenggelam, kadang kering. Tapi kalau niatnya lillah, ia akan tumbuh.”
Ia tidak sedang mengutip siapa-siapa. Ia sedang mengingat hidupnya.
Namanya Muhammad Imron Supriyadi.
Ada masa ketika hidup ditentukan oleh suara yang berulang. Bagi Imron kecil, suara itu adalah lantunan mengaji dari rumahnya di Magelang. Ayahnya, Abdul Salam, bukan sekadar orang tua. Ia adalah disiplin yang hidup.
Di rumah itu, agama tidak diajarkan sebagai teori. Ia hadir dalam kebiasaan—bahkan dalam jeda antara permainan.
Di halaman, meja tenis menjadi pusat keramaian. Anak-anak tertawa, bola memantul cepat. Tapi semua itu punya batas: azan.
Ayahnya tak banyak bicara. Ia hanya berdiri di ambang pintu, dengan sarung dan peci. Diam. Tapi diam itu seperti perintah yang tak bisa ditawar.
Permainan berhenti.
Yang lambat bergerak, akan mengerti sendiri risikonya.
“Kalau kamu mau rusak, rusak sendiri,” kata Abdul Salam suatu ketika. “Jangan ikut merusak anak-anak di sini.”
Kalimat itu bukan ancaman. Ia semacam garis. Dan garis itu tidak pernah kabur.
Di kamar Imron, kaset-kaset ceramah menggantikan lagu. Nama yang sering terdengar: Zainuddin MZ. Suara itu mengalir dari tape kecil, menembus dinding, bercampur dengan bunyi bola pingpong.
Agama, dalam hidupnya, bukan sesuatu yang datang belakangan. Ia sudah ada sebelum ia sempat memilih.
Tapi hidup, seperti sungai, tak selalu mengikuti arah yang kita duga.
Pesantren di Sukoharjo memberi Imron pengalaman pertama berdiri di depan orang banyak. Ia belum fasih, belum percaya diri. Tapi suatu pagi di bulan Ramadhan, ia diminta naik mimbar.

Hanya beberapa menit. Dengan teks di tangan.
Namun di kampungnya, peristiwa kecil itu berubah menjadi cerita.
Seorang ibu menangis. Warga berbisik. Ada harapan yang mulai dititipkan diam-diam.
Barangkali sejak saat itu, orang-orang mulai melihat sesuatu yang belum tentu ia lihat sendiri.
Palembang memberinya ruang yang berbeda. Ia datang sebagai mahasiswa. Ia tumbuh sebagai pencari.
Di kampus, ia melihat ketakutan yang aneh: mahasiswa takut bicara. Takut berdiri. Takut menyampaikan.
Ia gelisah.
Dan dari kegelisahan itu, lahir sesuatu yang sederhana—forum kecil, latihan berbicara, yang kemudian dikenal sebagai Muhadloroh Jumat Pagi.
Tak ada yang mewah. Hanya ruang, suara, dan keberanian yang dipaksa tumbuh.
Di situ, dakwah berubah bentuk. Ia bukan lagi sekadar ceramah, tapi proses menjadi.
Imron tidak berhenti di sana. Ia masuk ke teater. Bukan untuk lari, tapi untuk menemukan bahasa lain.
“Dakwah bisa lewat lakon,” katanya suatu ketika. “Kalau kata-kata tak cukup.”
Barangkali ia benar. Sebab hidup sendiri sering kali lebih dekat pada drama daripada khotbah.
Lalu datang api.
Kontrakan kecilnya terbakar. Skripsi yang belum selesai ikut hangus. Seperti ada yang diputus paksa.
Ia pulang. Tapi tidak lama.
Palembang memanggilnya kembali—kali ini bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai bagian dari jalanan.
Ia bersama tukang becak, buruh kecil, orang-orang yang jarang masuk berita. Ia mengajar ngaji, menulis buletin, dan ikut dalam gerakan sosial.
“Becak itu bukan sekadar alat,” katanya. “Di situ ada martabat.”
Tapi idealisme, seperti biasa, punya harga. Sebuah demonstrasi. Kerusakan. Lalu penjara.

Di sana, ruang menjadi sempit. Tapi mungkin justru karena itu, pikiran menjadi luas.
“Penjara bukan akhir,” katanya kemudian. “Kadang itu jeda.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Mungkin memang tidak semua hal perlu dijelaskan.
Tanjung Enim adalah bab lain.
Ia datang sebagai konsultan radio. Tapi seperti biasa, hidupnya tak berhenti di pekerjaan.
Masjid menjadi tempat ia kembali dikenali. Dari satu ceramah, lalu rutin. Dari satu jamaah, lalu banyak.
Ia membangun komunitas dai. Menghidupkan teater. Mengajak orang berbicara, mendengar, dan—barangkali—merenung.
Dakwah, di sini, tidak besar. Tapi ia mengakar.
Dan yang mengakar, biasanya bertahan.
Ada masa ketika ia merasa memiliki tempat tetap. Rumah tahfidz. Santri. Ruang untuk membangun.
Lalu semuanya hilang.
Rumah itu diminta kembali. Ia harus pergi. Membawa anak-anak yang tak punya banyak pilihan.
Ia tidak melawan. Ia tidak juga menyerah.
Ia memulai lagi.
Dengan nama baru. Tempat baru. Dan cara lama: menerima siapa saja, tanpa biaya.
Untuk hidup, ia membuka warung kopi.
Barangkali di situlah dakwah menemukan bentuknya yang paling jujur: bertahan tanpa jaminan.
“Yang tersisa hanya niat,” katanya.
Dan mungkin, itu memang cukup.
Kini ia kembali ke pesantren.
Bukan sebagai murid. Tapi sebagai orang yang pernah berjalan jauh, lalu memilih pulang.
Di Laa Roiba, ia mengajar. Membentuk khatib. Melatih berbicara. Menghidupkan teater lagi.
Ada rencana membuka pesantren baru. Ada program yang terus disusun.
Tapi jika ditanya apa yang sebenarnya ia cari, jawabannya tetap sederhana.
“Dakwah itu perjalanan.”
Ia tidak tampak seperti orang yang ingin sampai. Ia lebih seperti orang yang tahu bahwa sampai bukan tujuan.
Sore makin gelap. Kopi di tangannya sudah dingin sejak tadi.
Ia tidak meminumnya lagi.
Mungkin karena ia tahu: tidak semua yang dingin harus dihangatkan kembali.
Ia menatap langit, lalu berkata pelan, hampir seperti kesimpulan yang tak ingin disimpulkan:
“Kalau dakwah membuatmu lapar… mungkin kamu sedang di jalan yang benar.”
Kalimat itu tidak mengajak. Tidak juga memaksa.
Ia hanya ada—seperti sore itu, seperti hidupnya: berjalan, tanpa banyak suara, tapi tak pernah benar-benar berhenti.**
Teks : Ahmad Maulana | Editor : Warman P


